Simalakama Banjir Pemain Naturalisasi di BRI Super League: Antara Hak Asasi dan Kualitas Prestasi

Gerbong banjir pemain naturalisasi berlabel Timnas Indonesia terus terjadi di BRI Super League 2025/2026.

BolaCom | Gatot SumitroDiterbitkan 09 Februari 2026, 20:15 WIB
Pemain Timnas Indonesia, Shayne Pattynama (kiri), Thom Haye (tengah), dan Jordi Amat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum laga uji coba melawan Tanzania di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Minggu (02/06/2024). (Bola.com/Abdul Aziz)

Bola.com, Jakarta - Gerbong banjir pemain naturalisasi berlabel Timnas Indonesia terus terjadi di BRI Super League 2025/2026. Situasi ini bak simalakama, karena menyangkut hak asasi pemain. Tapi bagaimana soal prestasi?

Keran kepulangan pemain diaspora dimulai ketika Bali United merekrut Jens Raven. Dewa United mengikat Rafael Struick di bursa transfer pertama musim ini. Kehadiran kedua striker muda ini memantik reaksi negatif.

Advertisement

Di usia produktif seharusnya Jens Raven dan Rafael Struick lebih banyak menghabiskan kariernya di luar negeri untuk menimba ilmu di Liga Eropa atau Liga negara lain yang lebih kompetitif.

Ibarat debu tertiup angin. Komentar minor itu pelan-pelan sirna. Jens Raven dan Rafael Struick bisa menikmati atmosfer kasta tertinggi Indonesia dengan baik. Meskipun keduanya harus rela minim dapat menit bermain di Bali United dan Dewa United.

Pada bursa transfer kedua, gelombang mudik pemain diaspora muncul lagi. Kali ini Dion Markx merapat ke Persib. Sedangkan Shayne Pattynama dan Ivar Jenner digaet Persija.

 


Tetap Menyayangkan

Butuh waktu lebih dari tiga bulan bagi Rafael Struick mencetak gol untuk Dewa United. Kurun waktu yang tentu saja tidak sebentar untuk ukuran striker. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Ibarat api dalam sekam. Komentar miring pun mencuat lagi. Redaksi bahasanya sama yaitu menyayangkan ketiga pemain itu berkarier di Tanah Air.

"Pemain keturunan berkarier di Super League ibarat simalakama. Satu sisi itu hak asasi pemain mau berkiprah di Liga mana pun. Klub juga punya hak merekrut siapa pun untuk memperkuat skuatnya. Kita di luar sistem hanya bisa bicara tanpa kekuatan," kata Toni Ho.

Pelatih senior yang pernah menangani PSM dan Persebaya ini hanya menyayangkan para pemain yang relatif berusia muda harus berkarier di Indonesia.

"Misi awal program naturalisasi Timnas Indonesia memulangkan pemain diaspora yang berkarir di Liga Eropa. Karena mereka dinilai punya kelebihan karena bermain di Liga yang sangat ketat. Sayang jika mereka harus pulang dan main di Liga Domestik," jelasnya.

 


Bisa Dapat Menit Bermain Lebih Banyak

Mauro Zijlstra resmi diperkenalkan sebagai pemain baru Persija Jakarta, Rabu (4/2/2026). (Dok. Persija)

Memang ada keuntungan jika pemain naturalisasi tersebut adu kebolehan di BRI Super League.

"Keuntungannya bisa lebih mudah memanggil mereka untuk membela Timnas Indonesia di laga internasional. Tapi saya khawatir dengan atmosfer liga kita yang belum bagus akan memengaruhi kualitas para pemain," ujarnya.

Sementara, lanjut Toni Ho, para pemain butuh kelangsungan karier dengan tampil reguler di kompetisi.

"Masalahnya sangat kompleks. Saya kira semua pemain ingin terus bermain di kompetisi manapun. Saya berharap pemain naturalisasi yang masuk di putaran kedua lebih banyak dapat menit bermain. Tidak seperti Jens Raven dan Rafael Struick," tuturnya. 

Berita Terkait