Bola.com, Jakarta - Real Madrid akhirnya kembali ke jalur kemenangan setelah melewati pekan kelam yang berujung pada kegagalan di Piala Super Spanyol, tersingkir dari Copa del Rey, serta pemecatan Xabi Alonso. Los Blancos menundukkan Levante 2-0 dalam lanjutan La Liga, namun hasil positif itu tidak serta-merta meredakan gejolak di Santiago Bernabeu.
Alih-alih disambut euforia, kemenangan tersebut justru diiringi atmosfer panas dari tribun. Sepanjang laga, siulan dan cemoohan menggema, menandai kekecewaan mendalam suporter terhadap performa tim dan kondisi internal klub.
Pertandingan ini juga menjadi momen debut Alvaro Arbeloa sebagai pelatih kepala Real Madrid di La Liga. Mantan bek Madrid itu naik jabatan dari Castilla hanya beberapa hari setelah pemecatan Alonso, dan langsung memimpin tim utama di tengah situasi penuh tekanan.
Di hari ulang tahunnya yang ke-43, Arbeloa memang meraih kemenangan perdana. Namun, suasana Bernabeu yang tegang menjadi pengingat bahwa tugas terbesarnya bukan sekadar mengoleksi poin, melainkan memulihkan kepercayaan publik Madridista.
Cemoohan Fans Mengarah ke Pemain dan Presiden Klub
Sejak sebelum kick-off, tanda-tanda ketegangan sudah terasa. Kedatangan bus tim ke Bernabeu disambut reaksi dingin, jauh dari atmosfer meriah yang biasa terlihat pada laga besar Real Madrid.
Saat para pemain melakukan pemanasan, siulan kembali terdengar, termasuk kepada Thibaut Courtois yang sebelumnya relatif luput dari kritik. Intensitas cemoohan meningkat ketika susunan pemain diumumkan, dengan Vinicius Junior, Jude Bellingham, serta Federico Valverde menjadi sasaran utama.
Tak hanya pemain, presiden klub Florentino Perez juga menjadi target kemarahan suporter. Sepanjang laga, chant bernada “Florentino mundur” terdengar berulang kali, termasuk pada menit kelima dan saat jeda babak pertama. Ini menjadi momen langka, mengingat terakhir kali Bernabeu melontarkan kritik terbuka kepada Perez terjadi pada 2015.
Permintaan Arbeloa Tak Digubris Bernabeu
Menjelang laga, Arbeloa sebenarnya telah meminta dukungan penuh dari suporter. Ia bahkan mengutip sosok legendaris Juanito, yang namanya selalu dikenang pada menit ketujuh setiap laga kandang.
“Saya paham fans Madrid sedang terluka dan kecewa, tetapi saya meminta mereka mendukung para pemain,” ujar Arbeloa. “Juanito selalu mengatakan 90 menit di Bernabeu itu sangat panjang, dan itu bukan berarti stadion harus melawan timnya sendiri.”
Namun, permintaan tersebut nyaris tak mendapat respons. Bernabeu justru mencatat salah satu atmosfer paling tegang dalam beberapa dekade terakhir, dengan siulan terdengar sejak awal hingga akhir pertandingan.
Arbeloa Bela Vinicius, Puji Produk Akademi
Selepas laga, Arbeloa tak menutupi kekecewaannya terhadap situasi tersebut. Ia menegaskan keyakinannya pada Vinicius Junior, yang kembali menjadi sasaran kritik suporter.
“Satu-satunya yang akan saya lakukan adalah bekerja untuk mengeluarkan potensi terbaik Vinicius,” kata Arbeloa. “Saya akan menuntut rekan setimnya untuk terus mencari dia, karena dia adalah salah satu pemain paling mematikan di dunia. Saya sangat bangga menjadi pelatihnya.”
Di sisi lain, publik Bernabeu tetap memberi apresiasi kepada pemain akademi. Raul Asencio, yang mencetak gol kedua lewat sundulan meski bermain dengan masker pelindung hidung, mendapat sambutan positif. Gonzalo Garcia juga menerima tepuk tangan atas kontribusinya, sementara Arda Guler dinobatkan sebagai pemain terbaik laga.
Kemenangan ini memberi tiga poin penting bagi Real Madrid. Namun, bagi Arbeloa, hadiah ulang tahun tersebut hanyalah awal dari pekerjaan besar, membenahi suasana ruang ganti sekaligus meredam kegelisahan yang terus bergema dari tribun Santiago Bernabeu.
Sumber: New York Times