Makna Timnas Indonesia dan Indahnya Perbedaan di Piala AFF 2016

oleh Wiwig Prayugi diperbarui 18 Des 2016, 10:00 WIB
Makna Timnas Indonesia dan Manisnya Perbedaan di Piala AFF 2016. (Bola.com Foto: Peksi Cahyo-grafis Adreanud Titus)

Bola.com, Jakarta - Selamat pagi, sahabat Bola.com. Siapa yang masih baper gara-gara Timnas Indonesia kalah 0-2 di Thailand? 

Hari ini, Minggu (18/12/2016), Timnas Indonesia pulang ke Tanah Air. Gagal juara tentu kecewa. Tapi, perjalanan skuat Garuda menembus final Piala AFF 2016 luar biasa. Sepakat? 

Tulisan ini saya buat menyikapi beberapa peristiwa di Tanah Air, saat perbedaan yang ada di Indonesia menjadi perdebatan, khususnya di media sosial. Saya berani menyebut, ayo Indonesia, mari belajar menikmati indahnya perbedaan dari Timnas Indonesia dan Piala AFF 2016!

Perjalanan Bola.com meliput Piala AFF 2016 dimulai di Filipina. Saya dan rekan fotografer Nicklas Hanoatubun bertugas selama 11 hari di negara yang dijuluki surga bola basket Asia. Ada banyak momen yang membuat saya semakin bangga menjadi rakyat Indonesia yang memiliki banyak perbedaan, agama, suku, maupun budaya.

Advertisement

Kami bertugas mulai Jumat (17/11/2016) di Quezon City, tempat menginap seluruh kontestan Piala AFF Grup A. Langsung saja saya berniat menulis tentang agenda salat Jumat para pemain timnas yang memang mayoritas beragama Islam.

Ada komentar-komentar menggelitik tapi manis berkaitan dengan hal itu. "Duh, masjidnya di mana ya, mungkin kami jadi musafir dulu, salat di kamar," kata Andik Vermansah saat ditanya tentang rencana salat Jumat di Manila. "Bolehkah begitu?" timpal Stefano Lilipaly.

Hansamu Yama mengenakan gamis koko setelah salat Jumat, sedang bercengkerama dengan Lerby Eliandry, jelang final leg kedua Piala AFF 2016 di Hotel Grand Fourwings, Bangkok, Jumat (16/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Salat berjamaah memang menjadi kewajiban bagi pemain timnas seperti layaknya umat Islam yang lain. Mereka tak pernah meninggalkan salat meskipun sudah berada di stadion. Sebuah foto diunggah oleh PSSI, saat pemain dan staf pelatih salat berjamaah, sang kapten Boaz Solossa dan Lerby Eliandry duduk terdiam di pojok ruangan.

Pelatih Alfred Riedl pun sudah sangat paham dengan rutinitas religi para pemain dan staf. Maka setiap hari Jumat, pemain diberi waktu lebih longgar untuk menunaikan ibadah. Bagitu pula pada akhir pekan, pemain yang beragama Kristen dan Katolik diberi waktu luang lebih banyak untuk beribadah.

"Anda perlu tahu apa yang membuat saya senang di Indonesia? Di sini perbedaan itu hal biasa, berbeda dengan kebanyakan negara yang 'seragam'," kata Alfred Riedl saat berbincang dengan saya di sebuah hotel di Sleman, ketika persiapan menuju Piala AFF 2016.

Saat berbincang dengan Bola.com, Alfred berada di lobi hotel, sementara para pemain berjalan ke masjid untuk salat Jumat. Seperti biasa, Evan Dimas dkk. mengenakan baju koko dan pastinya, ganteng maksimal..

Berlanjut ke halaman berikutnya tentang toleransi serta kasih sayang Islam dan Nasrani di Filipina.

 

2 dari 3 halaman

Cerita dari Lerby dan Suster Adelaide

Lerby Eliandry bersama komunitas Indonesian Christian Fellowship (ICF) di Makati, Filipina. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Kembali lagi ke cerita dari Filipina. Pada Minggu (20/11/2016), saya dan beberapa rekan jurnalis dari televisi nasional meliput striker Lerby Eliandry kebaktian di Gedung Asian Seminary of Christian Ministries, Makati, bersama komunitas Indonesian Christian Fellowship (ICF).

Kami yang sebagian besar beragama Islam merasa agak canggung saat akan meliput. Namun, teman-teman dari ICF mempersilakan kami masuk. Setelah kegiatan meliput selesai, kami disuguhi makanan ringan, rekan dari ICF pun langsung berteriak: "Ini halal, yang itu tidak", kata mereka sambil menyodorkan camilan pastel. Kami pun cengar-cengir dibuatnya.

Lerby, yang dalam kebaktian itu membuat kesaksian juga ikut-ikutan 'meredam' tangan kami yang hampir menyentuh makanan mengandung babi. Pada saat itu, sebuah makanan mirip lunpia berisi daging babi sudah hampir mendarat di mulut saya.

"Mbaaaak, nyaris kamu makan itu. Ha-ha-ha. Ini saya ambilkan yang halal," kata Lerby sambil memberi saya kue.

Cerita berlanjut saat saya berjalan di tribune Philippine Sports Stadium, Bulacan, Filipina, ketika jeda pertandingan Timnas Indonesia kontra Filipina, Selasa (22/11/2016).

Saya bertemu suster Adelaide Soares Babo, biarawati asal Atambua, NTT, yang kini menetap di Filipina. Setelah saya kembali ke Tanah Air, suster Adelaide masih terus mengontak lewat media sosial. Setiap kali Indonesia berlaga, wanita berusa 46 tahun itu selalu mengirimkan pesan, isinya doa dan dukungan untuk timnas. 

Pemain Timnas Indonesia Zulham Zamrun dan Yanto Basna foto bareng suster Adelaide. (Bola.com/Adreanus Titus)

Adelaide juga selalu tidak terima bila ada pemain yang dikritik suporter di media sosial, termasuk saat Indonesia kalah 0-2 dari Thailand. "Ahh..Jangan begitu, saya tidak tega lihatnya. Kasihan Zulham, tidak apa-apa tidak juara, tahun depan coba lagi," kata Adelaide yang mengetahui Zulham dapat kritik karena dianggap tampil tidak optimal. Di Filipina, Adelaide sempat berfoto dengan Zulham.

Adelaide kembali menambahkan pesan. "Saya sebenarnya mau balas komentar di Instagram yang berkomentar jelek tentang Zulham sama Yanto," katanya.

Duh, suster, serius amat..

Berlanjut ke halaman berikutnya tentang manisnya perbedaan di Piala AFF 2016.

3 dari 3 halaman

Terima Kasih, Timnas Indonesia!

Zulham Zamrun dan Kembarannya dari Thailand berfoto usai laga leg pertama Final Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Bogor. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Singkat cerita, tugas saya meliput babak penyisihan Grup A Piala AFF 2016 tuntas. Indonesia lolos ke semifinal dan kami bergiliran untuk bertugas ke Vietnam dan Bangkok. 

Saya termasuk orang yang sangat antusias ketika melihat berita dari rekan yang bertugas di Vietnam, tentang Boaz Solossa dan Manahati Lestusen yang memberikan kesuksesan Timnas Indonesia lolos ke final untuk masyarakat Pidie Jaya, Nangroe Aceh Darussalam, yang terkena musibah gempa.

Di Tanah Air, saat tak bertugas di lapangan dan kantor, saya banyak menghabiskan waktu memantau media sosial, berkaitan dengan Piala AFF. Biasanya saya paling senang membaca komentar-komentar para fans di akun Facebook resmi AFF Suzuki Cup 2016. Saat Indonesia memastikan tiket final, saya pun bersemangat membaca komentar.

Ada salah satu percapakan fans Indonesia dan Thailand yang usil tapi asyik. Fans Indonesia menulis: "Indonesia will win, Allah behind us!". Komentar itu mendapat balasan dari fans Thailand, Kittibhan Sathidbhadtarasomband. "Buddha behind us too lol, see you my Indonesian friend."

Saya pun sangat menikmati laman tersebut karena jujur saja, saya sangat jenuh, bahkan sudah cendrung marah dengan setiap postingan di Facebook yang menyinggung segala macam perbedaan, lalu menjadi ajang perdebatan. Sementara, saat membahas Piala AFF, semua orang dengan santai dan saling menghibur tanpa melukai hati ketika menyikapi perbedaan.

Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 pun tuntas. Kembali, kita semua kecewa karena Indonesia jadi runner-up lagi (lima kali jadi nomor dua itu memang menyakitkan).

Luka hati saya cukup terhibur dengan momen pemain Thailand memeluk pemain Indonesia, Zulham bergandengan tangan dengan kembaran ketiganya, Prathum Cuthong, lalu fans Thailand yang memberi hormat kepada Indonesia dengan meneriakkan yel-yel Indonesia.

Satu hal lagi yang membuat saya bersyukur dan senang adalah, Timnas Indonesia mampu membius masyarakat Indonesia untuk bersatu memberikan dukungan.

Praktis saat harinya timnas berlaga, media sosial di Tanah Air lebih banyak dipenuhi postingan soal timnas, baik itu di Instagram, Facebook, atau Twitter. Mengutip salah satu cuitan fans Indonesia, @wibowosigit_, "Terima Kasih pejuang..paling tidak sudah mempersatukan bangsa ini walaupun hanya 90 menit. #terimakasihtimnas."

Ah, andai Piala AFF digelar setiap bulan..