Bola.com, Jakarta - Dalam rentang beberapa hari, Gabriel Martinelli mengalami dua peran yang bertolak belakang. Dari sosok yang dicerca dan dicap negatif, ia bertransformasi menjadi pahlawan yang dielu-elukan pendukung Arsenal.
Pekan itu ditutup dengan cara yang hampir sempurna. Winger Brasil berusia 24 tahun tersebut mencetak hattrick pertamanya di level senior dan mengantar Arsenal meraih kemenangan 4-1 atas Portsmouth pada babak ketiga Piala FA di Fratton Park, Minggu (11-1-2026) malam WIB.
Sebuah akhir yang kontras dengan sorotan tajam yang ia terima hanya beberapa hari sebelumnya.
Pada Jumat (9-1-2026) dini hari WIB, Martinelli menjadi pusat kritik setelah mendorong Conor Bradley, yang sedang cedera, keluar lapangan pada masa injury time laga imbang 0-0 Arsenal kontra Liverpool.
Aksi itu menuai kecaman luas. Gary Neville, analis Sky Sports, menyebut Martinelli sebagai "idiot" dan menilai tindakannya "memalukan".
Pelatih Liverpool, Arne Slot, mengambil sikap lebih lunak, mengaku masih bisa memahami perilaku tersebut di tengah atmosfer liga yang kerap diwarnai pura-pura cedera dan buang waktu.
Martinelli segera menyampaikan permintaan maaf, baik secara terbuka maupun pribadi. Ia mengaku tidak menyadari tingkat keparahan cedera Bradley dalam panasnya situasi.
Pada Minggu, Liverpool mengonfirmasi bahwa bek kanan tersebut mengalami cedera serius yang membuat musimnya berakhir dan harus menjalani operasi.
Chant, Sindiran, dan Siulan
Insiden itu jelas belum sepenuhnya terlupakan di Fratton Park. Dari sekitar 20 ribu penonton, 3.000 suporter Arsenal yang hadir terdengar beberapa kali melantunkan nyanyian bernada sindiran terhadap Gary Neville.
Ketika pemain Portsmouth, Makenzie Kirk, terjatuh di dekat garis tepi, mereka bahkan meneriakkan chant yang menyindir Martinelli: "Gabi, dorong dia keluar."
Martinelli juga sempat disambut siulan dari publik tuan rumah. Namun, seiring berjalannya pertandingan, sulit membedakan apakah ejekan itu masih terkait insiden Bradley atau semata karena ketajamannya yang menghancurkan Portsmouth.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Martinelli tetap fokus pada permainan, dan hasilnya berbicara.
"Itulah mengapa bermain untuk klub besar membutuhkan kepribadian besar," ujar Mikel Arteta dalam konferensi pers seusai laga.
"Kadang bisa buruk, satu aksi yang keliru, satu momen yang merugikan tim, lalu tiga hari kemudian ada pertandingan lagi. Anda harus mampu bangkit dan membuatnya berarti," lanjutnya.
Timing Bagus
Martinelli melakukan persis seperti yang dikatakan pelatihnya. Arsenal sempat tertinggal cepat oleh gol Colby Bishop pada menit ketiga, tetapi kemudian bangkit dan mengendalikan laga hingga memastikan kemenangan meyakinkan.
Hattrick Martinelli diwarnai dua gol yang hampir identik: sundulan jarak dekat ke tiang dekat, memanfaatkan dua sepak pojok mengarah ke dalam dari Noni Madueke.
"Timing-nya di kotak penalti sangat bagus, terutama saat ia berada di ruang tertentu," kata Arteta.
Melihat betapa berbahayanya Arsenal dari situasi bola mati sepanjang musim, kesulitan Portsmouth sebenarnya tak mengejutkan. Tiga dari empat gol Arsenal berasal dari sepak pojok.
Secara total, The Gunners kini telah mencetak 17 gol dari skema tersebut di semua kompetisi, terbanyak di antara klub Premier League musim ini.
Gol ketiga Martinelli tercipta lewat situasi cepat: tendangan bebas singkat dari Myles Lewis-Skelly yang diakhiri umpan silang Gabriel Jesus untuk diselesaikan kompatriotnya.
Koleksi Gol
Martinelli sejatinya bisa mencetak lebih banyak gol. Di babak pertama, ia sempat membentur tiang dalam situasi yang tampak lebih mudah untuk berbuah gol, serta menyia-nyiakan peluang emas setelah menerima umpan terobosan matang dari kapten sementara, Mikel Merino.
Arsenal bahkan bisa saja menuntaskan laga ini sejak turun minum.
Madueke juga gagal mengeksekusi penalti, mencerminkan penampilannya yang naik-turun: ancaman besar, tetapi penyelesaian yang tak selalu konsisten. Meski begitu, kualitas bola mati Madueke tetap berbuah dua assist.
Hattrick tersebut membuat Martinelli melesat melampaui Bukayo Saka, Leandro Trossard, dan Viktor Gyokeres, yang masing-masing mengoleksi tujuh gol, sebagai pencetak gol terbanyak Arsenal di semua kompetisi musim ini dengan sembilan gol.
Catatan "semua kompetisi" menjadi penting, mengingat hanya satu dari sembilan gol itu tercipta di Premier League.
Hal itu dapat dimaklumi, mengingat performa apik Trossard membuat menit bermain Martinelli di liga menjadi lebih terbatas. Namun, Arsenal masih berburu prestasi di berbagai ajang. Kemenangan ini memastikan mereka tetap bersaing di empat kompetisi sekaligus.
Pemain Penting
Dalam konteks tersebut, kontribusi pemain seperti Martinelli, yang bisa menjadi spesialis laga piala, sangat krusial untuk mengakhiri puasa trofi klub.
Arteta juga menyambut kembalinya Kai Havertz, yang menggantikan Jesus dan mencatat penampilan pertamanya sejak pekan pembuka musim.
Di bulan dengan jadwal padat di semua kompetisi, kedalaman skuad Arsenal datang pada waktu yang tepat. Regenerasi pun terus berjalan: bek berusia 16 tahun, Marli Salmon, masuk sebagai pemain termuda Arsenal di Piala FA.
Namun, hari itu tetap milik Martinelli, beserta bola pertandingan yang ia bawa pulang. Arteta tak menyembunyikan kekagumannya pada mentalitas sang winger.
"Saya menyukainya," kata Arteta.
"Gabi, dalam situasi apa pun, dimainkan atau tidak, tampil bagus atau tidak, dia selalu siap. Hari ini dia mencetak tiga gol."
"Besok dia akan berlatih dengan intensitas penuh, saya yakin."
"Itu tidak akan berubah, dan itulah Gabi," tegas Arteta.
Sumber: The Athletic