Momen Mengharukan di Rumah Duka Almarhum Sugih Hendarto

oleh Aning JatiZulfirdaus Harahap diperbarui 05 Mar 2017, 15:00 WIB
Ada momen mengharukan di rumah duka almarhum Sugih Hendarto, mantan pelatih Persija dan asisten Timnas Indonesia. (Bola.com/Zulfirdaus Harahap).

Bola.com, Bogor - Persija Jakarta dan sepak bola Indonesia berduka atas kepulangan selamanya Sugih Hendarto. Eks pelatih Persija era 1980-an dan asisten pelatih Timnas Indonesia medio 1970-an itu tutup usia dalam usia 83 tahun pada Minggu (5/3/2017) dini hari di Rumah Sakit Mulia, Pajajaran, Bogor.

Sugih Hendarto sempat dirawat di rumah sakit itu akibat penyakit komplikasi jantung dan kebocoran paru-paru yang dialaminya. Seperti dituturkan istri almarhum, Su Yin, sejak Jumat (3/3/2017), kondisi pelatih yang biasa disapa Om Hen atau Opa Hen itu memburuk. 

"Beliau sempat berpesan tidak mau dimakamkan. Dia ingin agar dikremasi. Rupanya itu jadi pertanda," kata Su Yin kepada Bola.com di Rumah Duka Sinar Kasih, Batu Tulis, Bogor.

Su Yin menuturkan, dalam kondisi sakit dan di usia senja, almarhum masih terus mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia. Ingatannya yang tajam soal sepak bola juga dibuktikan saat ia dikunjungi para pemain yang pernah dididik dan dilatihnya.

"Suatu ketika ada pemain yang pernah dilatihnya, datang menjenguk. Dia masih ingat dengan berujar bila saat pemain itu main, timnya kalah 0-3 dan karenanya, almarhum menggeser posisinya dalam pertandingan itu. Kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, tapi beliau masih ingat, " Su Yin menceritakan.

Advertisement

Bagi Su Yin dan keluarga, almarhum memang tidak bisa dilepaskan dari dunia sepak bola. "Kecintaannya terhadap sepak bola, bisa dibilang tidak pernah surut," imbuhnya.

Pengabdian almarhum pada dunia sepak bola, khususnya pengembangan usia muda, memang pantas mendapat apresiasi. Banyak pemain yang merasa berutang budi karena merasakan tangan dingin Sugih Hendarto.

Karenanya, ketika ia jatuh sakit, banyak kolega, sahabat, dan juga pemain yang pernah dilatihnya datang menjenguk untuk memberikan semangat dan dukungan. "Pagi tadi ada mantan pemain almarhum yang berniat menjenguk di rumah sakit. Tapi, karena sudah meninggal, jadi datang ke sini," papar Su Yin.

Mengetahui sang pelatih meninggal dunia, pemain itu lantas memberikan jaket Timnas Indonesia kepada Su Yin sebagai bentuk penghormatan. "Saya lantas memakaikan jaket itu ke jenazah almarhum," kata Su Yin.

Jaket Timnas Indonesia berwarna merah itu menyelimuti Opa Hen untuk sementara, menjadi penghormatan terakhir atas pengabdian tanpa pamrih yang diberikan almarhum pada pengembangan sepak bola di Tanah Air semasa hidupnya.

Jenazah Sugih Hendarto rencananya akan dikremasi di krematorium Sentra Medika, Cibinong, Bogor, pada Selasa (7/3/2017).