Jalan Terjal PSM dalam Merengkuh Gelar Piala Indonesia

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 07 Agu 2019, 07:30 WIB
PSM Makassar juara Piala Indonesia. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - PSM Makassar melalui jalan terjal sebelum menjadi juara Piala Indonesia 2018. Tim berjulukan Pasukan Ramang itu selalu kalah di kandang lawan sejak babak delapan besar.

Format turnamen sejak babak 32 besar berlangsung dalam dua leg. PSM Makassar berhasil menyapu bersih kemenangan ketika bermain di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, hingga partai final. 

Advertisement

Perjalanan PSM di Piala Indonesia bermula ketika menang secara walk-out dari Sidrap United pada babak 128 besar, lantaran klub Liga 3 tersebut mengundurkan diri dari.

Laju PSM sempat terganjal setelah ditahan 3-3 oleh Persiter Ternate pada babak 64 besar. Tim Juku Eja mampu mengalahkan Persiter 3-2 via babak adu penalti.

Keberhasilan menyingkirkan Persiter mengantar PSM bertemu tim promosi Shopee Liga 1 2019, Kalteng Putra pada babak 32 besar. Dalam dua leg, PSM menang cukup mudah dengan agregat 3-1.

Setelah mengalahkan Kalteng Putra, PSM ditantang tim yang hampir kolaps pada waktu itu, Perseru Serui. Wiljam Pluim dkk. menang 12-0 dan melangkah ke babak delapan besar.

Mulai fase ini, PSM Makassar tertatih-tatih. PSM kalah 2-4 dari Bhayangkara FC pada leg pertama perempat final. Zulham Zamrun dan kawan-kawan melakukan pembalasan dramatis dengan menang 2-0 dan lolos ke babak empat besar. Mengacu regulasi gol tandang, PSM berhak mendapatkan satu tiket ke babak berikutnya.

2 dari 5 halaman

Keangkeran Andi Mattalatta Mattoangin

Pemain PSM Makassar merayakan gol yang dicetak Zulham Zamrun dalam pertandingan leg pertama Piala Indonesia 2018 kontra Madura United di Stadion Andi Mattalatta, Mattoangin, Makassar, Minggu (30/6/2019) sore. PSM menang tipis 1-0 dalam laga tersebut. (Bola.com/Abdi Satria)

Fase empat besar tidak mudah dilalui PSM. Menghadapi Madura United, mereka menang 1-0 pada pertemuan pertama. Ketika leg kedua, tim besutan Darije Kalezic ini tertinggal 0-2 sampai dengan menit ke-83. Aaron Evans berhasil memperkecil kedudukan untuk mengantar PSM lolos ke partai puncak berkat gol tandang.

Tradisi kekalahan PSM di markas lawan masih terjadi pada final Piala Indonesia ketika berhadapan dengan Persija Jakarta. Saat bertandang ke Jakarta, mereka tumbang 0-1.

Untungnya, keangkeran Stadion Andi Mattalatta Mattoangin masih belum pudar. PSM berhasil membalikkan keadaan pada pertemuan kedua. PSM menghajar Persija 2-0 untuk merengkuh trofi Piala Indonesia.

3 dari 5 halaman

Sejarah Piala Indonesia

Piala Indonesia Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

Piala Indonesia merupakan turnamen yang mempertemukan klub-klub lintas divisi. Pertama kali turnamen ini diadakan pada tahun 2005 dengan nama Copa Indonesia (Copa Dji Sam Soe untuk alasan sponsor).

Saat pertama digelar, turnamen Piala Indonesia 2005 melibatkan 92 tim yang terdiri dari 36 klub Divisi Utama, 40 klub Divisi Satu dan 16 klub Divisi Dua. Sebelumnya, pada era Galatama pernah digelar semacam Piala Indonesia yang diikuti oleh klub-klub Galatama dengan nama Piala Galatama.

Sempat rutin digelar setiap tahun selama enam edisi, Piala Indonesia vakum cukup lama sejak terakhir dihelat musim 2012. Alasan kenapa Piala Indonesia tak berjalan mulus pelaksanaannya karena faktor pendanaan.

Klub-klub Indonesia tak kuat secara finansial mengarungi dua ajang dalam semusim. Saat disponsori Dji Sam Soe, klub-klub mendapat santunan match fee untuk membantu operasional mereka. Begitu sponsor memutus kerja sama dengan PSSI, turnamen ikutan berhenti karena klub-klub angkat bendera putih.

Karena melibatkan banyak klub, maka perhelatan Piala Indonesia digelar dalam interval waktu yang panjang. Otomatis, klub harus merogoh kocek ekstra buat menambah durasi kontrak pemain serta biaya operasional lain, yakni transportasi dan akomodasi.

Angin segar muncul pada tahun 2018. PSSI era Edy Rahmayadi, memutuskan kembali memutar Piala Indonesia. Tujuan utamanya untuk menambah jam terbang bertanding klub-klub multidivisi. Total, 128 klub terlibat jadi peserta.

Sayangnya, karena perencanaan kurang matang Piala Indonesia berjalan tertatih-tatih. Agenda politik nasional serta persoalan organisasi yang mendera PSSI, membuat turnamen satu ini baru mencapai periode pengujung pada bulan Juli 2019 ini. Lucunya pentas kompetisi musim 2018 sudah tuntas pada bulan Oktober tahun lalu.

4 dari 5 halaman

Kontroversi Dua Laga Final

Para pemain bintang Sriwijaya FC dipastikan akan meramaikan Piala Indonesia (Dok. Instagram @sriwijayafc.id / Nefri Inge)

Sejarah mencatat gelar juara Piala Indonesia didominasi dua klub, Sriwijaya FC (tiga trofi) dan Arema FC (2 trofi).

Sriwijaya hattrick gelar tiga musim beruntun pada musim 2007-2008, dan 208-2009, dan 2010. Kontroversi sempat terjadi pada final Piala Indonesia 2009 di Stadion Jakabaring, Palembang. Akibatnya, pada menit 60, Persipura menyatakan walk out (WO) saat pertandingan masih berjalan dengan skor 1-0 untuk Sriwijaya FC.

Pemain-pemain Tim Mutiara Hitam protes terhadap kinerja wasit, Purwanto. Gol Sriwijaya FC lewat titik putih terasa kontroversial, karena handsball bek Persipura Bio Pauline masih bisa diperdebatkan.

Persipura menolak melanjutkan laga walau sudah coba dibujuk langsung oleh Ketua Umum PSSI saat itu, Nurdin Halid. Namun Boaz Solossa dkk. bergeming. Mereka akhirnya dinyatakan kalah WO 0-4.

Patut dicatat era kejayaan Sriwijaya FC juara tiga kali kesemuanya saat mereka dilatih Rahmad Darmawan.

Sementara itu, Arema FC jadi juara edisi Piala Indonesia perdana dengan mengalahkan Persija Jakarta 4-3 (perpanjangan waktu) di laga final yang dihelat di SUGBK. Pertandingan ini juga sempat mencuat kontroversi.

Pelatih Arema saat itu, Benny Dollo, sempat menginstruksikan anak-asuhnya mogok bertanding karena marah dengan kartu merah yang dilayangkan wasit, Jajat Sudrajat, ke Alexander Pulalo imbas tekel kerasnya ke Ortizan Solossa. Beruntung laga kembali dilanjutkan. Firman Utina jadi bintang laga lewat hattrick golnya. Satu di antaranya dicetak di perpanjangan waktu saat skor 3-3.

Pada tahun selanjutnya Arema mengulangi cerita suksesnya menjadi kampiun Piala Indonesia. Kali ini Tim Singo Edan menang 2-0 atas Persipura di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

5 dari 5 halaman

Data dan Fakta Piala Indonesia

Gelandang Bhayangkara FC, Firman Utina, menggiring bola saat melawan Borneo FC pada laga Liga 1 Indonesia di Stadion Patriot, Bekasi, Rabu (20/9/2017). Bhayangkara menang 2-1 atas Borneo. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Distribusi Gelar Piala Indonesia

2005 Arema Malang. Final: Vs Persija 4-3 (perpanjangan waktu)

2006 Arema Malang. Final: Vs Persipura Jayapura 2-0

2007-2008 Sriwijaya FC. Final: Vs Persipura Jayapura 4-1 (adu penalti)

2008–2009 Sriwijaya FC. Final: Vs Persipura Jayapura 4-0  (Walk Out)

2010 Sriwijaya FC. Final: Vs Arema 2-12012 Persibo Bojonegoro. Final: Vs Semen Padang 1-0 

2012 Persibo Bojonegoro. Final: Vs Semen Padang 1-0

2018: PSM Makassar. Final: Vs Persija Jakarta 2-1 (agregat)

 

Daftar Pencetak Gol Terbanyak Piala Indonesia

2005: Javier Roca (Persegi Gianyar) 11 gol

2006: Emaleu Serge (Arema Malang) 9 gol

2007-2008: Albeto Goncalves da Costa (Persipura Jayapura) 6 gol

2008-2009: Samsul Arif (Persibo Bojonegoro) dan Pablo Frances (Persijap Jepara) 8 gol

2010: Cristian Gonzalez (Persib Bandung) 10 gol

2012: Javier Roca (Persis Solo) 5 gol 

2018: Amido Balde (Persebaya Surabaya), Zulham Zamrun (PSM Makassar) 10 gol

 

Daftar Pemain Terbaik Piala Indonesia

2005: Firman Utina (Arema Malang)

2006: Aris Budi Prasetyo (Arema Malang)

2007-2008: Bambang Pamungkas (Persija Jakarta)

2008-2009: Anoure Obiora (Sriwijaya FC)

2010: Keith Kayamba Gumbs (Sriwijaya FC)

2012: Diam Irawan (Persibo Bojonegoro)

2018: Zulham Zamrun (PSM Makassar)

Berita Terkait