Bola.com, Jakarta - Timnas Inggris disebut bisa berada dalam posisi terikat kontrak untuk tetap tampil di Piala Dunia 2026, meski belakangan muncul seruan agar sejumlah negara memboikot turnamen tersebut akibat situasi politik di Amerika Serikat.
Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, wacana boikot sempat mengemuka.
Isu politik di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, dari kebijakan imigrasi, larangan perjalanan, hingga peran ICE, memicu kekhawatiran di kalangan suporter maupun federasi sepak bola.
Diskursus serupa juga muncul di Eropa. Pada Sabtu (31-1-2026), Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) menggelar pertemuan untuk membahas kemungkinan boikot, sebelum akhirnya menegaskan bahwa Timnasl Jerman tetap akan ambil bagian di Piala Dunia 2026.
Dengan waktu kurang dari lima bulan menuju turnamen, perbincangan soal boikot dan potensi pengecualian negara peserta diperkirakan masih akan terus bergulir.
Kecil Boikot Massal
Meski begitu, hingga kini FIFA tidak pernah mengindikasikan akan mengecualikan negara peserta mana pun. Di sisi lain, belum ada pula federasi nasional yang secara resmi menyatakan niat memboikot turnamen tersebut.
Menurut Profesor Simon Chadwick, pakar industri olahraga yang pernah menjadi penasihat FIFA dan Barcelona, ada alasan mendasar mengapa boikot massal dinilai kecil kemungkinannya terjadi.
Chadwick menyebut, upaya menyatukan banyak negara dalam satu sikap bersama akan sangat sulit, meski ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan adanya aksi boikot secara individual.
Chadwick juga menjelaskan bahwa menjelang turnamen besar seperti Piala Dunia, biasanya terdapat perjanjian kontraktual yang melibatkan FIFA, penyelenggara turnamen, dan federasi nasional. Kontrak inilah yang kerap luput dari perhatian publik.
Diikat Kontrak
Mengambil contoh Inggris dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Chadwick mengatakan kepada SPORTbible bahwa keberadaan kontrak tersebut bersifat implisit, meski detailnya tidak selalu diketahui secara luas.
“Saya tidak tahu apakah kontraknya sudah ditandatangani atau belum, tetapi secara implisit memang ada kontrak. Ini sesuatu yang mungkin tidak banyak disadari orang. Anda tidak sekadar memainkan beberapa pertandingan, lolos, lalu selesai," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ada perjanjian yang mengikat antara FIFA, turnamen, dan federasi nasional seperti FA. Jika sebuah federasi secara sepihak melanggar kontrak tersebut, sanksi berpotensi dijatuhkan.
"Ada perjanjian kontraktual antara FIFA, turnamen, dan asosiasi nasional. Jika Anda secara sepihak memutuskan melanggar kontrak itu, maka sangat mungkin akan ada sanksi. Anda akan dikenai hukuman sebagai konsekuensinya," jelasnya.
Bagaimana Pemain?
Ketika ditanya apakah kewajiban serupa juga berlaku bagi pemain, Chadwick menjelaskan bahwa akan ada proses dialog terlebih dahulu antara pemain dan federasi.
"Akan ada diskusi dan dialog antara pemain dan FA. Bersama-sama mereka akan mencari cara paling tepat untuk menangani situasi tersebut," katanya.
"Namun, pada dasarnya, jika Anda seorang pemain dan mengatakan, 'Saya tidak akan naik pesawat hari ini karena saya tidak setuju dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat', maka secara teknis Anda telah melanggar kontrak," tutur Chadwick.
Kendati berbagai spekulasi terus beredar, perlu ditegaskan bahwa tidak ada indikasi Inggris maupun para pemainnya berniat memboikot Piala Dunia 2026.
Sumber: Sportbible