Jelang AS Roma Vs Juventus, Miralem Pjanic Bongkar Keburukan Masing-Masing Klub

Saat klub-klub lamanya bersiap untuk bertanding, Miralem Pjanic mengklaim bahwa Juventus nekat melawan DNA dengan merekrut Thiago Motta, sementara Roma melakukan serangkaian kesalahan besar sebelum Claudio Ranieri datang.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 04 April 2025, 11:15 WIB
Miralem Pjanic. Gelandang Bosnia berusia 32 tahun yang sejak musim 2020/2021 memperkuat Barcelona ini baru saja kembali dari masa peminjaman bersama Besiktas sepanjang musim 2021/2022. Ia pernah meraih gelar di liga top Eropa bersama Juventus sebanyak 4 kali dalam 4 musim berseragam Bianconeri, yaitu musim 2016/2017 hingga 2019/2020. (AFP/Filippo Monteforte)

Bola.com, Jakarta - Saat klub-klub lamanya bersiap untuk bertanding, Miralem Pjanic mengklaim bahwa Juventus nekat melawan DNA dengan merekrut Thiago Motta, sementara Roma melakukan serangkaian kesalahan besar sebelum Claudio Ranieri datang.

Roma akan menjamu Juventus di Stadio Olimpico pada hari Senin (7/4/2025) pukul 1.45 dini hari WIB.

Advertisement

Musim ini telah menjadi tantangan berat bagi keduanya, karena Bianconeri baru saja memecat Thiago Motta untuk menggantinya dengan Igor Tudor, sementara Ranieri adalah pelatih ketiga yang dihadapi Giallorossi musim ini.

"Pada saat ini, Roma memiliki lebih banyak stabilitas, tanpa diragukan lagi," kata Pjanic kepada surat kabar Il Tempo.

"Juve mengganti pelatih karena hasil yang didapat di bawah ekspektasi. Dalam beberapa tahun terakhir, ketika saya masih di klub, mereka selalu bersaing untuk meraih Scudetto. Namun, meskipun ada investasi besar di pasar transfer yang membuat klub berpikir mereka bisa bersaing, sesuatu berjalan sangat salah."

"Beberapa keputusan bertentangan dengan DNA Juventus, tetapi sekarang mereka telah mendatangkan Tudor, yang mengenal dunia Juve dengan baik dan menyadari bagaimana beberapa dinamika bekerja di sana."

Tudor tidak hanya pernah bermain untuk Bianconeri, tetapi juga menjadi asisten pelatih Andrea Pirlo, sehingga ia memiliki pengalaman di setiap aspek klub.

"Dia sudah menunjukkan bahwa dia siap, dan perubahan diperlukan setelah hasil yang tidak sesuai dengan standar mereka."

 


Pjanic Mengkritik Keputusan Roma dan Juventus

Aksi gelandang AS Roma Miralem Pjanic di laga lanjutan Serie A Italia melawan AC Milan di Olimpico Roma, 29 Oktober 2011. Roma kalah 2-3. AFP PHOTO / FILIPPO MONTEFORTE

Mengenai Roma, mereka secara mengejutkan memecat Daniele De Rossi, kemudian mengalami masa singkat di bawah Ivan Juric sebelum Ranieri membalikkan keadaan mereka.

"Mereka membuat beberapa kesalahan besar, yang terbesar adalah memecat De Rossi karena itu terlalu cepat dan skuad terkejut. Tidak semua orang setuju dengan keputusan itu, tetapi terutama, tidak ada yang mengharapkannya," tambah Pjanic.

"Itu adalah langkah yang sama sekali tidak masuk akal ketika musim baru saja dimulai. De Rossi memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi pelatih hebat; saya tahu visinya tentang sepak bola, dan sangat disayangkan dia dipecat begitu awal. Saya yakin dia akan berhasil di masa depan."

"Pelatih yang menggantikan dia tidak memenuhi standar Roma, sementara Ranieri berhasil mengembalikan semuanya ke jalur yang benar. Dia adalah seorang Romanista, mengenal klub ini, memiliki pengalaman, dan dicintai oleh para penggemar."

"Saya pikir mereka akan bersaing untuk masuk empat besar, tetapi mereka terpaksa mengejar ketertinggalan dengan serangkaian hasil positif. Pekerjaan Ranieri mengonfirmasi potensi nyata dalam skuad Roma ini."

 


Juventus Butuh Sosok Seperti Pjanic

Miralem Pjanic pernah bermain dengan Cristiano Ronaldo kala dirinya direkrut oleh Juventus pada tahun 2016. Pada tahun 2020, dirinya memiliki kesempatan merumput dengan Lionel Messi di Camp Nou, walaupun hanya bertahan satu musim. (Foto: AFP/Tiziana Fabi)

Pjanic adalah gelandang kreatif kunci bagi baik Roma maupun Juventus selama kariernya. Lalu tim mana yang saat ini paling membutuhkan sosok seperti dirinya?

"Juventus. Saya pikir lini tengah adalah area fundamental bagi semua tim besar; itu adalah mesin sekaligus arsitek. Ketika Anda memiliki lini tengah yang kuat, tim akan bergerak dengan baik," jawab pemain internasional Bosnia dan Herzegovina tersebut.

"Juve saat ini kekurangan pemain seperti itu, yang dapat memberikan keseimbangan dan mengatur tempo permainan serta mengeluarkan kualitas yang belum sepenuhnya terlihat."

Berita Terkait