Real Madrid Pernah Mematahkan Jose Mourinho, dan Kini The Special One Bisa Membalas di Liga Champions

Jose Mourinho yang pernah menangani Real Madrid kini menghadapi Los Blancos sebagai arsitek tim Benfica yang berhadapan di Liga Champions.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 17 Februari 2026, 06:00 WIB
Sebuah momen hampir mustahil terjadi di Estadio da Luz, Lisbon. Ketika waktu hampir habis dan harapan Benfica tampak memudar, justru sang kiper, Anatoliy Trubin, muncul sebagai pahlawan. Gol sundulannya di menit ke-98 menjadi penutup laga penuh drama yang mengantar Benfica asuhan Jose Mourinho ke babak play-off Liga Champions. (AP Photo/Armando Franca)

Bola.com, Jakarta - Jose Mourinho tidak pernah menjadi sosok yang akan menghilang secara perlahan dari panggung besar. Kini, Real Madrid kembali dihadapkan kepada bayang-bayang masa lalu saat bersiap menghadapi Benfica dengan ambisi Liga Champions di ujung tanduk.

Selama tiga tahun penuh gejolak di Santiago Bernabeu pada 2010 hingga 2013, Real Madrid dinilai telah mengubah The Special One menjadi sosok yang lebih normal.

Advertisement

Namun, pengalaman itu justru membuat Los Blancos paham betul Jose Mourinho selalu menyimpan kejutan, terutama ketika taruhannya adalah tiket ke babak 16 besar.

Musim ini, Mourinho sudah lebih dulu “menghantui” mantan klubnya dengan kemenangan dramatis 4-2 di fase liga bersama Benfica.

Laga itu disegel oleh gol sundulan kiper Anatoliy Trubin di masa tambahan waktu, hasil yang menyeret Madrid ke babak playoff sekaligus menjaga asa tim Lisbon tetap hidup.

Kedua tim kini kembali dipertemukan di playoff 16 besar, dengan leg pertama di Estadio da Luz sebelum penentuan di Real Madrid.

Dengan Mourinho disebut-sebut akan menggantikan Roberto Martinez sebagai pelatih Portugal usai Piala Dunia 2026, setiap laga Liga Champions bisa menjadi yang terakhir baginya. Dan menghadapi klub yang membentuk sekaligus melukainya menjadi panggung yang sangat simbolis.


Dendam Lama dan Luka Bernabeu

Gaya pelatih Real Madrid Jose Mourinho bermain dengan bola di sela-sela latihan skuad di Santiago Bernabeu, 13 Agustus 2011, menjelang laga Supercup lawan Barcelona. AFP PHOTO / DANI POZO

 

Apakah Mourinho tipe pribadi yang akan menikmati balas dendam dengan menyingkirkan Madrid dari Liga Champions, 13 tahun setelah meninggalkan Bernabeu? Jawabannya: sangat mungkin.

Sejak meninggalkan Madrid pada 2013, setelah hanya memenangkan satu La Liga, Copa del Rey, dan Supercopa, Mourinho memang masih meraih sejumlah gelar.

Ia memenangkan Premier League bersama Chelsea (2015), UEFA Europa League dengan Manchester United (2017), serta UEFA Conference League bersama AS Roma (2022). Namun, capaian terbesar dalam kariernya datang sebelum ia tiba di Madrid.

Sebelum menangani Los Blancos, Mourinho adalah mesin trofi: juara Liga Champions bersama FC Porto dan Inter Milan, enam gelar liga dalam delapan tahun bersama Porto, Chelsea, dan Inter, serta total 17 trofi dalam periode tersebut.

Sebaliknya, dalam 16 tahun setelah era emas itu, bersama Madrid, periode kedua Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur, AS Roma, hingga Fenerbahce, ia hanya mengoleksi sembilan trofi. Banyak yang menilai kemunduran itu dimulai di Madrid.

Di Bernabeu, ia terlibat konflik dengan pemain senior berpengaruh seperti Iker Casillas dan Sergio Ramos. Rivalitas sengit dengan Pep Guardiola dan Barcelona yang diperkuat Lionel Messi juga menggerus aura tak terkalahkannya.

Jika sebelumnya ia menikmati loyalitas penuh dari para pemain besar, di Madrid koneksi itu retak, dan tak pernah benar-benar pulih, termasuk dalam perselisihan dengan Eden Hazard, Paul Pogba, hingga Dele Alli di klub-klub berikutnya.

Sumber yang pernah bekerja bersamanya di Chelsea menyebut Mourinho berubah pada periode keduanya. Masa di Madrid meninggalkan luka permanen, membuatnya lebih keras dan kurang populer di ruang ganti maupun ruang direksi.


Bernabeu Adalah Pengalaman Terbaik

Pelatih baru Real Madrid Jose Mourinho diperkenalkan ke publik di Santiago Bernabeu, Madrid, 31 Mei 2010. AFP PHOTO/Dani Pozo

 

Secara terbuka, Mourinho justru menyebut Madrid sebagai puncak pengalaman kariernya. Dalam wawancara dengan Channel 11 Portugal pada 2019, ia berkata:

“Real Madrid adalah pengalaman terbaik saya karena apa yang saya pelajari sebagai pelatih, sebagai seorang pria, dari pelajaran yang saya ambil dalam karier dan hidup saya. Itu adalah kenangan terbaik dalam karier saya, sungguh fantastis."

Namun, realitasnya terasa berbeda. Itu adalah pekerjaan terbesar dalam karier Mourinho, tetapi berakhir tanpa kepuasan penuh dan tanpa tingkat kesuksesan yang diharapkan dirinya maupun Madrid.


Benfica dan Satu Momen Terakhir di Liga Champions

Pelatih Benfica, Jose Mourinho, merayakan kemenangan atas Real Madrid bersama anak gawang di Liga Champions, di Estadio da Luz, Lisbon, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Armando Franca)

Apa pun yang terjadi, Mourinho tak pernah kehilangan kemampuannya menciptakan tajuk utama. Kemenangan 4-2 atas Madrid bulan lalu adalah contoh klasik.

Jika ia tidak memerintahkan kiper Anatoliy Trubin maju dalam upaya terakhir, Benfica mungkin tak akan mencetak gol krusial yang membawa mereka ke playoff, dan duel dua leg melawan Madrid pekan ini tak akan pernah terjadi.

Menariknya, Mourinho belum pernah kembali melatih di Bernabeu sejak pergi pada 2013. Ia memang pernah meraih kejayaan Liga Champions di stadion itu bersama Inter saat final 2010 melawan Bayern Munchen, tetapi sebagai pelatih tim tamu di laga kompetitif melawan Madrid, momen ini akan sarat emosi.

Ada banyak alasan bagi Real Madrid untuk waspada. Reuni dengan Mourinho bukan sekadar pertandingan biasa. Bisa jadi, ini adalah satu sorotan terakhirnya di panggung Liga Champions, dan ia tentu ingin memastikan sorotan itu datang dengan cara yang paling dramatis.

Sumber: ESPN

 

Berita Terkait