Alfath Faathier: Terlempar dari Persib, Berkembang di MU, Kini Mentas di Timnas Indonesia

oleh Aditya Wany diperbarui 02 Nov 2018, 08:31 WIB
Wawancara Eksklusif Alfath Faathier (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Masuknya Alfath Faathier ke dalam skuat Timnas Indonesia Piala AFF 2018 menjadi sebuah kejutan. Pemain belia Madura United ini selama ini tidak pernah sekalipun membela Tim Merah-Putih di level apapun.

Pemain berusia 22 tahun itu bahkan juga tidak tampil secara reguler bersama Madura United di Gojek Liga 1 bersama Bukalapak. Dia hanya membukukan 13 penampilan bersama Laskar Sape Kerap dalam 28 pertandingan sampai sejauh ini.

Advertisement

Alfath juga punya catatan berbeda dibanding penggawa lain yang sudah menjadi langganan sejak awal tahun ini. Dia baru mulai bergabung dalam skuat Timnas Indonesia di dua uji coba terakhir, menjamu Myanmar dan Hong Kong, pada 10 dan 16 Oktober 2018.

 Sampai sekarang, pemain kelahiran Purwakarta ini masih terkejut melihat namanya masuk di skuat Garuda yang bakal berlaga di Piala AFF 2018. Dia sama sekali tidak menyangka bakal bisa membela timnas di sebuah turnamen antar negara.

Jika dibandingkan, perjalanan karier Alfath memang tidak semulus Febri Hariyadi yang merupakan rekan setimnya di tim sepak bola pada PON Jabar 2016 dan Persib Bandung U-21 pada ISC U-21 2016.

Febri dengan mudah bisa menembus tim senior Persib sejak Torabica Soccer Championship 2016. Ditambah lagi, dia juga sudah memperkuat Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2017 dan Timnas Indonesia U-23 di Asian Games 2018.

Sementara itu, selama itu Alfath masih berkutat pada cara untuk tetap bermain di kasta tertinggi. Musim lalu, dia menjadi pemain andalan Persib Balikpapan yang terdegradasi ke Liga 2 musim ini.

Keputusannya untuk bergabung Madura United pada awal musim ini pun menjadi berkah buatnya. Berkat kemampuan bermain di berbagai posisi, dia mendapat ‘durian runtuh’ karena justru itulah yang dibutuhkan oleh Timnas Indonesia.

Bersama Fachruddin Wahyudi Aryanto, Alfath Faathier menjadi penggawa Madura United yang bergabung Tim Garuda. Bedanya, Fachruddin adalah pemain senior yang sudah tampil di Piala AFF sejak edisi 2012.

Berikut petikan wawancara Aditya Wany dari Bola.com dengan bek sayap kelahiran 28 Mei 1996 itu di mes pemain Madura United, Bangkalan, seputar perjalanan kariernya hingga ambisinya bersama Timnas Indonesia:

2 dari 3 halaman

Ini Benar Cak?

Bek kiri Madura United, Alfath Faathier. (Bola.com/Aditya Wany)

Apa yang pertama kali ada dalam benak Anda saat mendapat panggilan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018?  

Saya masih tidak menyangka bisa membela Timnas Indonesia secepat ini. Waktu dipanggil bergabung di uji coba (melawan Myanmar dan Hong Kong), saya pikir mungkin untuk dicoba saja, tidak sampai akan bergabung di Piala AFF 2018.  

Target saya sebenarnya tidak pernah muluk-muluk. Saya ingin bermain untuk sebuah klub di kasta tertinggi Indonesia. Itu saja. Kalau bisa masuk Timnas Indonesia anggap saja bonus yang membanggakan.  

Saking kagetnya, saya tanya ke Cak Fachruddin untuk memastikan. ‘Cak, ini bener namaku dipanggil timnas? Apa enggak salah pemain lain mungkin, kok bisa aku yang dipanggil’. Cak Fachruddin senyum saja balasnya, ‘Benar, Fath. Nanti kamu berangkat bareng aku’. 

Begitu Cak Fachruddin bilang itu saya jadi agak sedikit tenang dan bisa percaya. Meskipun memang masih kaget juga. Sampai sekarang masih belum percaya juga rasanya.  

Anda pernah bergabung Persiba Balikpapan yang terdegradasi. Apa saat itu sudah terpikir untuk bergabung Timnas Indonesia?  

Tepat setahun lalu, saya masih stres karena melihat Persib terjebak di papan bawah dan akhirnya degradasi ke Liga 2. Seperti yang saya bilang, saya tidak muluk-muluk memasang target. Waktu itu saya hanya berpikir untuk kembali bermain di Liga 1.  Saya sempat tertekan karena musim lalu adalah debut profesional saya.

Sialnya, saya harus melihat tim saya terpuruk. Waktu itu memang masa yang sulit buat Persib karena beberapa kali pindah stadion dari Gajayana (Malang) ke Batakan (Balikpapan).

Dari situ sudah terlihat saya tidak pernah mematok target harus bisa menembus Timnas Indonesia tahun ini. Mungkin, sudah jalannya begitu dan usaha saya untuk selalu tampil maksimal di setiap pertandingan mendapatkan hasil juga.  

Bagaimana perjalanan Anda hingga bergabung Madura United?  

Kalau cerita karier junior saya sangat panjang. Tapi, titiknya itu pada tahun 2016 saat saya bergabung tim sepak bola PON Jabar dan Persib U-21 di ISC U-21. Bagi pemain muda di Bandung atau Jawa Barat, saya sangat bangga bisa bergabung dua tim itu.  

Saya lahir di Purwakarta, tapi besar di Bandung. Orang tua memang asli Bandung dan rumah sejak masa kecil saya di sana. Membela Persib U-21 saat itu adalah jalan untuk bisa masuk tim senior.

Bagi anak muda Bandung, kami sudah jadi bobotoh (suporter) sejak lahir. Makanya, saya berusaha untuk terus tampil maksimal dan juga akhirnya bergabung Persib U-21. Sayangnya, saat itu kami gagal juara di ISC U-21.  

Tapi, saya mendapat berkah di PON Jabar. Kami berhasil meraih medali emas di cabor sepak bola. Itu adalah salah satu momen yang sangat membanggakan dalam hidup saya. Setelah itu, saya ikut seleksi Persiba pada awal musim Liga 1 2017. Kebetulan, Coach Timo Scheunemann (pelatih Persiba saat itu), memasukkan nama saya karena ada regulasi pemain muda.  

Setelah regulasi itu dihapus, saya masih dapat kepercayaan sampai tampil 27 dari 34 pertandingan. Setelah musim berakhir, tawaran dari Madura United datang dan saya menerima.

 

3 dari 3 halaman

Pemain Multi Fungsi

Alfath Faathier, bek sayap belia andalan Madura United. (Bola.com/Aditya Wany)

Apakah memang hanya Madura United yang memberi tawaran?

Tidak. Ada banyak klub papan atas yang juga memberi tawaran. Tapi, saya lihat kalau bergabung tim lain, persaingan nanti akan jadi ketat dan saya sulit untuk bermain reguler.

Sedangkan di Madura United saya lihat peluang saya masih sangat terbuka. Ditambah lagi, di sini ada beberapa pemain senior seperti Cak Fachrudin (Aryanto), Fabiano Beltrame, dan Cak Slamet (Nurcahyo). Saya ingin banyak belajar dari para pemain senior itu.

Alhamdulillah, mereka sangat baik dan selalu memberikan masukan kalau saya salah. Niat awal saya memang terus belajar di mana pun saya bergabung.

Saya pun sempat kesulitan tampil reguler juga karena posisi bek kanan dan bek kiri sudah diisi oleh Mas Benny (Wahyudi) dan Andik Rendika. Selama ini, saya biasa bermain di posisi itu. Untungnya, saya dicoba bermain sebagai pemain sayap.

Ternyata, menyenangkan juga bisa bermain di posisi baru dan jadi bisa banyak posisi. Mungkin itu berkahnya di Madura United. Di era modern ini, pemain memang harus serba bisa. Saya pikir, mungkin itu salah satu alasan saya dibutuhkan oleh Timnas Indonesia. Mungkin rezeki dan jalan saya memang sudah seperti ini.

Bagaimana respon keluarga melihat kabar ini? 

Saya saja tidak menyangka, apalagi keluarga. Mereka terus memberikan dukungan. Pemain mana yang tidak bangga membela timnas dan negara. Ini rasanya masih jadi mimpi. Saya pikir semuanya berlalu sangat cepat.

Setelah dua laga uji coba itu, saya sempat pulang kampung ke Bandung dari Jakarta sebelum balik ke Bangkalan. Waktu itu kebetulan bareng sama Febri yang mau balik ke Bandung juga.

Saya enggak nyangka mendapat sambutan dari keluarga. Menanyakan kabar seperti apa, bagaimana rasanya main di timnas. Semuanya mendoakan dan memberikan dukungan yang terbaik buat saya dan timnas. Mereka terlihat sangat senang melihat ada anaknya yang bisa membela negara.

Di situ saya melihat keluarga sangat bangga melihat saya, terutama ibu yang selalu memberi saya kekuatan. Makanya, ke depan saya ingin terus membalas doa mereka dengan memberi kebanggaan.

Tetangga di kampung juga menyambut kedatangan saya. Teman-teman main saya banyak yang belum percaya saya masuk TV dan pakai seragam timnas. Dulu kalau masih kecil lihat timnas main saja sudah senang, sekarang malah ada temannya yang mereka tonton di TV.

Apa target Anda di Piala AFF 2018?

Pertama, kami pikirkan dulu pertandingan pertama bertandang ke Singapura (9/11/2018). Kalau saya mendapat kesempatan pasti akan berusaha untuk menunjukkan yang terbaik.

Target kami (pemain Timnas Indonesia) harus satu seperti apa, dan itu dilihat saat mulai TC (pemusatan latihan). Untuk memikirkan juara mungkin terlalu jauh, meskipun kami semua pasti menginginkannya.

Yang jelas, kami ingin memberikan yang terbaik agar masyarakat Indonesia percaya bahwa kami bisa. Kami berharap doa juga mengiringi perjuangan kami di turnamen ini.

Buat saya pribadi, tidak perlu muluk-muluk memasang target tertentu di Timnas Indonesia. Intinya, saya akan selalu siap kalau Tim membutuhkan dan memberia kepercayaan buat saya.

Berita Terkait