Medan Sudah Jadi Rumah Kedua buat Djadjang Nurdjaman

oleh Ronald Seger Prabowo diperbarui 10 Feb 2018, 08:45 WIB
Djadjang Nurdjaman bicara kiprahnya bersama PSMS selama beberapa bulan terakhir hingga membawa ke semifinal Piala Presiden 2018. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Solo - PSMS Medan tampil mengejutkan di ajang Piala Presiden 2018. Tim Ayam Kinatan jadi underdog dalam turnamen pramusim ini. Datang berstatus sebagai tim promosi Liga 1, PSMS justru mampu melangkah hingga semifinal.

Legimin Raharjo dkk. berpeluang melaju hingga partai puncak jika mampu menyingkirkan Persija Jakarta di fase empat besar yang berlangsung dalam dua leg di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (10/2/2018) dan Senin (12/2/2018).

Performa ciamik pasukan Ribak Sude tak bisa dilepaskan dari sosok Djadjang Nurdjaman. Pelatih bertangan dingin itu mampu membuat PSMS mempertahankan permainan rap-rap khas Medan.

Datang di babak 16 besar Liga 2 tahun lalu, arsitek tim yang akrab disapa Djanur itu mampu membawa PSMS promosi ke kasta tertinggi.

"Medan sudah seperti rumah kedua bagi saya," ungkap Djanur membuka perbincangan dengan Bola.com di Solo.

Kota Melayu Deli memang tak asing bagi sosok pelatih kelahiran Majalengka itu. Jauh sebelum membesut PSMS, Djanur lebih dulu menjadi bintang saat aktif bermain bersama Mercu Buana Medan di kompetisi Galatama musim 1982-1985, sebelum akhirnya bubar.

Advertisement

Bersama Mercu Buana, pelatih berusia 53 tahun itu merasakan karakter dan atmosfer sepak bola Medan. Laga-laga panas Galatama termasuk derbi dengan Pardedetex, jadi santapan Djanur di kompetisi.

Belum lagi, istri tercinta, Miranda Pangabean, merupakan wanita asli kelahiran Medan. Imbasnya, proses adaptasi melatih PSMS di musim lalu terhitung berjalan lancar.

"Karena saya pernah di Medan, jadi adaptasi tidak masalah. Istri juga sangat membantu karena anak tokoh sepak bola di Medan, makanya saya kenal dengan komunitas sepak bola di Medan," tuturnya.

Bagi Djanur, ada sedikit perbedaan dari Kota Bandung dan Medan dalam hal suporter. Djanur menilai bobotoh banyak memberikan aura positif dan dukungan.

Fanatisme dan juga kecintaan bobotoh terhadap klub sangat besar sehingga cukup membantunya. "Suporter PSMS di Medan dan kota sekitarnya juga banyak, namun soal kecintaan dan fanatisme, Bandung sedikit lebih unggul," ucapnya.