Tokoh Bonek: Status Persebaya Dipulihkan PSSI Bukan karena Edy Rahmayadi

oleh Aditya Wany diperbarui 02 Des 2018, 21:00 WIB
Bonek mendampingi Persebaya saat bermain di Liga 1 2018. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Surabaya - Desakan dari kalangan suporter, termasuk dari pendukung Persebaya, Bonek, yang meminta Edy Rahmayadi mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI masih terus disuarakan. Tagar EdyOut juga masih muncul dalam berbagai lini masa akun media sosial.

Advertisement

Tokoh Bonek, Andie Peci, menjadi satu di antara sosok yang paling getol menyuarakan hal ini sejak muncul ketidakberesan dalam tubuh PSSI. Bersamaan itu, ada suara sumbang yang muncul dengan menilai Bonek sebagai suporter yang tak tahu balas budi.

Hal itu terkait dengan pemulihan status Persebaya sebagai anggota PSSI pada awal 2017. Saat itu, Edy yang sudah menjadi Ketua Umum PSSI, mengesahkan kembali Persebaya dan menempatkan tim Bajul Ijo di Liga 2 lewat mekanisme Kongres PSSI pada 8 Januari 2017.

"Kembalinya Persebaya di kompetisi nasional tidak ada kaitannya dengan Edy. Siapa pun yang menjadi ketua, PSSI memang wajib mengembalikan status Persebaya. Saat itu, Persebaya sudah dizalimi selama beberapa tahun,” kata Peci kepada Bola.com.

Seperti diketahui, Bonek harus menerima Persebaya tidak diakui sebagai anggota PSSI sejak 2012. Saat itu, Bajul Ijo itu terlibat dualisme yang kemudian memakai nama Persebaya 1927 dan tampil di IPL.

Di sisi lain, hak Persebaya berkompetisi di level nasional dikabarkan digunakan Persikubar yang disulap menjadi Persebaya. Klub ini memulai kiprah di Divisi Utama hingga menembus ISL 2014. Setelah PSSI dibekukan kemenpora, klub ini kemudian berubah nama menjadi Bhayangkara FC.

Saat masih terjadi dualisme, banyak yang menilai PSSI telah durhaka kepada Persebaya. Sebab, Bajul Ijo merupakan satu di antara klub yang ikut mendirikan PSSI pada 1930. Sementara Persebaya lebih tua tiga tahun, atau berdiri pada 1927.

 

2 dari 2 halaman

Geruduk Kongres PSSI

"Kalau dibahas soal jasa Edy, itu ranahnya malah jadi personal. Sekarang ini, kami berbicara soal kinerja Edy sebagai pemimpin federasi. Ada banyak hal yang semakin buruk mulai kegagalan Timnas Indonesia, muncul skandal pengaturan skor, sampai jadwal pertandingan," jelas Peci.

"Belum lagi, Edy juga merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatra Utara. Secara etika, dia sudah wajib menanggalkan jabatan di PSSI. Sulit bekerja untuk dua hal yang harus sama-sama mendapat prioritas," imbuhnya

Gerakan tagar EdyOut mulai muncul setelah Timnas Indonesia gagal total di Piala AFF 2018. Setelah itu, mencuat kasus pengaturan skor di Liga 2 yang diduga melibatkan PSS Sleman dan Madura FC.

Hal itu kemudian melahirkan banyak evaluasi dari suporter, seperti jadwal Liga 1 yang bertabrakan dengan agenda Timnas Indonesia. Rencananya, kalangan suporter termasuk Bonek akan melakukan gerakan geruduk Kongres PSSI yang bakal digelar pada 20 Januari 2019 di Bali.