Finis Kelima Kini Tak Lagi Gagal: Premier League Kian Dekat dengan Tiket Bonus Liga Champions

Ada masa ketika finis di empat besar Premier League menjadi batas hidup dan mati sebuah musim.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 28 Januari 2026, 12:00 WIB
Pemain Chelsea Cole Palmer berdiri di lapangan pada laga Premier League/Liga Inggris antara Man City vs Chelsea di Manchester, Inggris, Minggu, 4 Januari 2026. (AP Photo/Dave Thompson)

Bola.com, Jakarta - Ada masa ketika finis di empat besar Premier League menjadi batas hidup dan mati sebuah musim. Di luar itu, segalanya terasa gagal. Namun, peta sepak bola Eropa kini berubah. Finis kelima di kasta tertinggi Inggris bukan lagi hukuman, melainkan hadiah.

Musim lalu, Newcastle United menjadi saksi nyata perubahan itu. The Magpies mengakhiri kompetisi di posisi kelima, unggul tipis atas Aston Villa pada pekan terakhir, dan tetap melenggang ke Liga Champions. Sesuatu yang, beberapa tahun lalu, hampir mustahil dibayangkan.

Advertisement

Kini, saat Liga Champions dan Liga Europa memasuki pekan penentuan fase liga musim ini, satu pertanyaan besar kembali mengemuka: apakah Premier League kembali berpeluang mendapatkan jatah lima tiket ke Liga Champions musim 2026/2027?

Jawabannya, semakin mendekati kata “ya”.

 


Matematika Dingin UEFA yang Menentukan Nasib Liga

Pemain Chelsea merayakan gol ke gawang Pafos dalam laga matchday ketujuh Liga Champions 2025/2026 di Stamford Bridge, London, Kamis (22/1/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Kin Cheung)

Sistem koefisien UEFA bukanlah bacaan ramah bagi penggemar awam. Deretan angka tiga desimal, proyeksi, dan probabilitas sering kali terasa membosankan. Namun, di balik semua itu, ada konsekuensi besar yang menentukan nasib klub dan liga.

Setiap kemenangan di kompetisi Eropa bernilai dua poin, hasil imbang satu poin. Tambahan poin diberikan untuk setiap fase yang berhasil dilewati, dengan Liga Champions menawarkan “bonus” paling besar dibanding Liga Europa dan Conference League.

Seluruh poin tersebut kemudian dikumpulkan oleh federasi masing-masing negara, lalu dibagi dengan jumlah klub yang berpartisipasi. Dua negara dengan rata-rata tertinggi berhak atas tiket tambahan Liga Champions pada musim berikutnya.

 


Premier League Melaju Sendirian di Depan

Napoli vs Chelsea di Liga Champions. (Bola.com/Gregah Nurikhsani)

Untuk musim ini, Premier League nyaris tanpa pesaing. Inggris saat ini memimpin klasemen koefisien UEFA, dengan sembilan wakil yang masih aktif di kompetisi Eropa.

Arsenal tampil sempurna di Liga Champions dengan tujuh kemenangan dari tujuh laga. Aston Villa menggila di Liga Europa dengan enam kemenangan. Total, wakil Inggris telah mengoleksi 40 kemenangan dan delapan hasil imbang di seluruh ajang UEFA musim ini.

Dengan banyak klub Inggris diprediksi melaju ke fase gugur, posisi dua besar hampir mustahil terlepas dari genggaman Premier League. Artinya, tiket kelima Liga Champions musim depan nyaris terkunci.

 


Polandia Sempat Mengejutkan, Tapi Tak Bertahan Lama

Pemain Chelsea, Estevao (kanan), merayakan gol kedua timnya bersama rekan-rekannya dalam pertandingan pembuka Liga Champions antara Chelsea dan Barcelona di London, Selasa, 25 November 2025. (Foto AP/Kin Cheung)

Kejutan datang dari Polandia. Ekstraklasa sempat menempel Inggris di posisi kedua, berkat performa konsisten Rakow Czestochowa, Legia Warsaw, Lech Poznan, dan Jagiellonia Bialystok.

Namun, sistem penilaian UEFA membuat posisi ini rapuh. Ketika klub-klub dari Spanyol, Italia, dan Jerman mulai mengumpulkan poin besar dari fase gugur Liga Champions, Polandia hampir pasti tersingkir dari dua besar.

Proyeksi Opta bahkan memberi peluang hanya 0,5 persen bagi Polandia untuk mempertahankan posisinya.

 


Italia, Spanyol, dan Jerman Saling Jegal

Pemain Pafos, Jaja (kiri), dan pemain Chelsea, Alejandro Garnacho, berebut bola dalam pertandingan Liga Champions di Stamford Bridge, Inggris, Kamis (22/1/2026). (AP Photo/Kin Cheung)

Perebutan satu tiket bonus tersisa diperkirakan akan menjadi pertarungan tiga negara besar: Italia, Spanyol, dan Jerman.

Namun, masing-masing menghadapi ancaman. Spanyol hampir pasti kehilangan Villarreal, Athletic Club juga terancam gugur. Jerman sudah kehilangan Eintracht Frankfurt, sementara Bayer Leverkusen masih terseok-seok. Italia pun belum aman, dengan Napoli terancam gagal menembus 24 besar.

Sebaliknya, Inggris nyaris tanpa beban. Tidak ada wakil yang berada di ambang eliminasi massal.

 


Realita Baru: Separuh Premier League Masih Boleh Bermimpi

Pemain Chelsea, Moises Caicedo (tengah), merayakan golnya dalam pertandingan Liga Champions melawan Pafos di Stamford Bridge, Inggris, Kamis (22/1/2026). (AP Photo/Kin Cheung)

Inilah efek domino dari dominasi tersebut. Dengan tiket kelima hampir pasti tersedia, peta persaingan domestik ikut berubah.

Bahkan klub-klub papan tengah Premier League kini boleh bermimpi. Tim seperti Bournemouth, yang berada di peringkat ke-13 tetapi hanya terpaut tujuh poin dari posisi kelima, masih punya alasan rasional untuk menargetkan Liga Champions.

Sebuah realita baru telah lahir. Finis kelima kini bukan sekadar penghiburan, melainkan gerbang menuju panggung tertinggi Eropa.

Dan selama Premier League terus menguasai Eropa lewat performa kolektifnya, garis batas antara “sukses” dan “gagal” di Inggris akan terus bergeser.

Sumber: The Athletic

Berita Terkait