Muhammad Yunus Bani, Satu Angkatan dengan Fakhri Husaini dan Kini Lahirkan Banyak Pemain Hebat di Qatar

oleh Hendry Wibowo diperbarui 02 Des 2022, 16:00 WIB
Coach Yunus bersama tiga pemain berdarah Indonesia yang kini sudah main di Liga Qatar. (Kiri ke kanan) Khuwailid, Andri dan Ali Tampo. (Dokumentasi Pribadi)

Laporan Langsung Ade Yusuf Satria dan Hendry Wibowo dari Qatar.

Diam-diam ternyata ada pelatih asal Indonesia yang memegang lisensi C UEFA yang tinggal di Qatar. Namanya Muhammad Yunus Bani.

Advertisement

Kami bertemu dengan coach Yunus di sela-sela liputan Piala Dunia 2022. Pria asal Lhokseumawe, Aceh ini dulu juga sempat mengawali karier sebagai pesepak bola.

Namun karena tuntunan pekerjaan, caoch Yunus memilih hijrah ke Qatar pada tahun 1998 dan bekerja di Qatargas.

"Pemain satu angkatan saya itu Fakhri Husaini. Dulu kami sama-sama di Bina Taruna Lhokseumawe," kisah coach Yunus.

"Bersama Fakhri, saya sempat nyaris gabung Timnas Indonesia U-23. Namun karena ada risiko kehilangan pekerjaan, saya harus mengubur impian jadi pemain sepak bola," lanjutnya.

2 dari 5 halaman

Bekerja sembari Melatih

Meski gagal jadi pesepak bola profesional, coach Yunus tetap dekat dengan dunia sepak bola. Sembari bekerja di Qatar, ia melatih Al Khor Community (AKC), yang jika di Indonesia disebut SSB.

AKC ini diisi banyak pemain muda Indonesia yang memang tinggal di Qatar. Bukan cuma Indonesia, banyak ekspatriat lain yang dilatih oleh coach Yunus.

"AKC ini rutin berlatih setiap Selasa sore dan Jumat pagi. Kami sering menjadi sparring partner tim-tim Liga Qatar," kisah coach Yunus.

"Kalau ada pemain yang bagus, Aspire Academy suka meminta dan kebetulan saya punya hubungan baik dengan orang-rang di Aspire," tambahnya.

3 dari 5 halaman

Lahirkan Banyak Pemain

Coach Yunus (kiri) bersama Mustafa Ibrahim, ayah dari Khuwailid Mustafa, pemain Indonesia yang mentas di Liga Qatar. (Hendry Wibowo/Bola.com)

Dari AKC ini, ia melahirkan banyak bakat yang kini mentas di Liga Qatar. Yang berstatus berdarah Indonesia ada nama-nama seperti Khuwailid Mustafa, Farri Agri atau Ali Tampo.

"Sangat menyenangkan bisa bekerja bersama anak-anak ini. Mereka datang dari negara berbeda dan bicara bahasa berbeda," ucap coach Yunus.

"Tapi sepak bola menyatukan mereka semua. Tugas saya adalah membantu mereka berkembang ke arah yang tepat baik secara individu maupun kolektif," tambahnya.

4 dari 5 halaman

Impian

Pada akhirnya coach Yunus punya mimpi bisa memajukan sepak bola di daerah asalnya, Lhokseumawe. Apalagi usia pensiunnya sebagai pekerja sudah makin dekat.

"Saya ingin membuat akademi sepak bola di kampung halaman saya. Mimpi saya, Lhokseumawe punya akademi seperti Aspire di Qatar ini," ujarnya.

"Tentunya tujuan utama, dari akademi itu akan lahir banyak pemain bagus untuk Timnas Indonesia," tambahnya.

Terus berkarya ya coach..

5 dari 5 halaman