Arema Siap Kawal Pangkostrad menuju Kursi Ketua Umum PSSI

oleh Nandang Permana diperbarui 28 Agu 2016, 10:30 WIB
wan Budianto, CEO Arema Cronus saat Kongres Luar Biasa PSSI di Hotel Mercure, Ancol. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Bandung - Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi dan mantan Panglima TNI, Moeldoko menjadi perbincangan hangat sepak bola Tanah Air. Dua sosok itu disebut-sebut bakal bersaing untuk maju sebagai calon Ketua Umum PSSI menggantikan La Nyalla Mattalitti.

Edy dan Moeldoko diyakini bisa membuat PSSI yang dalam beberapa tahun terakhir dihantam kisruh menjadi lebih stabil. terakhir, PSSI disanksi FIFA setelah menganggap pemerintah melakukan intervensi. Beruntung sanksi itu tidak berlangsung lama setelah di cabut FIFA pada Kongres ke-66 di Meksiko 13 Mei lalu.

Pemilihan Ketua Umum PSSI yang baru akan dihelat pada Kongres di Makassar pada 17 Oktober. Anggota PSSI pun ramai menyuarakan dukungan kepada dua calon itu termasuk Arema Cronus. Dengan alasan memiliki pengalaman baik dalam mengurus sepak bola, Arema Cronus menjatuhkan dukungan kepada Edy Rahmayadi.

Advertisement

 

Dukungan dari Singo Edan itu disampaikan langsung CEO Iwan Budianto. Menurut Iwan, selain memilki pengalaman sebagai pembina PSMS Medan dan PS TNI, Edy punya kemampuan untuk membuat kondisi PSSI membaik sehingga bisa menjalankan program dengan maksimal.

"Dari awal Arema mengusung Pak Edy Rahmayadi, dari awal pula kami menilai Pak Edy yang cocok pimpin PSSI. Sepak bola Indonesia sekarang sudah mulai bagus, terutama dari sisi industri. Yang kami butuhkan, organisasi ini (PSSI) harus stabil. Saya pikir di tangan beliau PSSI bisa lebih baik," kata Iwan Budianto usai menyaksikan lanjutan Torabika Soccer Championships (ISC) A presented IM3 Ooredoo antara Persib kontra Arema di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (27/8/2016).

Sedangkan soal munculnya nama dia di daftar calon Wakil Ketua Umum dan anggota Komite Eksekutif, pria yang pernah menjadi manajer Persik Kediri merendah. Menurut Iwan, masih banyak orang-orang yang mempunyai kapasitas lebih untuk menduduki jabatan tersebut.

"Itu (munculnya nama dia) mungkin sebagai amanah untuk saya. Meskipun saya menyakini masih banyak orang yang lebih tepat dan kredibel untuk posisi itu baik Waketum maupun Exco," kata Iwan Budianto mengakhiri pembicaraan dengan tersenyum.