Ledakan Amarah Declan Rice dan Musuh Terbesar Arsenal yang Datang dari Dalam

Ledakan amarah Declan Rice dan mengapa lawan terbesar Arsenal adalah diri mereka sendiri.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 19 Januari 2026, 10:30 WIB
Gelandang Arsenal, Declan Rice, menggiring bola dalam laga Liga Inggris melawan Nottingham Forest di City Ground, Nottingham, Sabtu (17/1/2026). (AP Photo/Dave Shopland)

Bola.com, Jakarta - Arsenal pulang dari City Ground dengan satu poin usai bermain imbang tanpa gol melawan Nottingham Forest, Minggu (18-1-2026) dini hari WIB.

Hasil itu sekaligus membuat keunggulan The Gunners di puncak klasemen Liga Inggris melebar menjadi tujuh poin. Namun, suasana yang tercipta justru jauh dari kata perayaan.

Advertisement

Kekalahan Manchester City lebih dulu pada hari yang sama sejatinya membuka peluang bagi Arsenal untuk menjauh hingga sembilan poin.

Kesempatan itu terlewatkan, dan raut frustrasi tampak jelas di wajah para pemain, seolah membeku. Ekspresi itu paling nyata terlihat pada Declan Rice, sosok yang kerap menjadi pemimpin emosional di lapangan.

Rice memang dikenal memiliki sisi ekspresif sejak masih membela West Ham United, kerap mengangkat tangan atau menunjukkan gestur kecewa setiap kali melihat umpan yang melenceng.


Luapan Kekecewaan

Gelandang Arsenal asal Inggris bernomor punggung 41, Declan Rice, mengoper bola saat berada di bawah tekanan dari bek Nottingham Forest asal Brasil bernomor punggung 05, Murillo, selama pertandingan Liga Inggris antara Nottingham Forest dan Arsenal di The City Ground di Nottingham, Inggris tengah, Minggu (18-1-2026) dini hari WIB. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Kali ini, kekecewaan itu tertangkap kamera tanpa perlu bantuan pembaca gerak bibir yang kerap diandalkan media.

"Fcking sht, every f*ucking time," ucap Rice, tepat ketika kamera televisi merekam momen tersebut, sebuah cuplikan yang tentu membuat operator kamera merasa berhasil menangkap gambar berharga.

Kendati Rice mungkin lebih bijak jika meluapkan emosinya jauh dari sorotan publik, insiden itu justru menguatkan dugaan yang telah terasa sepanjang musim: Arsenal terlihat kesulitan menikmati permainan mereka sendiri.

Secara kualitas, Arsenal jelas merupakan tim terbaik di Liga Inggris saat ini, terutama ketika para pesaingnya silih berganti terjebak dalam krisis.

Penambahan kedalaman skuad pada bursa transfer musim panas lalu merupakan keputusan tepat, terlebih di tengah padatnya kalender kompetisi.

Namun, penampilan melawan Nottingham Forest kembali menegaskan sisi lain Arsenal musim ini: permainan yang kerap terasa berat dan kurang menggigit. Pola serangan terlihat sederhana, sementara sentuhan kreativitas nyaris tak kasatmata.


Titik Buta

Viktor Gyokeres (tengah) mandul saat Arsenal bermain imbang 0-0 kontra Nottingham Forest pada laga pekan ke-22 Premier League di The City Ground, Minggu (18/01/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Dave Shopland)

Mikel Arteta dinilai memiliki titik buta. Fokus tim terlalu condong pada struktur tanpa bola, menekankan pressing, kerja keras bertahan, dan duel fisik, ketimbang memberi ruang bagi pemain dengan kecerdasan dan kreativitas lebih tinggi.

Eberechi Eze, misalnya, hanya mendapat kesempatan singkat, meski Martin Odegaard tampil di bawah standar. Situasi serupa dialami Ethan Nwaneri, yang juga minim menit bermain.

Dalam fase menyerang, Arteta tampak memiliki satu pendekatan utama: mengirim umpan silang ke kotak penalti. Pertanyaannya, untuk siapa? Bukan Viktor Gyokeres, rekrutan baru Arsenal yang kembali tampil buruk.

Gaya bermain Arsenal kini lebih menonjolkan atletisme ketimbang estetika. Arteta seolah memaksa pemain menyesuaikan diri dengan visinya, alih-alih merancang serangan berdasarkan kekuatan individu yang dimiliki.

Di titik ini, kehadiran pelatih khusus lini serang terasa makin mendesak.


Menikmati Momen

Bek Arsenal, Noni Madueke, mengirimkan umpan silang melewati gelandang Nottingham Forest, Nicolás Domínguez, dalam pertandingan Liga Inggris antara Nottingham Forest dan Arsenal di The City Ground, Nottingham, Inggris bagian tengah, pada 17 Januari 2026. (AFP/Justin Talis)

Ketegangan yang menyelimuti Arsenal pun bukan semata persoalan fisik, melainkan juga mental. Klub ini memang tak pernah membutuhkan banyak pemicu untuk berada di ambang ledakan emosi.

Penantian panjang gelar Liga Inggris, terlebih setelah tiga musim beruntun finis sebagai runner-up, membuat musim ini terasa sarat tekanan. Aktivitas transfer musim panas lalu, meski masuk akal, jelas diarahkan untuk menang sekarang juga. Tanpa alasan.

Ada kesan suporter Arsenal takut larut dalam euforia. Mereka seakan terbelenggu kekhawatiran bahwa segalanya bisa berantakan sewaktu-waktu dan menjadi bahan olok-olok di media sosial.

Para pemain pun tak sepenuhnya kebal terhadap rasa itu. Demam panggung tampak menjelaskan sejumlah penampilan Arsenal musim ini, ketika mereka lebih sibuk mengelola pertandingan daripada memercayai kemampuan sendiri.

Padahal, masa indah tak berlangsung selamanya. Saat nanti ambisi juara harus disimpan dan target kembali sekadar lolos ke Liga Europa, banyak pendukung mungkin akan menyesal karena tak benar-benar menikmati momen ini.

Di tengah segala kebisingan, satu fakta tetap tak terbantahkan: Arsenal memperlebar jarak di puncak klasemen Liga Inggris. Itu seharusnya menjadi alasan untuk tersenyum, bukan menenggelamkan diri dalam rasa malu yang diciptakan sendiri.

 

Sumber: Planet Football

Berita Terkait