Ketika Luis Suarez Kembali Bergembira di Lapangan

oleh Erwin Fitriansyah diperbarui 03 Agu 2015, 12:15 WIB
Kolom : Erwin Fitriansyah

Bola.com, Barcelona - Striker Barcelona, Luis Suarez, merengkuh sukses besar musim lalu. Datang sebagai newbie di tim asal Catalan itu, ia meraih gelar treble, yakni Copa del Rey, Liga Spanyol, dan Liga Champions. Sesuatu yang tak mudah didapat oleh pemain manapun di musim pertamanya bersama klub baru.

Striker timnas Uruguay, yang kini berusia 28 tahun itu, tak meraih sukses itu dengan mudah. Jatuh bangun, rasa frustrasi, hingga niat berhenti main sempat dialami olehnya.

Advertisement

Ia lahir di Salto, kota kecil di Uruguay yang terletak di sebuah sungai dekat perbatasan Argentina. Bapaknya, Rodolfo, adalah seorang buruh. Sementara ibunya, Sandra, hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Suarez kecil harus berbagi dengan enam saudaranya dalam segala hal.

Sejak kecil, seperti umumnya anak-anak di Amerika Latin, Suarez gemar bermain sepak bola. Taman dan jalanan menjadi tempatnya bermain. Saat Suarez berusia enam tahun, Rodolfo memboyong keluarganya ke ibu kota Uruguay, Montevideo. “Waktu pindah ke Montevideo, kami mulai mencari tim sepak bola buatnya,” ucap Sandra, ibu Suarez, seperti dikutip di Dailymail.

Sang ibu kemudian mendengar kabar soal Urreta, sebuah klub yang diisi oleh anak-anak orang kaya. Ia kemudian membawa putranya ke sana, beberapa hari setelah mencari info soal Urreta. “Luis menjadi pemain cadangan di sebuah pertandingan uji coba. Tim sedang tertinggal 0-2 ketika ia masuk. Di akhir pertandingan, skor berbalik 3-2. Luis mencetak hattrick,” kenang Sandra.

Pada tahun 1998, talenta Suarez diendus Wilson Pirez, seorang pemandu bakat dari salah satu klub paling sukses di Uruguay, Nacional. “Saya melihatnya saat berumur sembilan tahun, bermain bersama teman sebaya. Ia punya kemampuan luar biasa buat anak seusia itu. Anak yang luar biasa, sopan, dan saya langsung tahu kalau suatu saat dia akan menjadi pemain hebat,” kata Pirez

Setelah bergabung dengan Nacional, kemampuan Suarez makin berkembang. Jalan menuju sukses terbentang di hadapannya. Namun kekecewaan besar dalam hidup datang untuk kali pertama. Sang bapak, Rodolfo, pergi meninggalkan keluarga tanpa alasan jelas. Suarez kecewa berat dan frustrasi. Ia memutuskan berhenti berlatih sepak bola saat itu.

“Kehidupan keluarga menjadi sangat berat ketika orang tua saya berpisah. Saya tak bisa berkonsentrasi. Makanya saya memutuskan berhenti main bola,” kata Suarez.

“Hidup memang berat buatnya saat itu. Secara mental, ia belum siap untuk menjadi pemain sepak bola. Tapi, masa kecil yang keras membuatnya jadi sosok yang selalu lapar akan kesuksesan, hingga kini,” kata Pirez.

Setelah pensiun sementara, Suarez akhirnya memutuskan kembali berlatih. Butuh waktu buatnya untuk mendapatkan tempat starter di tim junior Nacional. Ia bisa bertahan dari pesta dan minuman keras, godaan yang biasa dihadapi remaja seusianya. Suarez tetap rajin latihan di siang hari. Saat malam, ia menekuni matematika, pelajaran yang disukainya.

Kekecewaan kedua kemudian datang dari wanita bernama Sofia Balbi. Suarez mengenalnya saat berusia 15 tahun. Hingga sekarang, Sofia yang kini menjadi pasangan hidup, adalah salah satu orang yang bisa menenangkan Suarez, selain ibu dan neneknya. “Dia membuatku sadar betapa pentingnya sepak bola buatku,” kata Suarez soal Sofia.

Pirez kemudian mengenang. Saat sesi latihan, Sofia yang berusia dua tahun lebih muda sering hadir buat menonton. Suarez selalu bersemangat jika ditonton Sofia. “Klub tak memberi banyak uang buatnya. Tapi, Suarez selalu bisa mengumpulkan uang dan bersama Sofia, ia membeli makanan buat dinikmati bersama,” kata Pirez.

Namun, cerita indah itu berakhir pada 2003. Sofia harus pindah ke Barcelona, mengikuti keluarganya. Sama ketika saat ditinggal sang bapak, hati Suarez hancur. Ia kembali memutuskan buat berhenti bermain.

Hanya, rasa frustrasi itu tak lama. Suarez sadar, supaya bisa kembali bertemu Sofia, ia harus bermain di Eropa. Setelah memutuskan kembali bermain, ia menggila. Pada laga pertama saat Nacional menghadapi San Eugenio, Suarez yang masuk dari bangku cadangan mencetak empat gol. Hasratnya mencetak gol sungguh luar biasa. Bahkan ketika Nacional menang dengan skor 3-0, Suarez tetap menangis sedih di kamar mandi. Penyebabnya adalah karena ia tak mencetak gol.

Pada akhir musim 2006, Suarez mengoleksi 10 gol dari 27 laga Nacional. Hal itu membuat mimpinya kembali bertemu Sofia terkabul. Sebuah tawaran bergabung dengan klub Belanda, Groningen, datang.

“Kami butuh pemain dan Luis menarik perhatian klub. Kami tergila-gila padanya dan memutuskan untuk membelinya secepat mungkin. Nilai transfer Luis adalah salah satu yang termahal dalam sejarah klub. Sebuah perjudian, tapi pada akhirnya memang kami tak salah,” kata Rob Jans, bekas pelatih Groningen.

Saat itu, Groningen mengeluarkan duit sebesar 800 ribu Euro (sekitar Rp 14 miliar). Jadilah Suarez memulai petualangan baru di Eropa.

“Saya berpikir pemilik klub sudah gila karena mendatangkan pemain tak dikenal dengan nilai sebesar itu. Saat datang, ia tak bisa berbahasa Inggris, apalagi Belanda. Untuk berkomunikasi dengannya harus menggunakan bahasa tangan dan badan. Tapi, sekali dia mengerti apa yang kami inginkan di lapangan, dia akan tampil luar biasa setiap minggu,” kata Erik Nevland, eks rekan duet Suarez di Groningen.

Suarez kembali bersemangat, karena bisa kembali bertemu dengan Sofia. Tak lama setelah Suarez tinggal di Belanda, Sofia menyusul. Hasilnya luar biasa. Ia hanya bertahan semusim di Groningen. Raihan 10 gol dari 29 pertandingan membuat klub raksasa Belanda, Ajax, meminangnya.

Setelah bertahan selama selama empat musim di Ajax, giliran klub Inggris, Liverpool, yang menjadi rumah Suarez pada 2011-2014. Bersama Ajax dan Liverpool, sebelum bergabung bersama Barcelona, Suarez merajut dan meraih sukses.

KONTROVERSI

Namun di balik sukses itu, Suarez juga penuh kontroversi. Menggigit lawan adalah kebiasaan memalukan yang paling mudah diingat dari Suarez. Akibat kebiasaan itu, ia sering dihukum skorsing dan denda.

Gigitan pertama dilakukan saat ia masih berkosstum Ajax pada 2010. Korbannya adalah Ottman Bakal, pemain PSV. Lalu yang kedua ketika ia bermain buat Liverpool pada 2013. Kali ini korbannya adalah bek Chelsea, Branislav Ivanovic. Kedua peristiwa itu terjadi di kompetisi Liga Belanda dan Inggris.

Saat di Liverpool, ia juga pernah dihukum karena kasus rasialisme ke bek Manchester United, Patrice Evra. Suarez harus absen delapan pertandingan karena dinyatakan bersalah. Aksi gigit dan tindakan kontroversial Suarez tak hanya berlangsung kala membela klub.

Korbannya yang ketiga adalah bek timnas Italia, Giorgio Chiellini. Tak tanggung-tanggung, kejadian gigit itu berlangsung di pentas Piala Dunia Brasil 2014. Ia lolos dari hukuman kartu di laga itu. Namun, penyelidikan lanjutan atas kasus tersebut berakibat berat.

Suarez dihukum tak boleh main di laga kompetitif selama empat bulan. Ia juga tak boleh main di timnas sebanyak sembilan laga. Tak hanya itu, ia juga dilarang masuk ke stadion di Piala Dunia 2014, bahkan hanya untuk menemani berlatih rekan-rekannya di timnas. Uruguay lolos ke babak kedua, namun Suarez harus pulang lebih cepat karena efek hukuman tersebut.

Pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010, Suarez sebetulnya sudah membuat kesal banyak orang. Saat Uruguay menghadapi Ghana di babak perempatfinal, Suarez sengaja menahan bola yang hendak masuk ke gawang dengan tangannya pada babak perpanjangan waktu. Ia dikartu merah dan Uruguay dihukum penalti.

Apes buat Ghana, Asamoah Gyan gagal melaksanakan tugas. Suarez yang sudah keluar lapangan terlihat merayakan kegembiraan melihat Gyan gagal. Pada akhir laga, Ghana akhirnya jadi pecundang lewat babak adu penalti. Suarez dianggap pahlawan di Uruguay, namun hingga kini ia pasti akan diingat sebagai lawan yang paling menyebalkan oleh Ghana.

Sederet kontroversi itu menjadi makanan empuk media Inggris yang memang terkenal nyinyir. Awalnya Suarez tahan. Namun, belakangan ia mulai kesal dijadikan sasaran tembak kritik pers yang nyinyir dan usil. Apalagi Liverpool selalu gagal meraih gelar juara Liga selama dibela Suarez.

Puncaknya adalah saat The Reds gagal, meski sudah hampir menjadi juara dua musim yang lalu. Ditambah lagi dengan hukuman FIFA selama empat bulan pasca menggigit Chiellini, terbukalah pintu keluar Suarez menuju Barcelona.

Pindah ke Barcelona bukan berarti hidupnya langsung jadi mudah. Ia harus menunggu masa hukuman FIFA habis. Lantaran tak bermain di laga kompetitif resmi, tak heran kalau badan Suarez terlihat melar saat ia tampil bersama Barcelona B menghadapi timnas U-19 Indonesia. Kala itu Evan Dimas cs. sedang bersiap tampil di Piala Asia U-19 2014.

Setelah bisa kembali tampil, ia harus beradaptasi untuk bekerja sama dengan Lionel Messi dan Neymar. Mereka adalah superstar Barca asal Argentina dan Brasil, yang merupakan seteru berat Suarez kalau tampil bersama Uruguay. Suarez memang menjadi raja di lini depan Liverpool dan klub-klub yang dibela sebelumnya. Namun di Barca, Messi adalah raja di raja. Belum lagi Neymar yang lebih dulu tiba di Barcelona.

Pada kenyataannya, Suarez bisa beradaptasi. Ia kembali menemukan kegembiraan kala bermain. Sesuatu yang mungkin tak lagi didapat di Liverpool. Ia tampil dalam 43 pertandingan, mencetak 25 gol dan 21 umpan berbuah gol. Ia dijuluki El Pistolero karena melepas 128 tendangan ke gawang, 59 di antaranya tepat sasaran.

“Meraih treble adalah hal yang sulit. Saya tak pernah membayangkan meraih hal itu di musim pertama bersama klub sebesar Barcelona,” kata Suarez setelah Barca menang 3-1 atas Juventus di final Liga Champions 2015.

Pada turnamen pramusim International Champions Cup 2015, Suarez harus bermain tanpa Neymar dan Messi yang sedang istirahat setelah tampil di Copa America 2015. Ia mencetak tiga gol dalam empat laga, namun Barca menelan tiga kekalahan dalam tiga laga tersebut. Meski Barca kalah, ia membuktikan dirinya tetap tajam.

Terakhir, gol disumbangkan Suarez ketika Barcelona kalah 1-2 dari Fiorentina kala menyambangi Stadion Artemio Franchi, Senin (3/7/2015). Tanpa Messi dan Neymar, Barcelona kembali gagal menang. Tapi Suarez lagi-lagi tetap bisa mencetak gol.

“Suarez adalah idola di seluruh Uruguay. Tak heran kalau suatu saat namanya dijadikan nama salah satu stadion di Uruguay. Kapanpun Suarez kembali ke sini, ia selalu mau bermain, mengunjungi tim junior, dan membagi pengalamannya di Eropa. Hal itu tak ternilai. Kami menjadi fans Liverpool karena dirinya,” kata Gustavo Bueno, staf pelatih Nacional, klub awal Suarez di Uruguay.

Buat sebagian orang, seperti fans Ghana, Suarez mungkin akan menjadi figur yang selalu dibenci. Tapi buat fans Barca, Liverpool, Groningen, atau Ajax, terlebih Uruguay, ia akan selalu jadi pahlawan. Sampai kapanpun, Suarez mungkin akan diingat sebagai tukang gigit. Namun, prestasi bersama Barca musim lalu setidaknya mengindikasikan ia telah insyaf dan melepas predikat sebagai tukang gigit. Setidaknya buat sementara. @erwinfitri