Bola.com, Jakarta - Meski musim ini masih terlalu dini untuk menentukan siapa yang bakal juara, banyak pendukung Arsenal mulai gelisah, baik secara harfiah maupun kiasan, di kursi mereka.
Kekalahan dari Manchester United (MU) di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026), menjadi yang ketiga berturut-turut bagi Arsenal tanpa kemenangan di Premier League.
Keunggulan tujuh poin yang sebelumnya tampak meyakinkan kini menyusut menjadi empat poin, sebuah pengingat akan rapuhnya posisi klasemen di sepak bola modern.
Namun, dari posisi yang masih sangat menguntungkan ini, apa sebenarnya yang bisa diceritakan sejarah tentang peluang Arsenal meraih gelar?
Arsenal dan Bayang-bayang Terpeleset di Masa Lalu
Arsenal pernah memimpin klasemen Premier League pada tahap musim seperti ini dalam tiga kesempatan sebelumnya, tetapi hanya sekali berujung gelar, yakni musim tak terkalahkan 2003/2004. Saat itu, mereka unggul dua poin setelah 23 pertandingan.
Situasi serupa terjadi pada musim 2022/2023. Tim asuhan Mikel Arteta memimpin dua poin setelah 23 laga dan bahkan memperlebar jarak menjadi delapan poin setelah 29 pertandingan, meski memainkan satu laga lebih banyak dari Man City. Namun, Arsenal justru runtuh di fase akhir musim.
Keunggulan terbesar Arsenal setelah 23 pertandingan adalah lima poin pada musim 2002/2003. Pada musim itulah istilah squeaky bum time muncul, ketika manajer MU saat itu, Sir Alex Ferguson, berusaha memberi tekanan psikologis kepada Arsenal. Tim London Utara itu akhirnya tersandung dan finis lima poin di belakang MU, yang merebut kembali gelar juara.
Preseden Lebih Banyak Berpihak kepada The Gunners
Meski masa lalu Arsenal tidak selalu menggembirakan, preseden Premier League justru memberi harapan. Dalam sejarah liga, pemuncak klasemen yang unggul setidaknya empat poin pada tahap ini telah terjadi 20 kali, dan hanya empat di antaranya yang gagal menjadi juara.
Newcastle United terkenal menyia-nyiakan keunggulan 12 poin pada musim 1995/1996. MU juga pernah kehilangan keunggulan lima poin atas Arsenal pada 1997/1998, sebelum situasi itu berbalik lima tahun kemudian.
Liverpool sempat memimpin empat poin pada 2019 dan tidak terkalahkan dalam 15 laga sisa, menang 11 kali, tapi tetap kalah tipis dari Man City yang tanpa ampun.
Jika ditarik mundur ke sepekan lalu, saat Arsenal masih unggul tujuh poin, tidak ada tim di abad ini yang gagal menjadi juara setelah memimpin dengan keunggulan serupa usai 22 pertandingan.
Dalam sejarah Premier League, hanya Newcastle (1996) dan MU (1998), dengan keunggulan masing-masing sembilan dan tujuh poin, yang gagal mengonversi posisi tersebut menjadi gelar.
Pendapat Pundit dan Eks Pesepak Bola Premier League
Analis data Opta masih memberikan Arsenal peluang 81,7 persen untuk menjuarai liga, berdasarkan 10.000 simulasi dari sisa pertandingan masing-masing tim.
Namun, para pundit tidak sepenuhnya yakin Arsenal akan mengakhiri puasa gelar liga selama 22 tahun musim ini.
Mantan kapten Arsenal peraih gelar, Patrick Vieira, mengatakan:
“Masih ada beberapa pertanyaan tentang kekuatan mental tim ini. Ketika saya mengatakan sekarang atau tidak sama sekali untuk menjuarai liga, itu karena tim-tim lain tidak sedang tampil baik. Akan menyedihkan melihat mereka kehilangan momentum itu, jadi itulah mengapa penting untuk tetap bersatu dan menciptakan kebersamaan ini agar terus tampil maksimal.”
Legenda Manchester United, Peter Schmeichel, juga menyoroti faktor internal:
“Saya pikir kurangnya pengalaman semua orang di Arsenal dalam tidak memenangkan Premier League, dan telah finis kedua selama tiga tahun serta selalu dekat, itu sekarang kembali menghantui mereka. Ini bukan tekanan dari luar, melainkan lebih ke dalam. Itu sesuatu yang harus mereka pelajari, dan mereka harus mempelajarinya dengan cepat.”
Namun, pencetak gol terbanyak sepanjang masa Premier League, Alan Shearer, tetap optimistis:
“Saya tidak berpikir ini waktunya panik. Anda pasti akan mendapatkan hasil-hasil buruk di suatu titik musim. Anda harus tetap tenang.”
Arteta sendiri mengakui margin yang sangat tipis setelah kekalahan dari Manchester United, dengan mengatakan kepada BBC:
“Perbedaannya sangat kecil dan kami membuatnya menjadi lebih kecil lagi. Sekarang kami harus bereaksi dan melihat seperti apa karakter kami.”
Jawaban atas semua pertanyaan itu kemungkinan akan mulai terlihat saat Arsenal menghadapi Leeds United di Elland Road pada Sabtu (31/1/2026).
Sumber: BBC Sports