5 Bintang Afrika di Persib: Jebolan Liga Inggris, King Eze, hingga Si Penari Jaipong

oleh Erwin Snaz diperbarui 03 Mei 2020, 13:15 WIB
Ezechiel N'douassel, Michael Essien dan Makan Konate. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Bandung - Pesepak bola asal benua Afrika menjadi kekuatan tersendiri bagi Persib Bandung dari era Liga Indonesia, ISL, hingga Liga 1. 

Kesuksesan Persib tidak lepas dari kontribusi pemain Afrika. Bahkan satu di antaranya membawa tim Maung Bandung meraih juara ISL 2014.

Advertisement

Pemain asal Afrika yang pernah membela Persib antara lain, Brahima Traore (Burkina Faso), Ayouk Berti (Kamerun), Ikene Ikenwa (Nigeria), Christian Bekamenga (Kamerun) Nyeck Nyobe (Kamerun), Redouanne Barkaoui (Maroko), Abanda Herman (Kamerun).

Kemudian Herman Dzumafo Epandi (Kamerun), Georges Parfait Mbida Messi (Kamerun), Makan Konaten (Mali), Djibril Coulibaly (Mali), Michael Essien (Ghana), Ezechiel N’Douassel (Chad), Moses Sakyi (Ghana), dan Chioma Kinsley (Nigeria).

Dari , lima di antaranya menjadi bintang Persib Bandung. Mereka adalah Michael Essien, Christian Bekamenga, Makan Konate, Redouane Barkoui, dan Ezechiel N'douassel.

Seperti apa sepak terjang mereka? Simak catatan Bola.com berikut ini.

Mau ikuti challenge 5 tahun Bola.com dengan hadiah menarik? Klik Tautan ini.

 

Video

2 dari 6 halaman

1. Michael Essien

Gelandang Persib Bandung, Michael Essien, saat debut resmi di Liga 1 Indonesia. Persib Bandung akan menghadapi tuan rumah PS TNI pada laga pekan kedua Liga 1 di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, 22 April mendatang. (Bola.com/M Iqbal Ichsan).

Michael Essien bisa disebut sebagai transfer terhebat Persib Bandung. Eks pemain Chelsea dan Real Madrid ini menjadi pemain termahal pada Liga 1 2017. Kabarnya nilai kontrak Essien mencapai Rp 9-11 miliar. Media luar pun ramai memberitakan gabungnya Essien ke tim Maung Bandung.

Bersama Persib, Essien bermain selama 2.039 menit dalam 29 kali laga dan melesakkan lima gol. Pada musim 2018, ia meninggalkan Persib lantaran tidak masuk skema pelatih Persib saat itu, Mario Gomez.

Essien memulai kariernya dengan bermain untuk Liberty Professionals di Ghana. Pada 2000, ia hijrah ke Prancis dan bergabung dengan Bastia. Essien menjalani tiga musim di Basria dengan tampil dalam 60 pertandingan, sebelum bergabung dengan Olympique Lyonnais pada 2003.

Di Olympique Lyonnais, Essien memenangkan dua gelar liga dan pertama kali bermain dalam Liga Champions. Setelah lima tahun berkarier di Prancis, ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis.

Pada 2005, Essien menandatangani kontrak dengan Chelsea. Di Chelsea, Essien membantu klub memenangkan Premier League musim 2005–06 dan 2009–10, dan tiga gelar Piala FA dan satu Piala Liga.

Pada 2019, pemain yang sudah berusia 37 tahun ini memperkuat klub Azerbaijan, Sabail FK.

3 dari 6 halaman

2. Christian Bekamenga

Christian Bekamenga (AFP/Frank Ferry)

Pemain kelahiran Yaoundé, Kamerun, 9 Mei 1986 ini, menjadi kekuatan Persib Bandung pada musim 2007 dengan nilai kontrak Rp 1,1 miliar.

Sebelum ke Indonesia, Bekamenga bermain di Liga Malaysia dengan tim Negeri Sembilan. 

Bekamenga pun menjadi idola bobotoh saat itu. Apalagi, ia mampu menunjukan kemampuanya sebagai striker yang tajam. Selama di Persib, ia mencetak 17 gol dari 20 kali penampilan.

Sayangnya, meski mampu memberikan kontribusi besar, Bekamenga akhirnya hengkang dari Persib pada putaran kedua karena kecewa setelah rekan negaranya, Kamerun, Nyek Nyobe Georges Clement dipinjamkan ke Persela Lamongan.

4 dari 6 halaman

3. Makan Konate

Makan Konate merayakan gol kedua Persib yang dicetaknya ke gawang Sriwijaya FC dalam Final Piala Presiden 2015 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (18/10/2015). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Makan Konate gabung Persib Bandung pada musim 2013-2014. Ia langsung menjadi pemain pujaan bobotoh.

Gelandang serang asal Mali ini berperan besar dalam setiap pertandingan Persib saat itu. Ia pun membawa Persib meraih juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015.

Pada 2016, Konate meninggalkan Persib dan bergabung dengan T-Team (Terengganu), Malaysia. Ia kembali ke Indonesia memperkuat Sriwijaya FC lalu ke Arema FC dan kini membela Persebaya Surabaya.

 

Saat membela Persib, Konate bermain selama 2. 542 menit dalam 28 laga dan melesakkan 13 gol. Pada 2015, ia bermain selama 180 menit dalam dua pertandingan tampil dengan 1 gol.

5 dari 6 halaman

4. Redouane Barkaoui

Redouane Barkaoui. (Bola.com/Permana Kusumadijaya)

Barkaoui merupakan satu-satunya pemain dari benua Afrika utara di Persib Bandung. Pada musim 2006 ia mengemas 15 gol. Striker bernomor punggung 10 ini memiliki ciri khas selebrasi unik setiap usai mencetak gol, yakni tari jaipong.

Gaya itulah yang membuat Barkaoui tidak akan pernah dilupakan oleh para bobotoh Persib. Ia pun menjadi pujaan bobotoh kala itu. Barkaoui membawa Persib jadi pemuncak klasemen pada musim 2007-2008.

Sayangnya, Persib gagal meraih juara setelah pada putaran kedua sang pelatih, Arcan Iurie, mengubah kekuatan dengan mendatangkan Leo Chitescu dan memimjamkan Nyeck Nyobe ke Persela.

6 dari 6 halaman

5. Ezechiel N'douassel

Striker Persib Bandung, Ezechiel N'Douasel, bersiap saat akan melawan TIRA Persikabo pada laga Piala Presiden 2019 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (2/3). Persib kalah 1-2 dari TIRA. (Bola.com/Yoppy Renato)

Ezechiel N'douassel adalah striker yang punya gaya unik dan melekat di hati bobotoh Persib Bandung. Pemain kelahiran N'Djamena, Chad, 22 April 1988 ini menjadi kekuatan Persib Bandung pada musim 2017. Ia dikontrak manajemen Persib langung hingga akhir 2019. 

Pada musim 2017, pemain yang akrab King Eze ini bermain selama 1.150 menit dalam 14 laga dengan torehan 4 gol. Pada musim 2018, striker dengan tinggi 186 cm ini semakin percaya diri. Ia melesakkan 17 gol dalam 22 penampilan. Musim 2019, Eze melesakan 15 gol setelah tampil 26 kali selama 2.207 menit.

Berkat ketajaman itu, Eze mendapat julukan lain dari bobotoh, yakni Aliando. Julukan Aliando mengacu pada sinetron Ganteng Gateng Serigala. Eze diibaratkan serigala yang garang di lini depan.

Sayangnya, pada persiapan musim 2020, Eze memilih mundur dan bergabung dengan Bhayangkara FC. Padahal, manajemen Persib masih berniat untuk memperpanjang kontraknya. Mundurnya Eze kabarnya karena dia bukan tipe striker yang diharapkan pelatih Persib, Robert Alberts.

Berita Terkait