Keputusan Tepat Setop Liga 1, Fokus Investigasi Kerusuhan Kanjuruhan

oleh Nandang Permana diperbarui 05 Okt 2022, 08:15 WIB
Massa yang tergabung dalam Ultras Garuda Jakarta mengikuti aksi menyalakan lilin dan tabur bunga untuk korban kerusuhan Stadion Kanjuruhan Malang di depan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (2/10/2022). Aksi tersebut sebagai aksi solidaritas antar suporter dan bentuk keprihatinan atas tragedi kerusuhan suporter sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Bola.com, Bogor - Pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo sepakat jika kompetisi Liga 1 2022/2023 dihentikan sementara sebagai bentuk keprihatinan stakeholder sepakbola nasional.

Dalam masa rehat ini, Kesit berharap pihak terkait mengusut tuntas tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober 2022.

Advertisement

Seperti diketahui, ratusan orang meninggal usai pertandingan Arema FC versus Persebaya yang berkesudahan dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu.

Pasca kejadian itu, PSSI melalui Komisi Disiplin (Komdis) melakukan investigasi. Salah satu hasilnya PSSI menghukum Arema FC tidak boleh menggelar pertandingan dengan penonton dan tidak boleh memainkan laga kandang di Malang.

Selain itu, ketua panitia penyelenggara dan security official dihukum tidak boleh terlibat dalam kegiatan sepak bola seumur hidup. Arema FC pun disanksi denda 250 juta.

 

2 dari 4 halaman

Tepat Hentikan Liga 1

Selain pita hitam, pita merah putih juga terikat di lengan para official dan panitia penyelenggara pertandingan. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Selain sanksi untuk Arema FC, PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) menghentikan kompetisi BRI Liga 1 selama dua pekan.

"Akibat kejadian ini memang sudah seharusnya PSSI untuk sementara menghentikan Liga 1 sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam. Dan juga memastikan bahwa tragedi ini akan diusut tuntas," kata Kesit Budi Handoyo kepada Bola.com, Selasa (04/10/2022).

Menyikapi tragedi Stadion Kanjuruhan, pria yang sering tampil sebagai komentator jalannya pertandingan sepak bola di beberapa stasiun televisi nasional ini menyebut sudah seharusnya masyarakat Indonesia berkabung.

Pasalnya, kata Kesit, korban wafat mencapai ratusan orang dan menjadi perhatian dunia.

"Pertama tentu kita sangat prihatin dengan terjadinya tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter di Malang," ujarnya.

 

 

 

 

 

3 dari 4 halaman

Sanksi FIFA

Berbicara tentang kemungkinan sanksi dari FIFA untuk sepak bola Indonesia, Kesit menyebut hal itu bukan yang mustahil terjadi.

Apalagi, kejadian di Stadion Kanjuruhan ini melebihi jumlah korban dalam tragedi Heysel pada tahun 1985 lalu yang menewaskan 39 orang.

"Sanksi dari FIFA bisa saja diberikan kepada Indonesia mengingat akibat insiden ini banyak suporter yang tewas," kata Kesit.

"Bahkan jumlahnya melebihi korban tragedi Heysel tahun 1985 saat final Piala Champions antara Juventus vs Liverpool yang menewaskan 39 orang atau tragedi Hillsborough di Inggris tahun 1989 yang menewaskan 96 orang."

 

 

 

 

 

4 dari 4 halaman

FIFA Tidak Tinggal Diam

Logo FIFA. (AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI)

FIFA pastinya tidak akan tinggal diam melihat apa yang terjadi di Indonesia. Apalagi Indonesia tak lama lagi bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023.

"Soal apa sanksi yang akan diberikan oleh FIFA tentu belum bisa diketahui," ujarnya.

Kesit mengatakan potensi diberikannya sanksi terhadap Indonesia sangat mungkin, kalau menengok tragedi Heysel 1985, FIFA menghukum Inggris 5 tahun tak boleh aktif di lingkungan Eropa.

"Namun, tragedi di Kanjuruhan Malang berlangsung di liga lokal yang tidak melibatkan klub dari negara lain anggota FIFA," ucap Kesit. 

"Tapi sebagai anggota FIFA tentu Indonesia harus taat dan patuh menjalankan regulasi yang dibuat FIFA khususnya terkait dengan pengamanan penonton di stadion," Kesit mengakhiri pembicaraan.