Dominasi Premier League di Liga Champions Jadi Tamparan Keras bagi UEFA

Dominasi klub-klub Premier League di Liga Champions musim ini kembali memunculkan ironi besar bagi UEFA.

Bola.com, Jakarta - Dominasi klub-klub Premier League di Liga Champions musim ini kembali memunculkan ironi besar bagi UEFA. Di satu sisi, format baru kompetisi menyuguhkan tontonan spektakuler. Di sisi lain, hasil akhirnya justru menampilkan ketimpangan yang kian telanjang.

Malam terakhir League Phase Liga Champions, Kamis (29-102026) dini hari WIB, menjadi pesta sepak bola yang luar biasa.

Sebanyak 61 gol tercipta dari 18 pertandingan yang dimainkan serentak. Posisi klasemen berubah dari menit ke menit, tim tersingkir secara dramatis, dan ketegangan terasa hingga detik terakhir.

Pemandangan di Lisbon bahkan menghadirkan nostalgia: Jose Mourinho berlari menyusuri sisi lapangan dan merayakan gol penentuan bersama seorang ball boy, setelah kiper Benfica, Anatoliy Trubin, mencetak gol pada sentuhan terakhir laga melawan Real Madrid yang bermain dengan sembilan orang.

Gol itu menyelamatkan Benfica sekaligus menyingkirkan Marseille lewat selisih gol.

Sekilas, semua itu tampak seperti malam sempurna bagi UEFA. Apalagi sebelum format baru diperkenalkan, laga terakhir fase grup kerap diwarnai pertandingan tanpa kepentingan karena tiket kelolosan sudah ditentukan lebih awal.

Kali ini berbeda. Kompetisi terasa hidup, penuh emosi, meski lebih menyerupai pengalaman televisi, yang barangkali memang diinginkan UEFA, daripada pengalaman penonton di stadion yang kemungkinan besar kebingungan mengikuti semua skenario yang terjadi bersamaan.

Namun, jika menoleh ke bagian atas klasemen, justru di situlah masalah besar bagi UEFA terlihat jelas.

Simak ulasan menarik dari Telegraph selengkapnya, di bawah ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Problem Serius

UEFA tentu tidak merancang sistem baru dengan harapan lima klub dari satu negara langsung finis di delapan besar dan melaju otomatis ke babak 16 besar dengan undian menguntungkan, ditambah satu klub lain yang nyaris menyusul. Tetapi, itulah yang terjadi.

Arsenal, Liverpool, dan Tottenham Hotspur finis di empat besar. Artinya, jika melaju sejauh itu, mereka akan mendapat keuntungan memainkan leg kedua babak 16 besar dan perempat final di kandang sendiri.

Khusus Arsenal, yang menyapu bersih delapan laga dengan rekor sempurna, keuntungan itu bahkan berlaku hingga semifinal.

Chelsea juga lolos, sementara Newcastle United menghadapi babak gugur yang relatif bersahabat melawan Monaco (peringkat ke-21) atau Qarabag (ke-22), tim yang sebelumnya dihajar Liverpool enam gol tanpa balas.

Inilah problem serius bagi Liga Champions. Sebuah masalah besar. Format liga dengan 36 tim seharusnya menampilkan keseimbangan dan keberagaman kekuatan Eropa, bukan justru menjadi ajang pamer dominasi Premier League.

Liga Champions sejatinya dimaksudkan sebagai panggung bagi klub-klub terbaik dari seluruh Eropa, bukan kendaraan bagi satu liga untuk memamerkan kekuatan finansial dan kedalaman skuadnya.

Angka Berbicara

Ketika satu liga begitu mendominasi, kompetisi ini justru menonjolkan kelemahannya sendiri, ketimpangan kekuatan antarliga.

Angkanya berbicara lugas. Dari total 48 pertandingan yang dimainkan enam klub Inggris, mereka hanya kalah sembilan kali. Mereka menang 33 kali, mencetak 109 gol, dan hanya kebobolan 45. Dominasi itu hampir mutlak.

Beberapa hasil mencolok memperjelas gambaran tersebut. Newcastle menundukkan PSV Eindhoven, pemuncak Eredivisie dengan keunggulan 14 poin, dengan skor 3-0.

Tottenham, yang hanya berada di peringkat ke-14 Premier League dan manajernya sempat diserukan untuk dipecat, tetap finis keempat di League Phase Liga Champions, hanya kalah sekali, serta mengalahkan Villarreal (peringkat ketiga La Liga) dan Borussia Dortmund (runner-up Bundesliga).

Inter Milan, pemuncak Serie A dan tim terbaik Italia musim ini, dihajar Arsenal di kandang sendiri. Arsenal juga menumbangkan Bayern Munchen, di tengah klaim bahwa klub Jerman itu adalah tim terbaik di Eropa saat ini.

Pada laga terakhir, Chelsea bahkan bertandang ke markas Napoli yang dilatih Antonio Conte dan pulang dengan kemenangan. Hasil itu membuat Napoli finis di posisi ke-30 dan tersingkir.

Sulit Tandingi Kekuatan Premier League

Sementara itu, raksasa-raksasa Eropa seperti Paris Saint-Germain, Real Madrid, Inter, Juventus, dan Atletico Madrid justru harus berkutat di babak play-off, dan tidak semuanya akan lolos.

Faktanya jelas: klub-klub terbaik Eropa makin kesulitan menandingi kekuatan Premier League.

Ketimpangan finansial membuat jurang itu kian melebar, dan Liga Champions kini seperti cermin yang memantulkan kenyataan tersebut tanpa filter.

Ironisnya, satu di antara motivasi utama UEFA memperkenalkan aturan financial fair play dulu adalah untuk mencegah dominasi Inggris.

Bukan kebetulan Michel Platini mendorong kebijakan itu setelah musim 2007/08, ketika hanya tim-tim Inggris yang saling mengalahkan dan final sepenuhnya mempertemukan Manchester United dan Chelsea di Moskow.

Apakah Sejarah Itu Akan Terulang?

UEFA tentu berharap tidak, dan mungkin masih berpegang pada catatan masa lalu. Musim lalu, misalnya, tiga klub Inggris finis di delapan besar, tetapi tak satu pun mencapai final. Paris Saint-Germain, yang hanya finis ke-13, justru keluar sebagai juara.

Sejak 2008, hanya dua final Liga Champions yang sepenuhnya mempertemukan klub Inggris, dan total baru empat klub Inggris yang mengangkat trofi. Sebaliknya, Real Madrid sendirian telah menjuarai kompetisi ini enam kali, sementara Barcelona melakukannya tiga kali.

Ada alasan mengapa dominasi Inggris sering meredup di fase akhir. Platini pernah menyebut klub-klub Inggris sebagai "singa di musim dingin, domba di musim semi".

Di fase awal, dengan kedalaman skuad dan kekuatan fisik, mereka melibas lawan-lawannya, bahkan terkesan mem-bully, seperti saat Chelsea menghancurkan Barcelona 3-0, November lalu.

Namun, di penghujung musim, situasinya kerap berubah. Sepak bola sistem gugur bersifat kejam dan tak terduga. Klub-klub Inggris bisa berhadapan lebih awal, dan kelelahan mulai mengambil peran.

Jadwal Premier League yang padat membuat mereka saling menguras tenaga, berbeda dengan klub seperti Bayern Munche yang relatif melenggang di Bundesliga.

Keletihan mungkin menjadi satu-satunya harapan Eropa untuk meredam Premier League. Meski begitu, harapan itu terasa makin tipis.

Klub-klub Inggris terus menguat, dan Liga Champions perlahan tampak seperti wilayah kekuasaan mereka sendiri, sebuah "super league" versi lain, yang justru lahir di bawah payung UEFA.

 

Sumber: Telegraph

Video Populer

Foto Populer