Drama Final Piala Afrika 2025: Penalti Kontroversial Brahim Diaz Picu Teori Konspirasi

Final Piala Afrika 2025 antara Maroko dan Senegal berubah menjadi salah satu laga paling kontroversial dan penuh drama dalam sejarah turnamen.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 19 Januari 2026, 06:51 WIB
Penyerang Maroko, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi tendangan penalti di hadapan kiper Senegal #16, Edouard Mendy, pada pertandingan final Piala Afrika (CAN) antara Senegal dan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026. (SEBASTIEN BOZON / AFP)

Bola.com, Rabat - Final Piala Afrika 2025 antara Maroko dan Senegal berubah menjadi salah satu laga paling kontroversial dan penuh drama dalam sejarah turnamen.

Laga di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB, diwarnai serangkaian keputusan kontroversial wasit, intervensi VAR, aksi walkout pemain, hingga penalti gagal yang dilakukan bintang Real Madrid, Brahim Díaz.

Advertisement

Kekacauan yang terjadi di menit-menit akhir laga memicu perdebatan luas dan bahkan melahirkan teori konspirasi di kalangan penggemar sepak bola dunia.

Setelah 90 menit berjalan tanpa gol, Senegal sempat merasa berada di ambang gelar juara. Pada menit kedua masa tambahan waktu, Ismaila Sarr sukses menyundul bola ke gawang Maroko dari jarak dekat. Stadion seketika bergemuruh, dan para pemain Senegal merayakan gol yang diyakini sebagai penentu kemenangan.

Namun euforia tersebut tidak berlangsung lama. Wasit ternyata telah lebih dulu meniup peluit karena menilai terjadi pelanggaran ringan dalam proses terjadinya gol. Keputusan tersebut langsung memicu kemarahan besar dari para pemain Senegal dan staf pelatih di pinggir lapangan, yang menilai pelanggaran itu terlalu lunak untuk membatalkan gol sepenting itu di partai final.


Penalti Kontroversial Maroko, Senegal Hampir WO

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Ketegangan belum sempat mereda ketika beberapa menit berselang, Maroko justru mendapatkan hadiah penalti. Brahim Díaz mengklaim dirinya ditarik dari belakang saat berada di dalam kotak terlarang. Wasit sempat melakukan pengecekan melalui VAR, sebelum akhirnya menunjuk titik putih.

Keputusan tersebut membuat situasi semakin panas. Pemain dari kedua tim, termasuk staf pelatih dan ofisial, berhamburan mendekati sisi lapangan. Adu argumen, dorong-dorongan, dan protes keras tak terelakkan, menciptakan suasana chaos di stadion.

Merasa dirugikan oleh dua keputusan besar yang merugikan mereka secara beruntun, pelatih Senegal Pape Thiaw mengambil langkah ekstrem. Ia memerintahkan para pemainnya untuk meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.

Sebagian pemain langsung menuju lorong menuju ruang ganti, sementara yang lain bertahan di lapangan dengan ekspresi kebingungan, tidak yakin apakah pertandingan benar-benar akan dilanjutkan. Laga pun tertunda selama kurang lebih 15 menit, menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya di partai final Piala Afrika.


Penalti Brahim Diaz Gagal

Kiper Senegal, Edouard Osoque Mendy (kanan), mendekati pemain Maroko, Brahim Abdelkader Díaz, sebelum ia mengeksekusi tendangan penalti pada pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Youssef Loulidi)

Setelah melalui negosiasi panjang, para pemain Senegal akhirnya kembali ke lapangan untuk menyelesaikan laga. Namun waktu tambahan praktis hanya tersisa untuk satu momen krusial: eksekusi penalti Brahim Díaz.

Seluruh beban sejarah kini berada di pundak Brahim Díaz. Satu gol saja akan mengantarkan Maroko meraih trofi Piala Afrika pertama mereka dalam 50 tahun. Namun apa yang terjadi justru di luar dugaan.

Alih-alih mengeksekusi penalti dengan aman, Díaz memilih melakukan Panenka. Sayangnya, eksekusi tersebut terlalu lemah dan mudah dibaca. Kiper Senegal, Edouard Mendy, dengan tenang menangkap bola tanpa kesulitan.

Stadion terdiam. Peluang emas Maroko lenyap seketika, sementara Senegal seolah mendapat pembenaran atas perjuangan dan protes mereka.


Munculnya Teori Konspirasi

Kegagalan penalti tersebut langsung memicu gelombang teori konspirasi di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan keputusan Díaz melakukan Panenka di situasi sepenting itu. Bahkan tim siaran televisi di Inggris secara terbuka mendiskusikan kemungkinan apakah Díaz sengaja gagal, mengingat kekacauan dan tekanan luar biasa yang terjadi sebelumnya.

Meski demikian, anggapan tersebut sulit dibuktikan. Fakta bahwa Díaz sendiri yang paling vokal meminta penalti setelah dilanggar membuat teori tersebut terasa tidak masuk akal. Namun dalam konteks final Piala Afrika yang sarat kontroversi ini, hampir tidak ada skenario yang terasa mustahil.

Sumber: Marca

Berita Terkait