Deretan Pemain yang Diorbitkan Arema dan Jadi Andalan Timnas Indonesia

oleh Iwan Setiawan diperbarui 21 Apr 2020, 09:15 WIB
Arema FC - Orbitan Arema Yang Pernah Jadi Andalan Indonesia (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Malang - Sejak 2013, Arema boleh dibilang sudah berubah menjadi tim yang doyan merektut pemain yang sudah jadi. Padahal pada awal klub Galatama itu dibentuk, Arema punya misi lain, yaitu membina pemain muda untuk diorbitkan.

Perubahan yang terjadi pada musim 2013 tak lepas dari fakta Singo Edan mendapatkan sokongan dana yang kuat dari Bakrie Group. Arema pun mulai merekrut sejumlah pemain bintang.

Advertisement

Hal ini tentu berbeda dengan awal kemunculan Arema. Keterbatasan finansial membuat Arema membina pemain muda, di mana kebijakan itu membuat Singo Edan diperhitungkan pada era 1990an.

Gelar juara Galatama 1992/1993 adalah bukti keberhasilan Arema dengan pemain-pemain yang diorbitkannya. Sejak saat itu, ada saja pemain yang diorbitkan Singo Edan menjadi andalan di Timnas Indonesia.

Ada sejumlah nama, mulai dari Aji Santoso, Kuncoro, Ahmad Bustomi, Arif Suyono, Beny Wahyudi, hingga Kurnia Meiga. Namun, untuk Bustomi, Arif Suyono, dan Beny Wahyudi, bukanlah pemain yang benar-benar merupakan didikan Arema mengingat mereka sudah pernah bermain untuk klub profesional sebelum bergabung dengan Singo Edan.

Kali ini Bola.com mengulas ada 4 nama pemain yang diorbitkan oleh Arema dan sempat menjadi tulang punggung Timnas Indonesia. Bukan sekadar jadi pelengkap di tim nasional, tapi bermain secara reguler untuk Tim Garuda.

Video

2 dari 5 halaman

Aji Santoso

Aji Santoso, salah satu bek sayap kiri terbaik Indonesia yang dibesarkan Arema. (Wearearemania)

Aji Santoso merupakan produk era awal Arema berdiri. Aji sempat disebut sebagai bek kiri terbaik Asia pada masanya karena permainan yang naik dan turun di sisi sayap dengan stabil.

Aji Santoso langsung masuk Timnas Indonesia pada 1990. Dia sudah sibuk membela tim nasional ketika usianya masih 19 tahun.

Dia juga masuk dalam skuat Indonesia ketika meraih medali emas di SEA Games 2001 Manila, medali emas terakhir Tim Garuda di ajang pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara itu hingga saat ini.

Aji sempat menjabat sebagai kapten timnas Indonesia di tahun 1998-2000. Dari data yang didapatkan Bola.com, Total 10 tahun Aji Santoso menjadi langganan Timnas Indonesia dengan 41 penampilan dan 6 gol.

Hanya saja Aji Santoso memang lebih matang ketika membela tim rival Arema, Persebaya Surabaya. Aji bergabung dengan Bajul Ijo mulai dari 1995 hingga 1999.

Aji mengakhiri kariernya sebagai pemain Arema pada musim 2004 silam. Setelah itu, dia sempat jadi pelatih Timnas Indonesia U-23 dan senior. Bahkan dalam karier pelatihnya, dia sempat menangani Arema FC dan membawa Singo Edan menjadi juara Piala Presiden 2017.

 

3 dari 5 halaman

Kuncoro

Tim pelatih Arema Cronus, Kuncoro (kanan) dan Joko Susilo (Bola.com/Kevin Setiawan)

Kuncoro dikenal sebagai pemain yang tidak kenal kompromi, temperamen, dan langganan kartu. Kuncoro diorbitkan Arema pada 1991. Waktu itu usianya masih 18 tahun.

Hanya butuh satu tahun baginya untuk bisa berkontribusi membawa Arema jadi juara Galatama musim 1992-1993. Kelebihannya bisa jadi bek kanan, stoper, dan gelandang bertahan.

Kuncoro mulai dipanggil ke Timnas Indonesia pada 1994. Kariernya di Timnas Indonesia memang tidak lama, hanya 4 tahun. Tapi, dia sempat jadi pemain inti Tim Merah Putih. Hanya saja tidak tercantum berapa caps yang dimilikinya dengan Timnas Indonesia.

Ada satu hal yang membuat namanya tercoreng di Timnas Indonesia. Kuncoro masuk dalam starting eleven ketika kasus sepak bola gajah di Piala Tiger 1998, atau yang kini lebih akrab disebut Piala AFF.

Ketika pertandingan terakhir penyisihan Grup melawan Thailand, Indonesia ogah menang. Menit terakhir, Mursyid Efendy sengaja mencetak gol bunuh diri. Bola itu berasal dari umpan Kuncoro. Setelah itu, kariernya dengan Timnas Indonesia harus  tamat.

 

4 dari 5 halaman

Charis Yulianto

Asisten pelatih Arema FC, Charis Yulianto. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bek tangguh ini mengawali karier profesionalnya bersama Arema pada musim 1997. Charis Yulianto dibesarkan oleh tim Singo Edan, tapi justru dipanggil Timnas Indonesia ketika sudah hengkang dari Singo Edan.

Charis meninggalkan Arema pada musim 2002. Ketika membela tim besar seperti PSM Makassar dan Persija Jakarta, Charis mulai jadi langganan Timnas Indonesia.

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2008, Charis jadi bagian Tim Merah Putih, puncaknya sebagai kapten Timnas Indonesia pada 2008. Waktu itu Charis membela tim tangguh Sriwijaya FC. Prestasi tertingginya di Timnas Indonesia adalah melaju hingga ke final Piala AFF 2004.

Total Charis memiliki 36 caps bersama Timnas Indonesia dan mencetak 2 gol. Charis menutup kariernya sebagai pemain di Arema pada musim 2012.

Kariernya hampir mirip Aji Santoso. Bedanya, Charis tidak pernah membela Timnas Indonesia ketika masih tercatat sebagai pemain Arema.

Sekarang, Charis merupakan asisten pelatih Arema FC, mendampingi pelatih asing, Mario Gomez. Charis punya masa depan bagus ketika lisensinya sudah memenuhi syarat untuk menjadi pelatih kepala.

 

5 dari 5 halaman

Kurnia Meiga

Kiper Arema, Kurnia Meiga, saat pertandingan melawan Persija pada laga lanjutan liga 1 Indonesia di Stadion Patriot, Bekasi, Jumat (02/06/2017). Persija menang 2-0. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Sepanjang kariernya, Kurnia Meiga hanya membela Arema. Kariernya dimulai sejak diorbitkan pada 2009 hingga berhenti bermain pada 2017 karena pembengkakan syaraf mata.

Kurnia Meiga menjelma jadi kiper tangguh sejak diberi kesempatan tampil pada musim 2010 dan membawa Arema juara ISL tahun itu.

Mengingat usianya masih 19 tahun, Meiga lebih dulu memperkuat Timnas Indonesia U-23. Baru pada musim 2013 dia memperkuat timnas senior.

Harusnya dia punya caps lebih banyak di level senior, tapi dia tersrang penyakit pada puncak kariernya. Pembengkakan syaraf mata membuat Kurnia Meiga hanya punya 10 caps dengan Timnas Indonesia senior. Sementara di level U-23, dia bermain dalam 23 laga. 

Setelah Meiga beristirahat dari sepak bola, bukan hanya Arema yang kehilangan, tapi juga Timnas Indonesia. Belum ada penjaga gawang yang menyamai performa Meiga.

Buktinya, sampai saat ini Arema sering merotasi kiper utama. Begitu juga Timnas Indonesia yang kadang masih melakukan rotasi karena belum puas dengan performa Andritany Ardhiyasa.

Berita Terkait