Cerita di Balik Medali Perunggu Rahmat Erwin Abdullah di Olimpiade Tokyo: Impian Sang Ayah Terkabul

oleh Wiwig Prayugi diperbarui 01 Agu 2021, 12:15 WIB
Lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah menyumbang medali ketiga bagi Indonesia dari cabang angkat Besi kelas 73 kg putra di Olimpiade Tokyo 2020, Rabu (28/7/2021). Ia meraih medali perunggu usai menempati posisi teratas di Grup B, dan ketiga secara keseluruhan. (Foto: AP/Luca Bruno)

Bola.com, Jakarta Lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, menjadi satu di antara tiga perai medali Olimpiade Tokyo 2020. Pada debutnya di Olimpiade, Rahmat meraih medali perunggu dengan angkatan total 342kg (snatch 152kg dan clean&jerk 190kg).

Rahmat merupakan putra mantan lifter Indonesia, Erwin Abdullah dan Ami B. Erwin gagal membela Indonesia di Olimpiade 2004 Athena karena mengalami cedera tulang pinggang belakang. Saat itu, Rahmat berusia empat tahun. 

Advertisement

Saat itu, ia dihadapkan dua pilihan, tampil atau tidak. Ia gelisah bukan kepalang setelah Tim Dokter Olimpiade melarangnya bertanding. Sebab, cedera Erwin parah dan berpotensi mengakibatkan dirinya lumpuh total seumur hidup jika tetap memaksakan tampil. Akhirnya, dia memilih untuk tidak tampil dengan pertimbangan keluarga dan masa depan.

"Tampil di Olimpiade itu impian seluruh atlet karena multi event itu merupakan tujuan akhir yang paling membanggakan bagi semua atlet. Sungguh menyedihkan. Saya tidak bisa tampil padahal saya sudah berada di Athena. Makanya, saya menangis dan meneteskan air mata menyesali apa yang terjadi," cerita Erwin.

Erwin mengikuti anjuran dokter untuk tidak tampil karena tidak ingin mengalami kelumpuhan. Ia juga mendengar nasehat pers atase Kontingen Indonesia (Olimpiade 2004, Linda Wahyudi) tentang perlunya memikirkan masa depan anak dan Istri.

"Di situ, saya terbayang wajah istri dan Rahmat yang masih kecil. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib keluarga jika saya tetap memaksakan diri tampil," tambahnya.

Video

2 dari 3 halaman

Tongkat Estafet

Erwin Abdullah bersama anaknya, Rahmat Erwin Abdullah. (Doc NOC Indonesia)

Kini, keikhlasan Erwin itu terbalas. Erwin yang menjadi pelatih Tim Nasional (Timnas) Angkat Besi Indonesia menyaksikan langsung anak semata wayangnya naik ke atas panggung. Bahkan, dia melihat Rahmat dikalungkan medali perunggu. Perasaan terharu dan bahagia pun menyelimutinya melihat prestasi anaknya.

"Di Olimpiade 2004 Athena, saya tidak bisa naik panggung. Tapi, di Olimpiade 2020 Tokyo, Rahmat menggantikan saya naik panggung dan menyumbangkan medali perunggu. Di Athena, saya menangis, Tetapi, di Tokyo, saya terharu melihat anak saya mewujudkan mimpi saya. Kebahagian saya dan istri semakin lengkap karena Rahmat meraih perunggu, di luar ekspetasi saya karena yang sekadar menargetkan delapan besar," kata Erwin.

Ia menjelaskan sudah mengenalkan angkat besi kepada Rahmat sejak usia 8 tahun. Respons sang putra juga menyukainya. Bahkan, Rahmat tetap mau ketika diajak berlatih dengan peralatan seadanya dengan temaram lampu nelayan di Stadion Mattoangin, Makassar, Sulawesi Selatan.

"Saya masih teringat Rahmat di saat awal berlatih pernah berkata, Rahmat mau seperti bapak yang bisa bertanding di dalam negeri dan di luar negeri. Rahmat mau merasakan apa yang pernah bapak rasakan di angkat Besi dan Rahmat juga mau merasakan apa yang bapa tidak pernah merasakan selama menjadi lifter angkat besi. Kata-kata itu kembali teringat," tambahnya.

3 dari 3 halaman

Berita Terkait