Wawancara Hayden: Momen Terburuk, Kenangan Juara, dan Superbike

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 22 Nov 2015, 17:40 WIB
Pebalap Amerika Serikat, Nicky Hayden, mengaku antusias menjalani petualangan barunya di ajang Super Bike. Dia telah merampungkan tes pertama di Aragon, Spanyol, pekan ini. (EPA/Fazry Ismail)

Bola.com, - Pebalap asal Amerika Serikat, Nicky Hayden, resmi meninggalkan ajang MotoGP di akhir musim 2015. Setelah 13 tahun malang melintang di ajang balap motor Moto, Juara Dunia MotoGP 2006 itu bakal memulai petualangan baru di arena Superbike.

Tes pertama sudah berhasil dilalui pria berusia 34 tahun tersebut. Hayden sudah menjajal motor barunya Honda CBR1000RR pada cuaca dingin dan basah di Sirkuit Aragon, Spanyol, pekan ini.  

Advertisement

Seperti apa antusiasme Hayden menyambut tantangan di Superbike? Bagaimana dia memaknai kariernya di ajang MotoGP?

Inilah wawancara dengan Hayden, seperti dilansir Cycle World, Sabtu (21/11/2015).

Antusiasme publik melihat Anda menjalani tes pertama Superbike di Aragon sangat besar. Bagaimana rasanya?

Tentu saja setelah 13 tahun di MotoGP, Superbike terasa sangat berbeda. Tapi saya tak ingin memikirkan perbedaannya. Saya ingin beradaptasi secepatnya. Sayangnya, cuaca di Aragon kurang bagus selama tes dua hari ini. Perasaan selama dua lap pertama sangat aneh, namun tak beberapa lama kemudian saya merasa lebih baik. Tetapi, saya masih butuh waktu.

Bagaimana penilaian pertama Anda tentang ban Pirelli?

Motor dan bannya sangat berbeda (dibanding MotoGP). Jadi terlalu awal untuk memberikan evaluasi.

Apa motivasi Anda menghadapi tantangan baru ini?

Saya ingin melakukan pekerjaan sebaik mungkin untuk tim, sponsor, dan fans. Mayoritas fans saya mendukung kepindahan ini. Mereka ingin melihat motor yang kompetitif dibanding apa yang saya kendarai di Grand Prix. Saya masih percaya diri. Saya berusia 34 tahun, bukan 24 tahun, tapi bukan juga 54 tahun. Superbike sangat populer di Amerika Serikat. Fans Amerika menyukai Superbike dan saya punya kesempatan membalap di Laguna Seca lagi. Saya ingin melakukannya dengan baik.

Apa yang akan Anda rindukan dari MotoGP?

Ada beberapa aspek yang akan saya rindukan, terutama intensitasnya, penonton yang banyak, sesuatu menyangkut motor, dan keliaran di sana. Tapi rumah saya sekarang adalah Superbike. Ketika saya meninggalkan paddock MotoGP di Valencia (seri terakhir musim 2015), saya mengatakan kepada diri sendiri untuk melihat ke depan.

Memori terbaik di MotoGP?

Memenangi juara dunia MotoGP (2006), berdiri di podium di Valencia dan melihat kembang api berwarna kuning.

Sesuatu yang ingin Anda lupakan sepanjang karier di MotoGP?

Tahun pertama di MotoGP sangat berat. Sebuah langkah besar bagi seorang pria berusia 21 tahun yang langsung pindah dari ajang AMA ke MotoGP. Tetapi saya mendapat motor yang sangat bagus dan itu membuat tugas saya menjadi lebih mudah. Kemudian tahun lalu, ketika saya mengalami cedera pergelangan tangan dan dokter mengatakan karier saya sudah tamat. Beruntung, saya menemukan dokter yang melakukan operasi yang sangat bagus dan saya masih berada di sini.