4 Calon Bintang TSC 2016 yang Sinarnya Meredup

oleh Pramuaji diperbarui 12 Nov 2016, 15:00 WIB

Bola.com, Jakarta - Ajang Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 presented by IM3 Ooredoo yang sudah bergulir sejak April,, memunculkan nama-nama baru yang mencuat berkat performa apiknya.

Sejumlah pemain lokal mulai terdengar namanya di ajang ini dan berimbas pada pemanggilan oleh Alfred Riedl ke tim nasional, seperti Bayu Pradana, Abdul Rahman, dan Rudolof Yanto Basna. Sedangkan dari pemain asing, nama anyar yang muncul, antara lain Pablo Rodriguez Aracil, Marcel Sacramento, dan Luiz Carlos Junior.

Namun, di antara nama-nama yang meroket, ada juga pemain-pemain yang seolah-olah “kehabisan bensin.” Bersinar di awal, namun meredup, seiring berjalannya kompetisi.

Advertisement

Siapa saja pemain-pemain early riser yang performanya menurun setelah tinggi di awal musim? Berikut ulasannya.

Ambrizal Umanailo (Persija Jakarta)

Pemain kelahiran Ambon ini mencuat namanya di awal musim bersama tim Macan Kemayoran. Di bawah asuhan Paulo Camargo, Umai kerap mendapat kesempatan tampil sebagai starter. Ia tampil apik di awal musim dengan senjata utama berupa teknik dribbling dan kecepatan.

Laga Persija melawan Persela Lamongan pada pekan ketiga menjadi ajang pembuktian Ambrizal. Di pertandingan tersebut, jebolan akademi Persija ini mencatat 1 assist dan 1 gol untuk kemenangan 2-1 untuk Macan Kemayoran. Ia juga pernah merajai daftar pemain dengan angka dribel sukses terbanyak hingga pertengahan musim.

Namun, seiring menurunnya performa Persija, penampilan Ambrizal juga turut anjlok di TSC 2016. Lawan dapat mengantisipasi pergerakan dan kecepatan pemain berusia 20 tahun ini. Ditambah dengan hengkangnya Camargo, peran Ambrizal di tim menjadi semakin berkurang. Parahnya, Ambrizal pernah “turun kelas” ke tim Persija U-21 selama beberapa pekan.

 

Teja Paku Alam (Sriwijaya FC)

Pelatih Widodo Cahyono Putro mengejutkan sejumlah pihak, khususnya para penggemar Sriwijaya FC, ketika ia lebih memilih nama Teja Paku Alam ketimbang Yogi Triana yang lebih berpengalaman. Namun, keraguan yang sempat muncul dapat dimentahkan dengan performa apik dari kiper muda berusia 22 tahun ini.

Pemain kelahiran Pesisir Selatan ini mampu mencatat 7 clean sheet dan hanya menderita 3 kebobolan dalam 9 laga pertamanya. Ia juga mampu memuncaki daftar penjaga gawang dengan angka penyelamatan terbanyak di awal musim.

Puncak penampilannya adalah saat Sriwijaya FC bertandang ke Persija. Di laga tersebut, Teja mampu menepis penalti pemain senior, Bambang Pamungkas. Ia sempat digadang-gadang untuk menjadi pilihan nomor satu tim nasional Indonesia di bawah mistar.

Sayangnya, penyakit demam berdarah yang diderita pasca Hari Raya Idul Fitri membuat Teja harus absen selama tiga pertandingan. Setelah periode tersebut, penampilan eks kiper Sriwijaya U21 ini mulai menurun. Ia gagal clean sheet di 6 laga beruntun setelah pulih.

Kini, Teja masih terus berjuang memperbaiki penampilannya dan pintu untuk masuk tim nasional sudah hampir tertutup.

Ahn Byung-keon (Bali United)

Baru diturunkan pada pekan ke-2, Ahn Byungkeon tidak butuh waktu lama untuk menjadi idola baru Bali United. Penampilannya yang lugas dan taktis menjad jaminan starter bagi pemain asal Korea Selatan ini dalam skuat asuhan Indra Sjafri.

Penampilan apik Ahn muncul pada pekan keempat, kala Bali United menjamu Semen Padang. Di laga tersebut, pemain berusia 27 tahun ini menjadi aktor utama kemenangan perdana Bali United di TSC 2016 lewat torehan 1 gol dan 1 assist.

Hingga pekan ke-9, Ahn menjadi pemain belakang Bali United dengan aksi bertahan positif terbanyak (71 aksi dari 8 penampilan). Sayangnya, cedera yang ia derita pasca libur Lebaran membuatnya harus absen di pekan ke-10 hingga pekan ke-16.

Setelah itu, Ahn belum mampu kembali ke performa terbaiknya. Meski masih tetap dipercaya sebagai starter, angka kebobolan per pertandingan Bali United pasca kembalinya Ahn dari cedera justru melonjak dari 1.2 menjadi 1.7 (hingga pekan ke-27).

Rudi Widodo (Bhayangkara FC)

Penyerang asal Pati ini bukan lah nama asing di persepakbolaan nasional. Ia sudah malang melintang di sejumlah tim, yang kebanyakan berkompetisi di kasta kedua. Ia juga sudah cukup “berumur,” 33 tahun.

Penampilannya di awal musim tergolong baik dan konsisten. Dalam 13 pekan pertama, Rudi berhasil mencatat 5 gol dan 5 assist. Namanya juga sempat masuk daftar panggil untuk seleksi tim nasional Indonesia.

Peak performance Rudi adalah pada bulan Juli. Dalam 4 laga yang digelar di bulan tersebut, eks idola Persis Solo ini mencatat 3 gol dan 4 assist. Namun, setelah periode tersebut, penampilan Rudi berangsur menurun.

Beruntung bagi Bhayangkara FC, ketika penampilan Rudi menurun, tandemnya di lini depan, Thiago Furtuoso, justru semakin tajam. Tim asuhan Ibnu Grahan masih menjadi salah satu pesaing dalam perburuan gelar juara TSC 2016. Sedangkan Rudi lebih banyak berperan sebagai “cameo” yang masuk dari bangku cadangan.