Supercar Elektrik, Masa Depan Mobil Super Kencang

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 01 Feb 2017, 14:30 WIB
Teknologi otomotif berjantung elektrik pun kian berkembang, memasuki ranah sportscar dan supercar. (Oto.com)

Bola.com, Jakarta - Perhatian otomotif dunia sedang tertuju ke arah yang sama, yakni era elektrik. Buktinya, mulai banyak pabrikan dunia yang gencar menghadirkan produk-produk berpenggerak elektrik, baik itu hybrid maupun elektrik sepenuhnya. Isu pemanasan global dan energi yang bisa diperbarui menjadi alasan fundamental merebaknya produk-produk otomotif.

Advertisement

Teknologi otomotif berjantung elektrik pun kian berkembang. Tak lagi sebatas mobil kecil praktis ramah lingkungan. Namun, sudah memasuki ranah sportscar dan supercar. Sebut saja kreasi manufaktur raksasa semisal BMW i8, Audi R8 e-tron, Mercedes-Benz SLS AMG E-Cell Roadster, Porsche 918 Spyder hybrid, Ferrari LaFerrari, dan sejumlah mobil lainnya.

Melihat para pemain besar tersebut mulai menghasilkan mobil-mobil kencang berjantung elektrik, bisa dipastikan masa depan supercar elektrik semakin jelas dan bisa dibilang aman. Bagaimana tidak? Ambil contoh Ferrari dengan LaFerrari milik mereka. Walaupun bukan sepenuhnya elektrik, LaFerrari adalah salah satu kreasi kebanggaan pabrikan berlogo kuda jingkrak tersebut. Saking bangganya, mereka sampai memberikan kode nama LaFerrari atau The Ferrari dalam Bahasa Inggris.

Dengan bertumbuhnya jumlah mobil kencang yang menggunakan motor elektrik, semakin kuat indikasi bahwa era otomotif elektrik akan hadir. Cepat atau lambat. Belum lagi, sejumlah kota di dunia sudah mulai memberlakukan secara perlahan larangan untuk mesin-mesin konvensional pembakaran.

Hybrid dan Full Elektrik

Bugatti Veyron menjabat sebagai hypercar dengan jantung mekanis paling bertenaga di dunia. Alih-alih mengejarnya secara apple to apple, manufaaktur lain justru banyak memanfaatkan perpaduan jantung mekanis dengan motor elektrik (hybrid) untuk mengejar performa dari Bugatti Veyron.

Contoh yang paling populer adalah Ferrari LaFerrari yang menggendong mesin V12 6.3 liter dan dikombinasikan dengan motor elektrik berdaya 160 hp. Hasilnya adalah total tenaga 950 hp dengan torsi 969 Nm.

Ferrari Laferrari

Begitu juga dengan McLaren P1 yang dibekali jantung mekanis V8 3.8 liter dan motor elektrik. Total dayanya mencapai 903 hp dan torsinya 900 Nm. Porsche 918 Spyder hybrid juga menggunakan mesin V8 4.6 liter ditambah motor elektrik sehingga output tenaganya mencapai 874 hp dan torsi monster 1.280 Nm.

Sementara untuk mobil sports dengan penggerak full elektrik, Tesla Model S P85D merupakan yang paling banyak mendapat sorotan. Tenaganya 691 hp 85 kWh. Dengan sekali pengisian baterai, Tesla diklaim bisa melaju hingga jarak 480 km dan dengan catatan akselerasi 0-100 km/jam dalam waktu 3,1 detik saja.

Selain Tesla, ada pemain baru supercar elektrik yang belum lama ini diluncurkan, yakni NextEV EP9. Mobil tersebut diklaim sebagai supercar (bahkan hypercar) full elektrik paling kencang di dunia pada saat ini. Tenaganya mencapai 1.341 hp dan torsi super monster 6.334Nm. Performanya telah dibuktikan di sirkuit 'The Green Hell' Nurburgring dengan catatan waktu yang berhasil ditorehkan adalah 7 detik.

Balap Elektrik

Bukti lain dari semakin menguatnya era otomotif elektrik adalah tingginya antusias balap mobil Formula E. Ya, seperti dapat dideteksi dari namanya, huruf 'E' merupakan inisial untuk Electric yang berarti full elektrik. Balapan dengan mobil single seater berdapur pacu full elektrik tersebut semakin dilirik oleh mata dunia.

Bahkan manufaktur otomotif asal Britania Raya, Jaguar, memulai debutnya di seri balap Formula E musim 2016 - 2017 setelah memproduksi motor elektrik mereka sendiri untuk mobil Formula full elektrik. Mobil tersebut diberi kode nama I-Type 1.

Spark-Renault SRT 01E

Awalnya, motor elektrik untuk Formula E disuplai oleh McLaren, sementara mobilnya dari Spark Racing Racing Technology yang disebut dengan Spark-Renault SRT 01E. Bahkan untuk sassisnya diseragamkan menggunakan produksi Dallara dan baterai oleh Williams Advanced Engineering. Untuk regulasi baru, memungkinkan pihak manufaktur untuk membangun motor elektrik mereka sendiri.

Selain dari Jaguar yang sudah menggunakan motor elektrik racikan sendiri, dikabarkan manufaktur BMW juga akan mengikuti jejak dari Jaguar dalam menghasilkan elektrik motor sendiri untuk Formula E. Menurut pihak Jaguar, dengan mengikuti Formula E dan meracik motor elektrik pribadi, sekaligus dapat dimanfaatkan untuk pengembangan inovasi lebih lanjut dari mobil listrik produksi massal mereka di masa mendatang.