Kontroversi Rasisme di Liga Champions: Kasus Vinicius Jr vs Prestianni Bisa Picu Aturan Baru FIFA

Kasus dugaan rasisme kembali mencuat di panggung sepak bola Eropa. Insiden ini terjadi dalam laga play-off Liga Champions yang mempertemukan Real Madrid melawan Benfica.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 20 Februari 2026, 22:00 WIB
Pelatih Benfica, Jose Mourinho tak senang dengan selebrasi gol Vinicius yang akhirnya memicu insiden tersebut. Hal itu membuatnya memilih bersikap netral terkait insiden rasisme yang dialami Vinicius Junior. (AP Photo/Pedro Rocha)

Bola.com, Jakarta - Kasus dugaan rasisme kembali mencuat di panggung sepak bola Eropa. Insiden ini terjadi dalam laga play-off Liga Champions yang mempertemukan Real Madrid melawan Benfica. Pertandingan yang seharusnya menjadi sorotan karena kemenangan tipis Real Madrid justru diwarnai kontroversi besar.

Sorotan utama tertuju kepada Vinicius Junior, yang mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut. Namun, momen selebrasi gol sang winger berubah menjadi situasi tegang setelah ia melaporkan dugaan komentar rasial dari pemain Benfica.

Advertisement

Pemain muda Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh melontarkan kata bernada rasis kepada Vinicius. Insiden itu bahkan membuat protokol anti-rasisme diaktifkan oleh wasit, yang berujung pada penghentian pertandingan sekitar 10 menit.

Kasus ini kini tidak hanya menjadi perhatian publik sepak bola, tetapi juga berpotensi memicu perubahan aturan baru di level internasional, termasuk wacana regulasi dari FIFA.

 


Gol Vinicius Dibayangi Insiden Dugaan Rasisme

Pemain Real Madrid Vinicius Junior merayakan gol pembuka bersama pelatih Real Madrid Alvaro Arbeloa pada laga play-off Liga Champions antara SL Benfica vs Real Madrid di Lisbon, Portugal, Selasa, 17 Februari 2026. (AP Photo/Pedro Rocha)

Gol yang dicetak Vinicius sebenarnya menjadi momen penting bagi Real Madrid di leg pertama play-off Liga Champions. Akan tetapi, setelah mencetak gol, pemain asal Brasil itu langsung berlari menuju wasit untuk melaporkan ucapan yang ia dengar dari lawannya.

Situasi tersebut memicu penerapan protokol anti-rasisme di stadion. Pertandingan pun sempat dihentikan sementara sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.

Rekan setim Vinicius, Kylian Mbappe, juga ikut angkat bicara. Ia mengaku mendengar Prestianni mengucapkan kata yang merujuk pada penghinaan rasial.

"Jika benar ia mengatakan kata itu, maka ia harus mendapatkan larangan bermain pada leg kedua," kata Mbappe, menegaskan sikapnya terhadap dugaan insiden tersebut.

 


UEFA Mulai Investigasi, Hukuman Berat Menanti

Vinicius Junior mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni (kanan). (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Badan sepak bola Eropa, UEFA, langsung membuka penyelidikan atas dugaan perilaku diskriminatif tersebut.

Proses investigasi disebut bisa berlangsung hingga tiga minggu. Artinya, ada kemungkinan Prestianni masih bisa tampil pada leg kedua di Santiago Bernabeu sebelum keputusan final diumumkan.

Jika terbukti bersalah, pemain asal Argentina itu terancam hukuman berat. Berdasarkan Pasal 14 regulasi disiplin UEFA terkait rasisme dan diskriminasi, pelaku bisa dijatuhi larangan bermain hingga 10 pertandingan.

Sanksi serupa pernah dijatuhkan kepada bek Slavia Praha, Ondrej Kudela, setelah dinyatakan bersalah melakukan pelecehan rasial kepada Glen Kamara dalam pertandingan Liga Europa beberapa tahun lalu.

 


Wacana Aturan Baru: Pemain Menutup Mulut Bisa Disanksi

Vinicius Junior (kanan) mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Kasus ini ternyata memicu diskusi lebih luas di kalangan sepak bola dunia. Salah satu yang mengungkapkan hal tersebut adalah mantan bek Manchester United dan Arsenal, Mikael Silvestre.

Silvestre, yang menjadi bagian dari panel FIFA Players' Voice, menyebut adanya pembahasan mengenai kemungkinan aturan baru.

"Kami berdiskusi serius tentang bagaimana memberi sanksi kepada pemain yang berbicara sambil menutup mulut," ujarnya.

Ia menilai tindakan tersebut sering kali dilakukan untuk menyembunyikan ucapan yang tidak pantas di lapangan.

"Mungkin perlu ada sanksi untuk perilaku seperti itu, entah menutup mulut dengan tangan atau dengan kaus seperti yang terjadi dalam insiden tersebut. Kami juga harus berdiskusi dengan para wasit tentang apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan," jelas Silvestre.

 


Benfica Bantah Tuduhan terhadap Prestianni

Kylian Mbappe menilai winger Benfica, Gianluca Prestianni, tidak pantas lagi tampil di kompetisi elite Eropa tersebut setelah dugaan tindakan pelecehan rasial terhadap Vinicius. Meskipun begitu Prestianni tidak mendapat kartu kuning atau merah dari wasit. Ia terlihat menutup mulutnya dengan jersey, sehingga wasit tidak menemukan bukti verba. (AFP/Patricia De Melo Moreira)

Di sisi lain, pihak Benfica langsung membantah tuduhan yang diarahkan kepada pemainnya. Klub asal Portugal itu bahkan menyebut adanya kampanye pencemaran nama baik terhadap Prestianni.

Dalam pernyataan resminya, Benfica menyebut para pemain Real Madrid tidak mungkin mendengar dengan jelas apa yang mereka klaim.

Prestianni sendiri juga sudah membantah telah mengucapkan kata bernada rasis. Ia bahkan menonaktifkan kolom komentar di akun Instagram pribadinya setelah insiden tersebut menjadi viral.

Kini, publik menunggu hasil investigasi UEFA. Apa pun keputusan akhirnya, kasus ini berpotensi menjadi titik penting dalam upaya sepak bola dunia memperketat aturan terhadap perilaku rasis di lapangan.

Berita Terkait