Mantan Presiden FIFA Kritik Format Piala Dunia 2026, AS Dinilai Kebagian Terlalu Banyak Laga

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, semprot format Piala Dunia 2026, sebut AS kebagian terlalu banyak pertandingan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 24 Februari 2026, 17:15 WIB
Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, bereaksi saat meninggalkan gedung pengadilan setelah putusan banding oleh kantor Jaksa Agung Swiss terhadap mantan presiden UEFA dan FIFA atas dugaan pembayaran curang, di Muttenz dekat Basel, pada 25 Maret 2025. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Bola.com, Jakarta - Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, melontarkan kritik keras terhadap format Piala Dunia 2026. Ia menyoroti pembagian jumlah pertandingan di antara tiga tuan rumah serta ekspansi turnamen menjadi 48 tim.

Piala Dunia edisi mendatang akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan total 104 pertandingan. Dari jumlah itu, Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah 78 laga, termasuk seluruh pertandingan setelah babak 16 besar.

Advertisement

Ketiga negara akan memainkan laga fase grup di kandang masing-masing. Meksiko dijadwalkan membuka turnamen pada 11 Juni melawan Afrika Selatan di Mexico City.

Blatter, yang kini berusia 89 tahun, menilai ketimpangan pembagian pertandingan tersebut tidak sejalan dengan semangat pengembangan sepak bola.

Ia juga menuding kedekatan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, telah mengubah sepak bola menjadi politik.

"Ini tidak benar," kata Blatter dalam wawancara yang dirilis Sabtu oleh Radio Canada.

"Dengan menyatukan tiga (tuan rumah) tersebut, orang akan mengira mereka akan mendapatkan porsi yang kurang lebih sama," ujarnya.


Kritik Perluasan Piala Dunia

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Ia juga mengkritik perluasan turnamen menjadi 48 tim.

"Itu tidak baik. Dan bermain di tiga negara bahkan lebih buruk, terutama karena dua dari negara tersebut hanya menerima remah-remah," cetus Blatter.

Blatter menambahkan bahwa dalam Piala Dunia kali ini, pihak yang paling diuntungkan adalah Amerika Serikat, bukan para penonton.

"Piala Dunia tidak seharusnya diselenggarakan di negara yang tidak memberikan visa (kepada semua orang)," ujarnya.

FIFA menolak memberikan komentar ketika dihubungi The Athletic.

Amerika Serikat diketahui memberlakukan sejumlah larangan perjalanan terhadap warga dari negara-negara tertentu, termasuk empat negara, Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti, yang telah lolos ke Piala Dunia sejak Trump kembali terpilih.


Blatter dan Kontroversi

Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter (kanan), berbicara kepada media saat meninggalkan gedung pengadilan setelah putusan banding oleh Kejaksaan Agung Swiss terhadap mantan presiden UEFA dan FIFA atas dugaan pembayaran palsu, di Muttenz dekat Basel, pada 25 Maret 2025. Mantan presiden FIFA Sepp Blatter dan mantan ketua UEFA Michel Platini kembali dibebaskan pada 25 Maret 2025 melalui banding oleh pengadilan Swiss dalam kasus korupsi yang telah berlangsung lama. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Blatter memimpin FIFA dari 1998 hingga 2015 sebelum dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama delapan tahun setelah penyelidikan komite etik badan tersebut.

FIFA dan otoritas Swiss menuduh adanya pembayaran dua juta franc Swiss sebagai bagian dari skema untuk memastikan Blatter terpilih kembali sebagai presiden FIFA pada 2011.

Ia membantah tuduhan tersebut dan pada Maret 2025 dinyatakan bebas dari pelanggaran finansial oleh pengadilan banding Swiss.


Kritisi Hubungan Infantino-Trump

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Dalam kesempatan yang sama, Blatter juga mengkritik hubungan Trump dan Infantino, yang pada Kamis lalu menandatangani kemitraan resmi terkait program regenerasi di Gaza.

Infantino menghadiri pertemuan perdana Board of Peace dan terlihat mengenakan topi merah bertuliskan "USA" dengan angka "45-47", merujuk pada dua periode kepresidenan Trump yang tidak berurutan.

"(Hubungan Trump dan Infantino) telah mengubah permainan untuk Piala Dunia," kata Blatter.

"Kami belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya," lanjutnya saat ditanya tentang pemberian FIFA Peace Prize perdana kepada Trump.

"Kami bermain untuk perdamaian. Bukan tugas (FIFA) untuk membagikan Penghargaan Perdamaian. Sepak bola adalah peristiwa sosial, budaya, dan akar rumput."

"Mengubah sepak bola menjadi politik, karena pada dasarnya itulah yang sedang terjadi sekarang, bagi saya tidak dapat dipahami," sentilnya.

Sementara itu, International Olympic Committee (IOC) pada Minggu menyatakan Infantino tidak melanggar aturan netralitas politik.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait