Panel PBB Desak FIFA dan UEFA Larang Israel Tampil di Sepak Bola Internasional

PBB angkat suara, serukan pelarangan Israel dari ajang sepak bola dunia.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 25 September 2025, 10:15 WIB
Suporter Italia memegang spanduk bertuliskan 'Berhenti' sebelum dimulainya pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup I zona Eropa antara Israel dan Italia pada 9 September 2025 di Debrecen, Hungaria. (Attila KISBENEDEK/AFP)

Bola.com, Jakarta - Sekelompok pakar hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak FIFA dan UEFA untuk menangguhkan Timnas Israel dari turnamen sepak bola internasional.

Seruan ini muncul sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai genosida yang tengah berlangsung di Gaza.

Advertisement

Desakan itu juga datang di tengah ancaman pemerintah Spanyol yang menyatakan siap menarik tim nasional mereka dari Piala Dunia 2026 jika Israel tetap diizinkan tampil.

Spanyol merupakan satu di antara favorit dalam turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Hingga saat ini, Rusia menjadi satu-satunya negara yang dilarang tampil di ajang internasional besar. Namun, menjelang musim panas tahun depan, perdebatan makin menguat terkait apakah Israel juga layak mendapat sanksi serupa.


Posisi Israel di Kualifikasi Piala Dunia

Laga panas antara Timnas Italia kontra Israel di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa. (Attila KISBENEDEK / AFP)

Di Grup I kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Israel kini menempati posisi ketiga di belakang Norwegia dan Italia. Mereka mengoleksi sembilan poin dari hasil laga sejauh ini, terpaut enam angka dari Erling Haaland dkk.

Dengan tiga pertandingan tersisa, peluang Israel untuk meraih tiket play-off masih terbuka.

Namun, panel PBB menyerukan agar tim asuhan Ran Ben Shimon itu dicoret dari persaingan.


Seruan Boikot dari PBB

Sandro Tonali pada pertandingan Timnas Italia kontra Israel di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa. (Attila KISBENEDEK / AFP)

Dalam pernyataan resmi, delapan pakar HAM PBB menegaskan bahwa olahraga tidak boleh bersikap seolah-olah keadaan berjalan normal.

"Olahraga harus menolak anggapan bahwa semuanya baik-baik saja. Badan olahraga tidak boleh menutup mata terhadap pelanggaran HAM berat, terutama ketika platform mereka digunakan untuk menormalkan ketidakadilan," tulis mereka.

Mereka juga menekankan bahwa seruan boikot ditujukan kepada negara Israel, bukan pemain secara individu.

"Kami selalu menegaskan bahwa individu tidak bisa menanggung konsekuensi keputusan pemerintah mereka. Jadi, tidak boleh ada diskriminasi atau sanksi terhadap pemain berdasarkan asal atau kewarganegaraan. Namun, tim nasional yang mewakili negara pelanggar HAM besar-besaran bisa dan seharusnya ditangguhkan, seperti yang pernah terjadi sebelumnya."

Panel PBB menambahkan bahwa organisasi olahraga internasional, termasuk FIFA dan UEFA, memiliki kewajiban tunduk pada hukum HAM internasional sesuai UN Guiding Principles on Business and Human Rights.


Tekanan dari Spanyol hingga Eric Cantona

Mantan pemain sepak bola dan aktor Prancis, Eric Cantona, meninggalkan ruangan setelah menghadiri upacara pemakaman aktor Prancis-Denmark, Niels Arestrup, di luar Gereja Saint-Roch di Paris, pada 10 Desember 2024. (STEPHANE DE SAKUTIN/AFP)

Partai berkuasa di Spanyol, PSOE, juga tidak menutup kemungkinan menarik La Furia Roja dari Piala Dunia jika Israel tetap ikut serta.

Di Inggris, dukungan terhadap seruan boikot muncul dalam konser "Together for Palestine" di London. Legenda Manchester United dan Timnas Prancis, Eric Cantona, turut bersuara lantang.

"Saya tahu sepak bola internasional lebih dari sekadar olahraga. Itu adalah budaya, politik, kekuatan lunak," ujar Cantona.

"Dengan cara sebuah negara menampilkan dirinya di panggung dunia, sudah waktunya Israel dicabut dari hak istimewa itu. Empat hari setelah Rusia menyerang Ukraina, FIFA dan UEFA langsung menangguhkan Rusia. Kini sudah 716 hari sejak Amnesty International menyebut Israel melakukan genosida, tapi Israel masih diizinkan ikut serta," ucapnya.


Respons UEFA

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. (AFP/ARIS MESSINIS)

Di sisi lain, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menyatakan penolakannya terhadap larangan atlet ikut bertanding hanya karena konflik politik.

"Saya tidak mengerti bagaimana seorang politisi yang punya kuasa menghentikan pembantaian bisa tidur nyenyak melihat anak-anak dan warga sipil terbunuh," kata Ceferin kepada POLITICO.

"Tapi, berpikir bahwa sepak bola bisa menyelesaikan masalah ini? Itu mustahil."

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait