Timo Scheunemann, Dunia Akting, dan 34 Sepatu dari Irfan Bachdim

oleh Iwan Setiawan diperbarui 11 Nov 2016, 09:15 WIB

Bola.com, Malang - Nama Timo Scheunemann belakangan ini terbilang tenggelam dari dunia kepelatihan Tanah Air. Padahal, namanya sempat mencuat saat melatih Persema Malang tahun 2010 dan mengorbitkan dua pemain keturunan seperti Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan.

Sempat jadi direktur pembinaan usia dini PSSI, Timo kini punya kesibukan di Malang. Selain fokus pada membina pemain muda, banyak kesibukan baru yang ternyata tidak banyak diketahui orang.

Advertisement

Saat berkunjung ke rumahnya, Timo Scheunemann terlihat santai. Wajahnya tidak banyak berubah. Wajah bule Jerman dan logat Jawa yang kental jadi ciri khasnya. Kepada Bola.com dia bercerita rutinitasnya juga perihal mantan anak didiknya, Irfan Bachdim.

Lama tidak bergelut di sepak bola nasional, apa kesibukan Anda sekarang?
Masih tetap membina dan mengorbitkan pemain muda. Terakhir ada satu pemain binaan yang masuk ke Timnas U-19 tahun ini. Sekarang ada juga keponakan dari Jerman, Kevin Scheunemann. Sekarang dia proses untuk naturalisasi setelah main di liga Universitas Amerika.

Selain itu, mengajar filsafat juga di sekolah internasional di Malang dekat rumah. Menulis buku panduan dan mengisi kolom di online tentang sepak bola. Beberapa waktu lalu juga main film di Ruddy Habibie...

Menikmati peran sebagai aktor?
Kalau main film baru tiga kali saja. Berawal film Tendangan dari Langit yang disutradari Hanung Brahmantyo. Akhirnya kenal baik dan diajak main di film Sukarno dan Ruddy Habibie. Sudah lengkap peran jadi pelatih, kolonel, dan pastur. Tapi, tidak tahu kalau nanti main lagi, itu terserah Mas Hanung. Tapi, tentu saya tidak bisa meninggalkan sepak bola, khususnya membina pemain muda.

Dari mana Anda belajar akting?
Sejak duduk di bangku SMA saya anak teater. Jadi sudah tidak tegang kalau berakting. Kebetulan waktu melatih kan juga sering konferensi pers. Jadi tidak ada rasa grogi waktu bicara didepan banyak orang.

Tapi kalau main film sama Mas Hanung, jangan banyak membuat kesalahan karena orangnya disiplin dan perfeksionis. Sama seperti kalau saya melatih di lapangan. Hehehe. Jadi harus benar-benar hafalkan naskah sebelum ambil gambar.

Irfan Bachdim dikepung pemain Vietnam pada laga uji coba di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (9/10/2016). Irfan merupakan salah satu anak didik Timo Scheunemann. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Untuk karir kepelatihan, kapan Anda kembali ke kancah profesional?
Saya orangnya tidak asal ambil pekerjaan. Sekarang ada dua tim yang berminat. Tapi itu masih prematur, belum ada pembicaraan serius. Saya lihat manajemen timnya dulu. Kalau suasananya bagus, tentu saya mau.

Satu lagi, manajemen harus memberi kepercayaan penuh untuk membentuk tim. Tidak ada intervensi. Saya juga tidak suka direkrut dengan kondisi tim sudah terbentuk karena pelatih yang membentuk tim, bukan orang lain.

Sekarang, saya tidak bingung juga cari klub karena hidup dengan aktivitas seperti ini sudah nyaman. Gaya hidup saya juga biasa saja. Sebenarnya tidak susah meladeni pelatih seperti saya karena bisa makan makanan Indonesia dan orangnya masih bisa diajak diskusi kok...

Apa tidak rindu mengorbitkan pemain seperti Irfan Bachdim atau Kim Jeffrey Kurniawan?
Tentu rindu. Tapi, sekarang saya juga melakukan yang sama. Mengorbitkan pemain muda.

Khusus soal Irfan Bachdim, apa masih sering berkomunikasi dengannya?
Irfan Bachdim dari dulu memang pemain bagus. Pribadinya juga bagus. Dia pemain yang tahu balas budi. Sebelum timnas main di Sleman beberapa waktu lalu, saya komunikasi dengan dia.

Memang Irfan jarang ke sini karena main di luar (Jepang). Tapi, dia masih sempat mengirimkan sepatu bola untuk pemain muda binaan saya di Kediri. Jumlahnya sekitar 34 pasang. Cukup terharu karena dia masih memberikan perhatian kepada saya dan pemain muda.