Kiper Madura United Melewati Ramadhan Pertama Tanpa Sang Ayah

oleh Aditya Wany diperbarui 04 Mei 2020, 20:15 WIB
Kiper Madura United, Satria Tama (kiri), bersama keluarganya di momen Ramadhan 2020. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Surabaya - Penjaga gawang Madura United, Satria Tama, Hardiyanto, menjalani Ramadhan tahun ini dengan suasana yang berbeda. Satria Tama dan keluarganya berpuasa Ramadhan tanpa kehadiran sosok sang ayah untuk pertama kalinya.

Sang ayah, Bambang Hardiyanto, meninggal dunia pada 29 Juni 2019. Momen ini membuat Satria mengingat kembali bagaimana kebiasaan berbuka puasa dan sahur ketika sang ayah masih ada di rumah. Kiper Madura United itu mulai merindukan momen berharga di rumahnya.

Advertisement

“Ramadhan tahun lalu, keluarga masih lengkap, masih ada Bapak. Sekarang Bapak sudah tidak ada. Ini Ramadhan pertama saya di tengah keluarga tanpa sosok bapak. Kami pasti rindu, tapi juga mengikhlaskan kepulangannya,” kata Satria Tama.

Padahal, pemain berusia 23 tahun itu sekarang selalu menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan berada di rumahnya yang berada di kawasan Surabaya Selatan. Penyebabnya, pandemi COVID-19 membuatnya harus tetap berada di rumah dan tidak banyak bepergian.

Surabaya tercatat sebagai daerah tingkat dua dengan angka kasus terbesar di Jawa Timur. Data terbaru menyebutkan sebanyak 554 orang positif terjangkit Corona di Kota Pahlawan. Satria memetik hikmah bisa berkumpul bersama ibu dan saudaranya dalam situasi pandemi ini.

“Tahun lalu sebenarnya saya jarang berpuasa bareng keluarga di rumah. Soalnya, jadwal Liga 1 cukup padat dan tetap bergulir meski bulan Ramadhan. Alhamdulillah, sekarang bisa kumpul dengan keluarga,” imbuh kiper Madura United itu.

Mau ikuti challenge 5 tahun Bola.com dengan hadiah menarik? Klik Tautan ini.

 

Video

2 dari 2 halaman

Beribadah di Rumah

Satria Tama sebenarnya tinggal di daerah yang dekat dengan sebuah masjid terkenal di Surabaya, yaitu Masjid Al Akbar. Kebanyakan masyarakat Surabaya dan sekitarnya rela datang jauh ke masjid itu hanya untuk salat tarawih atau wisata kuliner.

Kali ini situasinya tentu berbeda karena pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk tidak berkerumun untuk mengurangi potensi penyebaran virus. Satria juga memilih menjalani salat tarawih di rumah saja.

“Kami memutuskan salat tarawih di rumah. Pertama, kami mengikuti anjuran pemerintah. Kedua, beribadah di rumah membuat keluarga kami lebih dekat melewati momen bersama,” ungkap mantan penjaga gawang Gresik United itu.

Berita Terkait