Pemain Naturalisasi Melawan Diskriminasi dalam Wacana Regulasi Liga 1 oleh PSSI: Kami Juga WNI!

oleh Wahyu Pratama diperbarui 07 Mar 2023, 09:15 WIB
Otavio Dutra resmi jadi WNI setelah bersumpah setia terhadap NKRI di Kanwil Kemenkum HAM Jawa Timur, Surabaya, Jumat sore (27/9/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Jakarta - Sarasehan sepak bola yang berlangsung di Surabaya akhir pekan lalu, memunculkan banyak 'kontroversi'. Acara yang dihadiri perwakilan klub Liga 1 dan Liga 2 itu membahas beragam hal termasuk wacana perubahan regulasi.

Salah satu yang menimbulkan pro dan kontra adalah pembatasan pemain naturalisasi di setiap klub.

Advertisement

Bila sebelumnya klub-klub Liga 1 maupun Liga 2 tak memiliki batasan, kini mereka hanya boleh merekrut maksimum dua pemain naturalisasi. Ide itu mungkin timbul dari kegemaran beberapa tim yang mengumpulkan banyak pemain naturalisasi.

Madura United misalnya, mereka memiliki empat pemain 'asing' yakni Otavio Dutra, Alberto 'Beto' Goncalves, Lee Yu-jun dan Esteban Vizcarra. Tetapi gagasan tersebut mendapat pertentangan keras.

2 dari 4 halaman

Diskriminatif

Otavio Dutra dikenal sebagai bek tengah yang tangguh dengan postur tinggi badan yang membantunya dalam memenangkan duel-duel udara. Pemain Persija Jakarta yang belum pernah dipanggil ke Timnas Indonesia era kepelatihan Shin Tae-yong. (Bola.com/Yoppy Renato)

Dutra bahkan menilai kebijakan ini sangat diskriminatif dan berharap dunia tak mengecap Indonesia sebagai negara yang demikian andai regulasi itu diterapkan.

"Naturalisasi itu proses bukan status. Di paspor dan KTP, saya adalah seorang Warga Negara Indonesia  seumur hidup dan bukan WNI naturalisasi. jadi aturan itu sungguh tidak masuk akal," tegasnya.

"Semoga itu tidak terjadi, supaya Indonesia tidak dilihat seluruh dunia sebagai negara yang punya diskriminasi," imbuh pemain kelahiran Brasil tersebut.

3 dari 4 halaman

Melanggar Hak Warga Negara Indonesia

Madura United - Beto Goncalves (Bola.com/Adreanus Titus)

Senada, Beto juga mengaku kecewa dengan usulan yang dianggapnya tak berdasar tersebut. Dia menilai pembatasan itu melanggar haknya sebagai seorang WNI yang seharusnya memiliki status yang sama dengan WNI lainnya.

"Jelas saya tidak setuju. Saya bersuara bukan untuk saya saja tapi untuk pemain naturalisasi lain yang lebih muda. KTP kami itu tertulis WNI, enggak ada itu naturalisasi. Jadi WNI ya WNI. Separuh hidup saya adalah Indonesia," tegas Beto.

"Ini kok malah dibatasi. Enggak boleh seperti ini, enggak fair namanya. Semoga PSSI pikir baik-baik lagi," sambungnya.

4 dari 4 halaman

Tinggalkan Brasil demi Indonesia

Striker Timnas Indonesia, Beto Goncalves, menyapa suporter usai mengalahkan Timor Leste pada laga Piala AFF 2018 di SUGBK, Jakarta, Selasa (13/11). Indonesia menang 3-1 atas Timor Leste. (Bola.com/Yoppy Renato)

Pemain berusia 42 tahun tersebut juga menyebut bila keputusan untuk mengajukan proses naturalisasi bukanlah perkara mudah. Ia harus meninggalkan kampung halamannya demi menjadi WNI.

Beto juga mengungkit jasanya untuk Timnas Indonesia. Ia sempat membela tim Merah Putih saat Asian Games 2018, SEA Games 2018 dan Kualifikasi Piala Dunia 2022.

"Mereka harus menghormati kami. Apalagi kami sudah berusaha keras untuk Timnas Indonesia, untuk negara ini. Saya juga pilih negara ini daripada Brasil. Semua keluarga saya pindah ke sini, mau tinggal di sini. Saya berencana main dua tahun lagi, baru pensiun," tandasnya.

Berita Terkait