Bola.com, Jakarta - Pernyataan tegas datang dari winger Antony yang kini memperkuat Real Betis terkait isu rasialisme yang kembali mencuat di sepak bola Eropa. Topik ini mencuat setelah insiden yang melibatkan bintang Brasil Vinicius Junior dalam pertandingan melawan Benfica di ajang Liga Champions UEFA.
Dalam pertandingan tersebut, Vinicius disebut menerima perlakuan rasial dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Kasus ini langsung menjadi sorotan luas karena kembali membuka luka lama tentang diskriminasi ras di dunia sepak bola.
Antony pun ikut angkat bicara ketika ditanya mengenai kejadian tersebut. Ia mengakui tidak secara langsung menghubungi Vinicius, tetapi isu rasialisme menurutnya sudah terlalu sering terjadi dan memberikan tekanan psikologis bagi para pemain.
Menurut Antony, kejadian seperti ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ia menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang persaingan yang sehat, bukan tempat bagi tindakan diskriminatif.
Rasialisme Tidak Boleh Dianggap Normal
Antony memulai pernyataannya dengan menyoroti betapa seriusnya masalah rasialisme di sepak bola modern. Ia menilai isu ini bukan sekadar kontroversi di lapangan, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus ditangani dengan tegas.
Ia juga menegaskan bahwa kejadian yang dialami pemain lain dapat berdampak secara emosional pada banyak pemain, termasuk dirinya sendiri. Situasi seperti ini membuat para pemain merasa tidak nyaman dan tertekan.
Karena itu, Antony menilai penting bagi semua pihak untuk tidak menganggap remeh tindakan rasialisme. Menurutnya, sepak bola harus menjadi contoh dalam melawan diskriminasi.
"Saya tidak menghubunginya langsung. Tetapi ini adalah isu yang sudah sangat membuat stres, karena bagi saya tidak dapat diterima jika Anda menerima rasisme seolah-olah itu sesuatu yang normal," ujar Antony.
"Itu harus dihentikan. Saya benar-benar tidak tahu 100 persen apa yang terjadi, tetapi saya akan berbicara dalam konteks umum," lanjutnya.
Pengalaman Pribadi Membuat Antony Bersikap Tegas
Antony juga mengungkapkan bahwa pandangannya tentang rasialisme tidak lepas dari latar belakang pribadinya. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang membuatnya sangat peka terhadap isu diskriminasi ras.
Menurut pemain asal Brasil itu, pengalaman hidupnya membuat ia memahami betapa menyakitkannya perlakuan rasial. Hal tersebut menjadi alasan mengapa ia tidak bisa menerima tindakan seperti itu di sepak bola.
Ia pun menegaskan bahwa provokasi di lapangan memang bagian dari pertandingan, tetapi tidak boleh menyentuh aspek rasial. Bagi Antony, ada batas yang tidak boleh dilanggar dalam kompetisi olahraga.
"Rasisme adalah hal yang sangat serius. Saya punya ibu berkulit hitam, saya punya saudara laki-laki berkulit hitam dan saya juga merasakannya," kata Antony.
"Jadi, kalau Anda ingin menghina seseorang, silakan menghina sebagai provokasi biasa, tetapi bukan yang berkaitan dengan rasisme," tegasnya.
Desakan Agar Pelaku Rasialisme Dihukum
Lebih lanjut, Antony menilai kasus rasialisme harus ditangani dengan tindakan nyata, bukan sekadar kecaman. Ia percaya hukuman yang tegas dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Pemain berusia 20-an itu juga mengakui bahwa isu ini sempat memengaruhi perasaannya sejak pagi hari ketika kabar tersebut mencuat. Hal itu menunjukkan betapa serius dampak psikologis yang ditimbulkan oleh tindakan rasialisme.
Ia menekankan bahwa semua pihak di sepak bola, baik pemain, klub, maupun otoritas kompetisi, harus bersatu melawan tindakan diskriminatif. Tanpa sikap tegas, menurutnya, masalah ini akan terus muncul.
"Ini adalah isu yang bahkan membuat saya bangun pagi ini dengan sedikit stres karena hal tersebut. Kita harus melawan ini, orang-orang harus dihukum ketika melakukan tindakan rasisme," ucap Antony.
"Seperti yang saya katakan, saya tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dengan Benfica, apakah ada yang diucapkan atau tidak, tetapi saya berbicara secara umum. Kita memang harus melawan rasisme, dan orang-orang tersebut harus dihukum," lanjutnya.
Sumber: Sportynet