Taufik Ramsyah, Choirul Huda, dan 3 Pesepak Bola Liga Indonesia yang Meninggal Dunia akibat Insiden di Lapangan

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 22 Des 2021, 15:15 WIB
Logo Liga 3. (Dok.PSSI)

Bola.com, Jakarta - Sepak bola nasional berduka. Kiper Tornado FC di Liga 2 2021, Taufik Ramsyah meninggal dunia pada Selasa (21/12/2021). Dia mengembuskan napas terakhirnya akibat mengalami benturan kepala.

Insiden itu terjadi tatkala Taufik Ramsyah menjaga gawang Tornado FC melawan Wahana FC dalam babak 6 besar Liga 3 Riau pada 18 Desember 2021.

Advertisement

Ketika hendak menangkap bola liar sambil menjatuhkan badan, kepala Taufik Ramsyah bertabrakan dengan pemain Wahana FC. Kiper kelahiran 12 Mei 2001 itu menderita cedera serius sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Taufik Ramsyah dikabarkan mengalami pendarahan di hidung dan mulut ketika kepalanya terbentur. Penjaga gawang asal Kabupaten Kuantan, Riau itu sempat dioperasi, namun nyawanya tidak tertolong.

"Penjaga gawang masa depan sepak bola Riau, yang sejak kecil sangat mencintai olahraga ini," tulis Tornado FC dalam akun Instagramnya, @tornadofcpekanbaru, Selasa (21/12/2021).

"Momen terakhirnya saat sedang mengawal gawangnya dan melakukan profesi yang amat dicintainya ini. Kini, Taufik sudah lebih dulu meninggalkan kita dengan semangat, pesan, dan buktinya untuk olahraga dan profesi ini," lanjut pernyataan Tornado FC.

Insiden di sepak bola Indonesia kerap memakan korban nyawa. Selain Taufik Ramsyah, Choirul Huda juga meninggal dunia karena peristiwa di lapangan.

2 dari 3 halaman

Choiril Huda dan Akli Fairus

Choirul Huda harus dibawa ke RSUD Dr Soegiri setelah tidak sadarkan diri karena berbenturan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, pada laga Persela melawan Semen Padang di Stadion Surajaya, Lamongan. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Almarhum kiper Persela Lamongan itu wafat pada 15 Oktober 2017. Pada hari yang sama, Choirul Huda bertabrakan dengan pemain Semen Padang di Liga 1 2017.

Choirul Huda sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Namun, mantan kiper Timnas Indonesia itu wafat karena henti napas dan jantung yang mengakibatkan hipoksia alias kekurangan oksigen.

Profesi pesepak bola cukup rentan dengan risiko kematian. Pemain Persiraja Banda Aceh, Akli Fairus meninggal dunia pada 16 Mei 2014 akibat ditendang kiper PSAP Sigli, Agus Rochman.

Kala itu, Akli Fairus bermain untuk Persiraja melawan PSAP di Divisi Utama 2014. Dia wafat karena ususnya terluka kantung kemihnya bocor.

3 dari 3 halaman

Jumadi Abdi dan Eri Irianto

Bonek membentangkan spanduk bergambar legenda Persebaya, Eri Irianto, dalam pertandingan leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4/2019). Persebaya menang 1-0 atas Madura United dalam laga itu. (Bola.com/Aditya Wany)

Gelandang PKT Bontang, Jumadi Abdi meninggal dunia pada 15 Maret 2009. Almarhum mengembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan intensif selama delapan hari di rumah sakit.

Jumadi Abdi diterjang pemain Persela Lamongan, Deny Tarkas ketika membela PKT Bontang di Indonesia Super League (ISL) 2008/2009. Usus halus Jumadi Abdi bocor karena kejadian itu. Akibatnya, sejumlah organ vital bagian dalam mengalami infeksi berat yang disebabkan kuman dari usus halusnya.

Sekitar 21 tahun yang lalu, Indonesia kehilangan bakat terbesar dalam diri Eri Irianto. Gelandang Persebaya Surabaya itu meninggal dunia pada 3 April 2000.

Ketika bermain untuk Persebaya melawan PSIM Yogyakarta pada hari yang sama, Eri Irianto bertabrakan dengan pemain lawan, Samson Noujine Kinga. Mendiang kelahiran 1974 itu pingsan dan berpulang di rumah sakit karena serangan jantung.