CERITA BOLA: Romansa Chelsea, Analogi Cinta Pandangan Pertama dan Komitmen Tetap Setia

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 11 Des 2020, 08:17 WIB
Cerita Bola - Chelsea (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Ada benarnya juga kata orang, "Cinta pada Pandangan Pertama adalah Wujud dari Cinta Sejati,". Tak melulu seputar romansa antardua insan, perkara cinta padangan pertama juga bisa datang untuk komitmen pada klub sepak bola bernama Chelsea.

Waktu itu cuaca sedang panas-panasnya karena merupakan musim kemarau yang berlangsung pertengahan 2000. Hegemoni Piala Eropa 2000 sedang merambah di seluruh penjuru bumi, tak terkecuali Indonesia.

Advertisement

Berbagai berita mengenai perhelatan Piala Eropa edisi ke-11 mulai disajikan mayoritas media konvensional, yang berbahan kertas maupun elektronik. Meskipun porsinya tak sebesar berita politik yang masih hangat menggelora saat Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid.

Buat anak berusia delapan tahun, politik tentu tak mampu menggugah rasa penasaran. Topik kinerja Presiden Abdurrahman Wahid dan Menterinya di Kabinet Persatuan Nasional-nya tak masuk hitungan pembicaraan tongkrongan, melainkan murid Sekolah Dasar Negeri di Kota Bogor sedang hangat-hangatnya membicarakan Piala Eropa.

Namun, Cerita Bola edisi kali ini bukanlah tentang Piala Eropa atau kemenangan Timnas Prancis dalam menggaet gelar bergengsi itu. Melainkan tentang Chelsea, klub yang waktu itu sebenarnya belum masuk hitungan di percaturan gelar Premier League.

Semua berawal pada momen di mana penulis ingin membeli poster panduan Piala Eropa yang berisi jadwal dan kolom hasil pertandingan.

Poster semacam itu pada masanya adalah starter pack wajib untuk menonton sepak bola sebulan penuh. 

Setelah poster dalam genggaman, penjual menyodorkan sesuatu lainnya. Sebuah poster berisi kumpulan pemain dengan jersey biru cerah yang berpose di dalam stadion, belakangan baru saya tahu itu adalah skuad Chelsea 1999/2000.

"Ini Chelsea calon klub hebat. Ada Si Zola, pemain hebat itu," kurang lebih begitulah rayuan maut dari sang penjual ketika itu.

Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli poster tersebut plus poster sebelumnya agar harganya genap menjadi Rp1.500. Padahal, saya tak mengenal Chelsea, apalagi Si Zola (Gianfranco Zola) namanya masih asing terdengar buat telinga penggemar gim konsol Crash Bandicoot di PlayStations 1 itu.

Mungkin banyak dari kita yang memilih klub sepak bola berdasarkan warna favorit. Dalam otak saya bisa saja ketika itu berasumsi. 

 

"Saya suka warna biru, jadi saya suka klub ini."

Itulah alasan Cinta Pandangan Pertama dengan Chelsea. Tak butuh penjabaran alasan, hanya mengalir begitu saja. Cepat, tepat sasaran, dan seirama antara pilihan hati dan logika.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 4 halaman

Berkembang karena Luka

Para pemain Chelsea tertunduk setelah dipastikan gagal meraih gelar Liga Champions 2007-2008. (AFP/Frank Fife)

Seseorang pernah berkata pada saya, Ketika Diperkuat Luka, maka Cinta akan Semakin Nyata. Hal itu ternyata saya rasakan setelah final Liga Champions 2007/2008. 

Semenjak Liga Inggris tak disiarkan televisi nasional, hubungan saya dengan Chelsea agak merenggang. Maklum, ketika itu televisi nasional lebih memilih menyiarkan Liga Italia dan akses untuk menonton pertandingan secara streaming tidak mudah seperti sekarang.

Harapan satu-satunya adalah ketika Chelsea berlaga di Liga Champions dan bertemu lawan yang bisa menaikkan rating televisi. Walhasil, pertandingan itu pasti disiarkan.

Sepanjang fase grup, Chelsea di bawah asuhan Avram Grant yang menjadi suksesor Jose Mourinho, tampil digdaya dengan meraih tiga kemenangan dan tiga kali imbang. Kubu Stamford Bridge melaju tanpa hambatan ke babak 16 besar dengan predikat juara grup.

Chelsea kemudian mendepak Olympiakos, Fenerbahce, hingga Liverpool. Pada laga pamungkas, terwujudlah All English Final dengan mempertemukan Chelsea versus Manchester United.

Pertandingan yang sangat menguras emosi buat siapa saja yang menyaksikannya. Kali ini, saya yang sudah menginjak usia 16 tahun sedikit banyak mulai paham sepak bola.

Manchester United membuka keunggulan melalui Cristiano Ronaldo pada menit ke-26 sekaligus membuat gemuruh di Luzhniki Stadium. Beruntung Chelsea mampu mencetak gol penyeimbang pada menit ke-45 melalui Frank Lampard.

Pada babak kedua hingga perpanjangan waktu tak ada gol tercipta. Hingga akhirnya laga berlanjut pada drama adu penalti.

Chelsea selangkah lagi meraih trofi Si Kuping Besar karena empat eksekutor awal seperti Michael Ballack, Belletti, Lampard, dan Ashley Cole sukses melakukan tugasnya. Adapun Manchester United dalam posisi tertinggal karena hanya Ronaldo yang gagal pada empat eksekutor awal.

Drama dimulai pada tendangan kelima saat Luis Nani berhasil mencetak gol. Tiba giliran John Terry, semuanya akhirnya hancur. Sang Kapten terpeleset sebelum sukses menendang bola.

Kegagalan Penalti John Terry pada Final Liga Champions 2008 membuat Chelsea gagal menjuarai kompetisi tersebut. (AFP/Frank Fife)

Seketika gelar yang sudah di depan mata sirna. Apalagi Nicolas Anelka juga gagal melakukan tugasnya sehingga Manchester United menjadi juara dengan skor 6-5.

Terry ketika itu terduduk diam di lapangan. Tatapannya kosong dan mungkin air matanya terjatuh, namun tak terlihat karena beradu dengan guyuran air hujan yang menghujam wajahnya. Ada momen di mana saya sempat terpaku selama semenit karena masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Dalam hati masih bertanya sembari menggerutu dengan situasi yang ada. Maklum, ketika itu pengorbanan saya terbilang besar karena sudah terjaga sejak dini hari hingga berani melewatkan salat subuh berjamaah.

Jangankan saya sebagai suporter, Terry ‘Sang Aktor’ saja sampai hari ini mengaku masih dihantui bayangan kegagalannya dalam mengeksekusi tendangan penalti di Final Moskow itu. Pemain asal Inggris itu tak bisa melupakan coreng hitam dalam catatan kariernya itu.

"Bahkan, sampai hari ini ketika saya terbangun di tengah malam, saya masih menyesal. Anda tidak akan pernah bisa mendapatkan kesempatan itu lagi. Saya kira, saya tak akan bisa melupakannya," kata Terry pada April 2020.

Namun, saya justru berterima kasih kepada Terry yang gagal memberikan gelar Liga Champions untuk Chelsea. Sejak saat itu, kecintaan saya terhadap Chelsea semakin bertambah. Kecintaan yang semakin dan akan terus berkembang karena goresan luka masa lalu yang diiringi takdir tak bahagia.

3 dari 4 halaman

Tangis Bahagia Antara Munich dan Kuningan

Para pemain Chelsea merayakan keberhasilan menjuarai Liga Champions 2011-2012.(AFP/Patrik Stollarz)

Sabtu malam 19 Mei 2012, cuaca Jakarta ketika itu sedang cerah-cerahnya dan sedikit lembab. Namun, hal itu tak menyurutkan rencana penulis dan sejumlah kolega untuk menonton pertandingan final Liga Champions. Semangat terbakar karena ini adalah final kedua bagi penulis menyaksikan Chelsea di puncak kompetisi elite Eropa itu.

Walaupun dalam hati agak deg-degan karena Chelsea ketika itu berjumpa Bayern Munchen yang secara kualitas lebih diunggulkan. Maklum, Chelsea ketika itu merupakan tim underdog yang tak masuk hitungan favorit.

Namun, dalam hati ada semangat dan harapan untuk menyaksikan tim favorit meraih gelar perdana Liga Champions. Hal itu terjadi setelah pada semifinal klub asuhan Roberto Di Matteo sukses mendepak sang juara bertahan, Barcelona.

Penulis dan kolega memilih melakukan nonton bareng final Liga Champions di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Tepatnya menonton di Epicentrum Walk, yang ketika itu belum terlalu ramai karena baru dibuka.

Terdapat tiga layar yang digunakan untuk acara nonton bareng tersebut. Mayoritas penonton ketika itu berasal dari suporter Chelsea, mulai yang resmi anggota dari Chelsea Indonesia Supporter Club (CISC) atau yang sipil tanpa keanggotaan. Kebetulan penulis bagian dari CISC Regional Jakarta.

Adapun suporter minoritas dari Bayern Munchen lebih didominasi usia 30 tahunan ke atas. Mereka lebih memilih nonton di beberapa pojok cafe yang menyediakan layar televisi, sembari mencicipi makanan ringan.

Sepanjang pertandingan, irama jantung penulis berdetak kencang. Maklum, serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Bayern Munchen membuat hati jadi tak karuan.

Hingga akhirnya Thomas Muller membuka keunggulan pada menit ke-83. Suasana Epiwalk mendadak hening, hanya sayup-sayup teriakan dari suporter Bayern yang terdengar.

Namun, keheningan tak berlangsung lama karena lima menit berselang tandukan Didier Drogba berhasil menjadi gol penyeimbang. Seketika suara gemuruh dari suporter Chelsea menggema dari seluruh penjuru.

Suasana nonton bareng final Liga Champions 2011-2012 antara Bayern Munchen melawan Chelsea di Epicentrum Walk, Jakarta. (Bola.com/Zulfirdaus Harahap)

Gol itu membuat pertandingan semakin seru dan detak jantung semakin tak karuan. Menjelang akhir babak kedua, Bayern Munchen mendapatkan hadiah tendangan penalti setelah Franck Ribery dilanggar Drogba di kotak terlarang.

"Habis sudah, selesai sampai di sini," kata teman di sebelah saya yang seakan tak percaya menyaksikan drama sepak bola itu.

 Akan tetapi, kami kembali bersorak setelah Petr Cech sukses menggagalkan tendangan penalti Arjen Robben. Pertandingan akhirnya berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Namun, tetap tak ada gol yang tercipta sehingga pemenang harus diputuskan melalui adu tendangan penalti.

Tiga eksekutor Bayern Munchen yakni Phillip Lahm, Mario Gomez, dan Manuel Neuer sukses melakukan tugasnya. Adapun tendangan penalti pertama Chelsea yang diambil Juan Mata gagal menjadi gol.

Sementara itu, David Luiz dan Frank Lampard sukses melakukan tugasnya. Tiba pada giliran tendangan keempat, Ivica Olic gagal mencetak gol ke gawang Chelsea, sedangkan Ashley Cole sukses mengeksekusi tendangan penalti yang membuat skor menjadi 3-3.

Tibalah pada tendangan kelima, Bastian Schweinsteiger gagal melaksanakan tugasnya. Adapun Didier Drogba sebagai eksekutor terakhir sukses mencetak gol sekaligus membawa Chelsea menang dengan skor 4-3. Seketika seluruh Epiwalk tumpah ruah dan merayakan kemenangan Chelsea.

Gemuruh anthem kebesaran Blue is the Colour menggema. Tangis haru dan teriakan bahagia mengalahkan suara ayam penanda malam sudah berganti pagi. Saya dan kolega melanjutkan pesta sembari mengikuti konvoi menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Sebuah malam yang tak akan pernah saya lupakan sebagai suporter Chelsea. Sejak saat itu terbesit sebuah cita-cita, impian, dan harapan dalam diri saya.

Sebelum mati nanti saya harus melakukan dua perjalanan spiritual. Ke Mekkah untuk memantapkan keabsahan saya sebagai muslim dengan melakukan ibadah haji atau minimal umrah dan ke London untuk menonton pertandingan Chelsea secara langsung di Stamford Bridge.

4 dari 4 halaman

Harapan Tinggi pada Super Frank

Gelandang Chelsea, Frank Lampard, berpose bersama trofi Liga Champions yang diraih pada musim 2011-2012. (AFP/Adrian Dennis)

Sejak menjuarai Liga Champions 2011-2012, Chelsea belum lagi mampu menambah koleksi trofi Si Kuping Besar. Memang, Chelsea berhasil menjuarai Liga Europa dalam dua edisi.

Bersama Rafael Benitez pada 2012/2013 dan Maurizio Sarri pada 2018/2019. Namun, tetap saja euforianya tak sebesar saat menjuarai Liga Champions.

Dalam beberapa musim terakhir bahkan pencapaian Chelsea mentok di babak 16 besar Liga Champions. Penantian itu menimbulkan kerinduan buat suporter sejati seperti penulis.

Namun, harapan itu kembali membumbung tinggi pada musim 2020-2021. Chelsea yang kini diasuh Frank Lampard tampil gemilang sepanjang fase grup dengan meraih empat kemenangan dan dua kali imbang.

Catatan yang membuat Chelsea lolos sebagai juara Grup E. Meski demikian, hal itu belum bisa menjadikan acuan karena perjalanan Liga Champions musim ini masih panjang.

Namun, terus terang permainan Chelsea musim ini lebih berkembang. Hal itu terjadi karena sejumlah penambahan amunisi dalam proyek sebesar 247,2 juta euro (Rp4,2 triliun).

Dana itu digunakan untuk belanja pemain semisal Kai Havertz, Timo Werner, Ben Chilwell, Hakim Ziyech, dan Edouard Mendy. Adapun dua nama lainnya semisal Thiago Silva dan Malang Sarr diangkut secara gratis.

Pelatih Chelsea, Frank Lampard, menyemangati pemainnya saat menghadapi Crystal Palace pada laga lanjutan Liga Inggris di Stamford Bridge, Sabtu (3/20/2020) malam WIB. Chelsea menang 4-0 atas Crystal Palace. (AFP/Neil Hall/pool)

Perlahan tetapi pasti, Chelsea kembali menunjukkan taringnya. Baik itu di Liga Champions dan kompetisi lokal bernama Premier League. Paling tidak acuan itu terlihat sampai awal Desember 2020 ini.

Harapan besar tentu saja adalah Frank Lampard mampu memberikan gelar Liga Champions kedua buat Chelsea. Keyakinan penulis sangat kuat untuk hal itu.

Apalagi Lampard adalah mantan pemain sekaligus legenda Chelsea. Lampard berpotensi mengikuti jejak Roberto Di Matteo saat membantu Chelsea menjuarai Liga Champions.

Namun, Frank Lampard tentu tak ingin memasang target terlalu tinggi pada musim ini. Dengan penuh perhitungan, Lampard menyebut Chelsea baru bisa meraih gelar pada musim depan.

"Saat ini, saya pikir kami sedang mengerjakan sesuatu dan orang-orang menjadi sangat bersemangat dan menyebut kami sedang dalam perburuan gelar tahun ini," kata Frank Lampard.

"Saya selalu melihatnya sebagai rencana yang lebih panjang dari itu dan mungkin butuh waktu hingga tahun depan bagi kami untuk benar-benar menantang (gelar juara," tegas Lampard.

Meskipun pahitnya hal itu tak sesuai dengan ekspektasi, cinta saya tak akan luntur terhadap Chelsea. Seperti kata penyanyi Amerika Serikat bernama Tiffany dalam lirik lagunya berjudul 'If Love is Blind' yakni

"If love is blind

I'll find my way with you

'Cause I can't see myself

Not in love with youIf love is blind

I'll find my way with you,"

Bukankah mencintai itu harus siap dalam setiap kondisi, bahagia dan duka, kan? Maka, akan seperti itu pula cinta saya kepada Chelsea dalam suka, duka, menang, kalah, juara, hingga dalam kondisi terhina. Aamiin!