Bola.com, Jakarta - Sejak resmi berseragam Manchester United dengan nilai transfer mencapai 60 juta paun pada musim panas 2023, perjalanan karier Mason Mount tak selalu berjalan mulus. Cedera dan persaingan ketat di lini tengah membuat kontribusinya di lapangan kerap terhambat.
Namun, di balik dinamika tersebut, laporan terbaru mengungkap bahwa Mount justru menuai kesuksesan besar di luar lapangan, dengan pundi-pundi jutaan paun yang mengalir dari bisnis yang ia jalankan.
Gelandang berusia 27 tahun itu meninggalkan Chelsea, klub masa kecilnya, setahun sebelum kontraknya berakhir. Saat itu, Mount sudah mengoleksi gelar Liga Champions bersama The Blues.
Kendati secara teori bisa didapatkan secara gratis pada musim panas berikutnya, MU tetap memutuskan menggelontorkan dana besar demi memboyongnya ke Old Trafford.
Namun, musim debut Mount di MU jauh dari kata ideal. Persaingan dengan Bruno Fernandes membuat menit bermainnya terbatas.
Sepanjang musim Liga Inggris, ia hanya mencatatkan 521 menit bermain dan total 20 penampilan di semua kompetisi, angka yang jauh dari ekspektasi untuk pemain dengan label harga setinggi itu.
Bisnis Tumbuh Pesat
Cedera berulang turut menghambat konsistensi Mount. Tak sedikit pendukung Setan Merah yang mulai mempertanyakan kelayakan investasi tersebut dan mendesak manajemen, termasuk Sir Jim Ratcliffe, untuk melepasnya secepat mungkin.
Meski begitu, sebagian fans tetap mengapresiasi etos kerja dan dedikasi sang pemain.
Data Transfermarkt mencatat Mount telah absen dalam 54 pertandingan sejak pindah dari Chelsea ke United pada 2023.
Dengan gaji sekitar 150 ribu paun per pekan, Mount tentu tetap menikmati penghasilan besar dari sepak bola. Namun, kecerdikannya dalam mengelola keuangan di luar lapangan menjadi sorotan tersendiri.
Bersama sang ayah, Tony Mount, ia menjalankan perusahaan bernama Stone Elite. Di bawah payung perusahaan ini, Mount mengelola bisnis properti sekaligus perusahaan induk.
Aset Elite Stones
Laporan keuangan yang diajukan ke Companies House pekan ini menunjukkan aset Stone Elite mencapai 5,7 juta paun (Rp130,5 miliar) pada Juni 2025, melonjak signifikan dari 4,4 juta paun pada 2024.
Bahkan, nilai keuntungan tersebut diperkirakan bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat pada laporan keuangan berikutnya.
Tak hanya itu, daya jual Mount sebagai publik figur juga tetap tinggi. Ia mengantongi kontrak endorsement bernilai besar dengan merek-merek ternama seperti Nike dan Pepsi Max.
Wajahnya bahkan terpampang di botol minuman Pepsi Max sebagai bagian dari kampanye promosi.
Menariknya, Mount juga sempat terlihat mengenakan sepatu dari Adidas dan Mizuno. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa ia berpotensi menandatangani kesepakatan sepatu baru yang lebih menguntungkan dalam waktu dekat.
Fokus Kembali ke Lapangan Hijau
Dengan urusan bisnis yang sebagian besar ditangani oleh sang ayah, Mount kini bisa lebih memusatkan perhatian pada kariernya di lapangan.
Potensi hengkangnya Bruno Fernandes pada bursa transfer musim panas mendatang bisa membuka peluang bagi Mount untuk mengisi peran yang lebih sentral di lini tengah Setan Merah.
Namun, kedatangan Matheus Cunha, yang dinilai paling efektif bermain di belakang striker tunggal, berpotensi menambah persaingan. Situasi ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi Mount, yang pernah menjadi pemain kesayangan mantan pelatih Chelsea, Frank Lampard.
Tak bisa dipungkiri, Mount dikenal sebagai pemain yang selalu dipercaya para pelatihnya. Ia kerap dicap sebagai anak emas pelatih, seorang pemain sistem dengan etos kerja tinggi.
Meski mungkin tak seproduktif Fernandes dalam urusan gol, Mount menawarkan intensitas, disiplin, dan kecerdasan taktis.
Sejauh ini, sejak pindah dari London ke Manchester, Mount telah mencatatkan 66 penampilan bersama MU. Musim 2025/26 disebut-sebut sebagai periode terbaiknya sejak bergabung.
Jika mampu kembali ke performa puncak seperti saat membela Chelsea, Mason Mount berpeluang membuktikan bahwa investasi besar MU terhadap dirinya bukanlah keputusan yang keliru.
Sumber: Give Me Sport