MU Disikat Tottenham: Ruben Amorim Kasih Instruksi, Pemainnya Enggak Mau Ndengerin

MU kalah lagi, Ruben Amorim kesal pemain tak dengarkan instruksi.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 17 Februari 2025, 13:00 WIB
Bek Manchester United asal Portugal #20, Diogo Dalot (kiri), berebut bola dengan bek Tottenham Hotspur asal Inggris #24, Djed Spence (kanan), selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Tottenham Hotspur dan Manchester United di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 16 Februari 2025. (Glyn KIRK/AFP)

Bola.com, Jakarta - MU kembali mengecewakan setelah kalah 0-1 dari Tottenham, Minggu malam WIB (16-2-2025), menandai kekalahan ketiga mereka dari Spurs musim ini.

Kendati memiliki peluang yang cukup jelas, pasukan Ruben Amorim gagal memanfaatkannya, membuat pelatih asal Portugal itu kecewa.

Advertisement

Usai pertandingan di Tottenham Hotspur Stadium, Amorim mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap sikap beberapa pemain, terutama karena mereka tidak menjalankan instruksi taktis dengan baik.

Sepanjang babak pertama, Amorim berkali-kali meminta Diogo Dalot untuk lebih menekan Son Heung-min guna membatasi ruang gerak bintang Korea Selatan itu. Namun, kurang dari satu menit kemudian, Dalot tetap berada di posisi yang salah, memungkinkan Son melepaskan tendangan voli berbahaya.

Situasi ini menciptakan kekacauan di kotak penalti sebelum James Maddison dengan mudah menyambar bola ke gawang dan membuka keunggulan untuk Spurs.


Masalah Lebih Besar

Gelandang Tottenham Hotspur asal Inggris, James Maddison (kiri), melepaskan tembakan untuk mencetak gol pembuka melewati kiper Manchester United asal Kamerun Andre Onana (kanan) selama pertandingan sepak bola Liga Primer Inggris antara Tottenham Hotspur dan Manchester United di Stadion Tottenham Hotspur di London, Minggu malam WIB (16-2-2025). (Glyn KIRK/AFP)

Kesalahan ini bukan hanya soal lemahnya pertahanan, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih besar: kurangnya konsentrasi dan disiplin dalam skuad MU.

Jika para pemain tidak mampu menjalankan instruksi dasar dengan benar, mereka akan kesulitan beradaptasi dengan sistem 3-4-2-1 yang sedang coba diterapkan Amorim.

Menurut Manchester Evening News, Dalot—satu di antara pemain paling berpengalaman di tim—seharusnya menunjukkan determinasi lebih besar di lapangan, bukan sekadar menunjukkan semangat bertanding dengan aksi kosong sebelum laga dimulai.


Serangan Tumpul

Pemain Tottenham Hotspur, James Maddison, mencetak gol ke gawang Manchester United pada laga pekan ke-25 Liga Inggris di Stadion Tottenham Hotspur, Minggu (16/2/2025). (AFP/Glyn Kirk)

Bukan hanya lini belakang yang bermasalah, lini serang Setan Merah juga gagal memuaskan Amorim. Pelatih berusia 40 tahun itu beberapa kali menunjukkan kekecewaannya, terutama ketika Rasmus Hojlund kembali terjebak offside.

Kamera menangkap momen di mana striker asal Denmark itu tersenyum canggung, tetapi dengan 15 pertandingan berturut-turut tanpa mencetak gol, tidak ada yang bisa ditertawakan.

Statistiknya tak terbantahkan: ini adalah pertandingan ke-10 musim ini di mana MU gagal mencetak gol. Dua striker mereka yang total bernilai 108,5 juta pound—Joshua Zirkzee dan Hojlund—sama-sama bermain sejak awal, tetapi tidak mampu memberikan perbedaan.

Zirkzee sempat tampil mulus dalam beberapa momen, tetapi sundulannya yang meleset dari satu-satunya peluang emas hanya menegaskan ketakefektifannya.


Amorim Lambat dalam Pergantian Pemain

Pelatih kepala Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim, memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Tottenham Hotspur dan Manchester United di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 16 Februari 2025. (Glyn KIRK/AFP)

MU bertandang ke markas Tottenham dengan skuad yang dilanda badai cedera, sesuatu yang tampak jelas dari susunan pemain cadangan mereka.

Delapan dari pemain di bangku cadangan belum pernah bermain untuk tim utama, sementara Victor Lindelof—pemain paling berpengalaman—hanya bisa menjadi semacam pengasuh bagi para pemain muda.

Kendati berada dalam kondisi sulit, Amorim baru melakukan pergantian pemain di menit ke-90. Ketika Tottenham telah menggunakan seluruh lima pergantian pemain untuk menyegarkan tim, MU justru membiarkan pemainnya bertahan di lapangan tanpa perubahan berarti.

Chido Obi-Martin, yang diharapkan menjalani debutnya, baru masuk di masa injury time—bahkan sebelumnya ia sempat bertugas sebagai ball-boy.


Krisis MU Makin Dalam

Pemain United bertepuk tangan kepada penggemar mereka setelah pertandingan Liga Primer Inggris antara Tottenham Hotspur dan Manchester United di Stadion Tottenham Hotspur, London, pada 16 Februari 2025. Tottenham memenangkan pertandingan dengan skor 1-0. (Glyn KIRK/AFP)

Keterbatasan skuad memang menjadi tantangan, tetapi itu bukan alasan bagi MU untuk menerima kekalahan begitu saja. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka telah kalah tiga kali dari tim Tottenham yang dianggap paling lemah sejak 1997.

Di tribune stadion, para fans MU membentangkan spanduk bertuliskan: "We want to get our team back". (Kami ingin tim kami bangkit kembali)

Kekalahan dari Spurs ini menjadi yang ke-12 bagi MU di Premier League musim ini, hanya terpaut dua kekalahan dari total kekalahan mereka musim lalu. Yang lebih mengkhawatirkan, Setan Merah telah kalah dalam sembilan dari 21 pertandingan di bawah Amorim.

Mereka kini berada di peringkat ke-15, bahkan di bawah Everton untuk pertama kalinya sejak 2014.

Amorim mungkin masih mencoba memberi semangat kepada para pemainnya dengan tepuk tangan usai pertandingan, tetapi kenyataannya timnya masih terjebak dalam keterpurukan.

Meski mampu melepaskan 16 tembakan dan memaksa kiper Tottenham, Guglielmo Vicario, melakukan enam penyelamatan gemilang, gol yang mereka butuhkan tidak pernah datang.

Jika Alejandro Garnacho bisa lebih klinis dalam penyelesaian akhir, mungkin MU bisa menghindari kekalahan ketiga dari Spurs musim ini.

Musim ini memang belum berakhir, tetapi tanpa perubahan drastis, MU bisa saja menjalani satu di antara musim paling terlupakan dalam sejarah Premier League.

 

Sumber: Caughtoffside

Berita Terkait