Lamine Yamal Mulai Masuk Zona Lionel Messi, Perbandingan Keduanya Tak Terelakkan

Lamine Yamal mendekati zona Lionel Messi. Perbandingannya tidak mungkin diabaikan.

Bola.com, Jakarta - Perbandingan dengan Lionel Messi sudah mengikuti Lamine Yamal sejak pemain muda Barcelona itu mencuri perhatian.

Kendati kerap dianggap tidak adil bagi seorang pemain yang masih remaja, kemiripan perjalanan keduanya kini makin sulit diabaikan.

Jika melihat perkembangan karier Yamal, titik pembanding dengan Messi mulai terasa kian relevan. Bahkan, pencapaian Yamal pada usia yang sama berada beberapa langkah di depan Messi.

Planet Football menulis, Messi sudah menunjukkan kualitas luar biasa sebelum Pep Guardiola menangani Barcelona pada musim panas 2008.

Saat itu, pemain asal Argentina tersebut telah merasakan gelar Liga Champions, mengoleksi beberapa trofi liga, dan finis sebagai runner-up Ballon d'Or 2008 di bawah Cristiano Ronaldo.

Bakat Messi sebenarnya sudah terlihat jauh sebelumnya. Satu di antara contohnya ketika Asier del Horno memilih melakukan pelanggaran keras untuk menghentikannya dalam pertandingan Liga Champions saat Messi masih remaja.

Performa Messi di La Liga dan kesaksian Ronaldinho mengenai dirinya juga memperlihatkan bahwa Barcelona memiliki talenta istimewa.

Messi bahkan mulai disebut-sebut sejajar dengan nama besar seperti Ronaldo Nazario dan Diego Maradona.

Pada musim 2007/2008, Messi mencetak 13 gol dan 16 assist untuk Barcelona yang hanya finis di posisi ketiga La Liga tanpa meraih trofi.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Menuju Fase Serupa?

Kedatangan Guardiola kemudian menjadi titik perubahan besar. Pada musim 2008/2009, Messi berkembang menjadi pemain yang sulit dihentikan dan menjadi bintang utama Barcelona ketika mereka meraih treble.

"Messi adalah pemain terbaik di dunia dengan jarak yang jauh, dia nomor satu," ujar Xavi Hernandez menjelang final Liga Champions 2009, dikutip dari Planet Football.

Xavi juga menegaskan tidak ada pemain lain yang bisa dibandingkan dengan Messi karena menurutnya hal itu justru akan merugikan pemain tersebut. Ia bahkan menyebut tidak akan menukar Messi dengan pemain mana pun.

Perkembangan Yamal kini mengarah pada fase yang serupa. Pemain jebolan La Masia itu bahkan memiliki sejumlah pencapaian yang lebih cepat dibandingkan Messi ketika berada pada usia yang sama.

Yamal telah memenangkan Piala Eropa dan Piala Dunia, sekaligus memainkan peran penting dalam dua keberhasilan Barcelona meraih gelar La Liga secara beruntun.

Penampilannya ketika menghadapi Inter Milan pada semifinal Liga Champions, saat masih berusia 17 tahun, juga memberikan kesan luar biasa.

Catatan Statistik

Performa tersebut mengingatkan pada aksi Messi ketika mencetak hattrick pertamanya dalam karier saat menghadapi Real Madrid.

Yamal juga sudah pernah finis sebagai runner-up Ballon d'Or. Giovanni van Bronckhorst bahkan pernah menyebut pemain kelahiran 13 Juli 2007 tersebut memiliki kualitas untuk memenangkan penghargaan itu.

"Dia punya kualitas untuk memenangkan Ballon d'Or. Pertanyaannya adalah kapan dia akan memenangkannya," kata Van Bronckhorst.

Meski demikian, masih ada perbedaan pencapaian Yamal dan produktivitas yang biasanya melekat pada pemain terbaik dunia. Di Piala Dunia 2026, misalnya, Yamal hanya mencetak satu gol.

Catatan statistiknya memang bagus, bahkan sangat menonjol untuk pemain seusianya. Namun, angka tersebut masih berada di bawah catatan Messi pada masa terbaiknya maupun para bintang seperti Harry Kane dan Kylian Mbappe.

Yamal juga belum rutin mencetak gol atau assist setiap pekan.

Situasi itu mulai berubah pada musim ini. Tiga brace dalam tiga pertandingan La Liga menjadi indikasi Yamal sedang mengalami perkembangan besar dalam produktivitasnya.

Statistik memang tidak selalu mampu menggambarkan keistimewaan seorang pemain. Namun, pada sepak bola modern, penilaian performa tetap bisa menjadi salah satu tolok ukur.

Konsistensi Luar Biasa

Messi, misalnya, selalu mencatat rata-rata rating di atas 8,00 menurut WhoScored dalam setiap musim sejak 2009/2010 hingga 2020/2021.

Selama 12 tahun, angka tersebut menjadi gambaran konsistensi luar biasa yang juga terlihat dari penampilannya di lapangan.

Sebagai perbandingan, hanya satu pemain di seluruh La Liga yang mencatat rata-rata di atas 8,00 pada musim lalu, yakni Yamal dengan skor 8,23.

Angka itu bahkan masih berada di bawah rating terendah Messi sepanjang periode tersebut, yakni 8,34 pada musim 2013/2014.

Musim ini, Yamal mencatat rating 7,87, 10, 9,89, dan 8,69 dalam empat pertandingan La Liga. Rata-ratanya mencapai 8,63. Ia juga mendapatkan rating sempurna 10 ketika menghadapi Feyenoord di Liga Champions.

Angka-angka tersebut membuat Yamal mulai berada di zona yang sebelumnya identik dengan Messi.

Tunjukkan Perkembangan

Tentu, musim masih panjang dan terlalu dini untuk menarik kesimpulan lebih jauh. Situasi Barcelona saat ini juga berbeda dengan ketika Guardiola datang dan membawa perubahan taktik besar.

Namun, Yamal terus menunjukkan perkembangan.

Chemistry-nya dengan Raphinha dan Fermin Lopez makin terbentuk, sementara kehadiran pemain seperti Rodri diharapkan membuat Barcelona lebih kuat sekaligus memberikan fondasi bagi Yamal untuk tampil makin menonjol.

Bagaimana musim ini akan berakhir masih harus ditunggu.

Namun, ketika Yamal terus tampil gemilang dan Barcelona berkali-kali mencetak empat atau lima gol dalam pertandingan, perasaan yang muncul mulai menyerupai sensasi ketika Messi menjadi pusat perhatian di era Guardiola.

Ada kesan, sesuatu yang istimewa dan bersejarah sedang mulai terbentuk di depan mata.

 

Sumber: Planet Football

Video Populer

Foto Populer