Mundur dari Timnas Inggris, Hodgson Dirayu Hijrah ke China

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 29 Jun 2016, 15:45 WIB
Pelatih tim nasional Inggris, Roy Hodgson. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Beijing - Roy Hodgson tampaknya tak bakal kesulitan mencari pekerjaan baru setelah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih tim nasional Inggris. Sejumlah klub Liga Super China dikabarkan siap menampung pelatih berusia 68 tahun tersebut.

Seiring tersingkirnya Inggris dari Piala Eropa 2016, Hodgson langsung membuat keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih. Hodgson merasa bertanggung jawab atas kekalahan 1-2 dari Islandia pada babak 16 besar Piala Eropa 2016, Senin (27/6/2016) atau Selasa dini hari WIB.

Advertisement

Mengomentari hal itu, Kepala Eksekutif Irena, perusahan yang mewakili 12 klub Liga Super China, Eric Gao, menilai tersingkirnya Inggris dari Piala Eropa 2016 tak membuat pesona Hodgson luntur. Menurut dia, sejumlah klub China siap bersaing untuk mendatangkan pelatih kelas dunia seperti Hodgson.

"Banyak klub menginginkan para pelatih kelas dunia. Sayangnya banyak dari mereka sampai saat ini tidak dijual. Saya rasa Roy Hodgson punya peluang. Klub-klub China akan dengan senang mengontraknya. Dia adalah sosok yang akan cocok dengan klub Liga Super China," kata Gao.

Sepak bola China belakangan ini secara masif melakukan sejumlah perubahan. Sejumlah pemain kelas dunia ditarik untuk bermain di kompetisi Negara Tirai Bambu tersebut.

Hal itu diamini Gao yang menyebut sejumlah klub China memang melakukannya untuk menjadikan sepak bola sebagai pasar industri. Oleh sebab itu, wajar rasanya bila semuanya berlomba memboyong pemain dan pelatih kelas dunia demi menaikkan pangsa pasar mereka.

"Saya tahu sejumlah klub yang sedang menunggu investor asing untuk menjadi pemegang saham mereka. Mereka ingin mengubah DNA sepak bola dan mendapatkan investasi di seluruh dunia, dengan membawa merek, pelatih, manajer sepak bola dan pemain secara sistematis, tak hanya satu per satu dari secara besar," ujar Gao.

Sumber: The Guardian