Modus Penggelembungan Nilai Transfer Aston Villa dan Chelsea dalam Jual Beli Pemain: Cerdik atau Licik?

Penggelembungan nilai transfer pemain atau inflated player transfers adalah praktik di mana klub memanipulasi nilai transfer pemain guna mendapatkan keuntungan finansial atau mengakali regulasi, seperti Financial Fair Play (FFP).

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 21 Juli 2025, 09:00 WIB
Ian Maatsen merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Club Brugge pada leg 2 babak 16 besar Liga Champions 2024/2025 di Villa Park, Kamis (13/3/2025) dini hari WIB. Aston Villa menang 3-0 (agregat 6-1). (Adrian Dennis / AFP)

Bola.com, Jakarta - Penggelembungan nilai transfer pemain atau inflated player transfers adalah praktik di mana klub memanipulasi nilai transfer pemain guna mendapatkan keuntungan finansial atau mengakali regulasi, seperti Financial Fair Play (FFP). Modus ini bisa terjadi melalui beberapa cara dan melibatkan sejumlah klub besar, termasuk Chelsea dan Aston Villa.

Klub saling menukar pemain dan mencatat transfer dengan nilai sangat tinggi dibanding nilai pasar aslinya. Hal ini dilakukan agar kedua klub dapat mengakui keuntungan modal (capital gain) signifikan di laporan keuangan, meskipun secara nyata uang fisik yang berpindah tidak sebesar yang dicatat.

Advertisement

Biaya transfer yang besar disebar dalam durasi kontrak panjang (misalnya 7–8 tahun), sehingga beban finansial per musim terlihat kecil. Cara ini sebelumnya dimanfaatkan oleh Chelsea, hingga aturan Premier League baru membatasi durasi maksimal amortisasi biaya transfer.

Klub besar membeli pemain dari klub yang “berafiliasi” (melalui pemilik atau jaringan yang sama), dengan harga transfer yang lebih tinggi dari nilai pasar. Uang berpindah ke klub afiliasi dan masuk sebagai “pendapatan”, memperbaiki posisi keuangan di atas kertas.

 


Praktik 'Cerdik' Chelsea

Pedro Neto dan Moises Caicedo melakukan selebrasi usai Chelsea memastikan lolos ke perempat final Piala Dunia Antarklub 2025. The Blues mengalahkan Benfica. (Buda Mendes / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sejak kepemilikan baru, Chelsea kerap membeli pemain muda dengan harga tinggi dan kontrak delapan tahun, seperti Joao Pedro dari Brighton seharga £60 juta. Biaya ini dipecah rata per tahun untuk laporan keuangan, sehingga mengurangi tekanan FFP.

Pengeluaran transfer Chelsea sejak 2022 mencapai sekitar £560 juta hanya untuk lini penyerang, namun dengan menyebar beban biaya, sanksi FFP dapat diminimalisir.

Pembelian Jamie Gittens dari Borussia Dortmund dengan nilai transfer £55 juta juga dikontrak 7 tahun, mengikuti pola yang sama.

 


Aston Villa, Serupa?

Jhon Duran dalam pertandingan Al Nassr vs Al-Ettifaq dalam lanjutan Liga Pro Saudi di Al-Awwal Park, Sabtu dini hari WIB. (22-22-2025). (Bola.com/X Al Nassr)

Villa aktif menjual dan membeli pemain dengan nilai tinggi untuk memperbaiki keuangan dan menyeimbangkan laporan. Misalnya, menjual Jhon Duran ke Al Nassr dengan nilai hingga £65 juta, lalu membelanjakan dana hasil penjualan tersebut untuk pembelian pemain baru seperti Donyell Malen dan Andres Garcia.

Dengan melakukan banyak transfer masuk dan keluar secara bersamaan dengan nilai tinggi, neraca keuangan Villa terlihat sehat dan menghindari pelanggaran aturan Profit and Sustainability Rules (PSR).

Penjualan pemain dengan harga tinggi meski kontribusi di lapangan tidak besar, serta peminjaman dengan opsi pembelian, juga daya tawar untuk mengakali audit keuangan FFP.

Berita Terkait