Bola.com, Jakarta - Lima gol kembali mengalir dari kaki para pemain Liverpool dalam satu laga Liga Inggris. Terakhir kali itu terjadi, matahari bersinar terang saat mereka memastikan gelar juara lewat kemenangan 5-1 atas Tottenham Hotspur pada April 2025.
Sabtu (28-2-2026) malam WIB, suasananya tak jauh berbeda. Di bawah kondisi yang serupa, The Reds kembali mencetak lima gol, kali ini ke gawang West Ham United.
Di tengah musim yang sempat bergejolak, pasukan Arne Slot kini memasuki Maret dengan rasa percaya diri yang mulai pulih.
Permainan Liverpool memang belum sepenuhnya meyakinkan saat menghadapi West Ham yang tengah berjuang menghindari degradasi. Namun, angka-angka berbicara lain. Mereka kini duduk di peringkat kelima klasemen Premier League, hanya terpaut tiga poin dari posisi ketiga.
"Saya bisa merasakan kegugupan di dalam stadion,” kata Slot seusai laga yang terasa ganjil, Liverpool tampil klinis, meski tidak selalu mengendalikan permainan.
Tanda-Tanda Kebangkitan
Meski begitu, mereka telah memenangi empat dari lima laga terakhir di Premier League. Jumlah itu sama dengan total kemenangan yang mereka raih dalam 13 pertandingan sebelumnya (imbang enam, kalah tiga).
Ya, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat dari tim yang berusaha menyelamatkan musimnya.
Slot sebelumnya sudah menegaskan bahwa musim ini tidak bisa disebut berhasil bila sang juara bertahan gagal lolos ke Liga Champions. Dalam beberapa pekan terakhir, Liverpool perlahan bergerak menuju target minimal tersebut.
Pada awal musim, ancaman gagal finis di zona Liga Champions sempat nyata. Serangkaian hasil buruk, konflik dengan pemain kunci Mohamed Salah, serta cedera yang menimpa rekrutan termahal Alexander Isak membuat situasi memburuk.
Kini, Liverpool kembali menemukan cara untuk menang, entah lewat gol telat, performa tangguh di laga tandang, atau peningkatan signifikan dalam situasi bola mati. Keyakinan mulai tumbuh lagi di Anfield.
Mematikan Lewat Bola Mati
Sejak pergantian tahun, Liverpool menjadi tim paling produktif dari situasi bola mati (di luar penalti) di liga. Kontras mencolok jika dibandingkan paruh pertama musim, ketika tak ada tim Premier League yang mencetak gol bola mati lebih sedikit dari mereka.
Tujuh dari sembilan gol terakhir Liverpool di liga lahir dari skema bola mati, lima dari sepak pojok, satu tendangan bebas langsung, dan satu lemparan ke dalam. Jumlah itu bahkan satu lebih banyak dibanding total gol bola mati mereka dalam 38 gol pertama musim ini.
Tiga gol mereka ke gawang West Ham di babak pertama semuanya berasal dari sepak pojok.
"Itu sangat menyenangkan karena pertama-tama itulah alasan kami menang," kata Slot.
"Kedua, orang-orang bilang kami bermain bagus, dan menurut saya, kami justru tampil lebih baik saat kalah dan lebih baik saat kebobolan dari bola mati."
"Di paruh pertama musim, hampir setiap bola mati yang kami terima berujung gol. Sekarang, kami mulai mencetak gol dari bola mati dan semuanya terlihat lebih cerah dan lebih baik dibanding saat tidak terjadi," katanya lagi.
Kembali ke Normal
Pada akhir 2025, pelatih khusus bola mati, Aaron Briggs, meninggalkan klub. Tugasnya kini diambil alih staf pelatih yang ada.
"Semuanya kembali normal," jawab Slot saat ditanya apa yang berubah.
"Kami menciptakan cukup banyak peluang di paruh pertama musim, tetapi terlalu sering tidak menjadi gol. Mungkin ada satu atau dua detail kecil yang berubah, baik dalam bertahan maupun menyerang."
"Susunan kami sedikit berbeda, tetapi alasan terbesar adalah semuanya kembali normal. Ada masa ketika kami tertinggal 23 gol dari Arsenal, termasuk penalti, dan kini kami sudah sedikit memperkecil jarak," ulasnya.
Sesuatu untuk Diperjuangkan
Bagi sebagian suporter, musim yang baik adalah ketika tim masih punya sesuatu untuk diperjuangkan memasuki April.
Liverpool memang tidak akan mempertahankan gelar Premier League musim ini, tetapi mereka masih bertahan di Piala FA dan Liga Champions, serta berada di posisi kuat untuk finis di lima besar, yang praktis memastikan tiket Liga Champions musim depan.
Pekan yang sama ketika klub mengumumkan pendapatan rekor lebih dari 700 juta paun pada tahun buku terakhir dengan laba setelah pajak 8 juta paun, pentingnya tampil di kompetisi Eropa menjadi makin jelas.
"Empat atau lima bulan terakhir musim adalah saat tim menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan,” kata Alexis Mac Allister kepada Match of the Day.
"Itulah yang kami inginkan. Kami tahu betapa pentingnya lolos ke Liga Champions bagi klub dan bagi kami sebagai tim. Targetnya ada dan kami akan melakukan segalanya untuk lolos serta mendekati tim-tim di atas," imbuhnya.
Selangkah demi Selangkah
Rekan setimnya, Cody Gakpo, menyuarakan nada serupa kepada Sky Sports.
"Ini sore yang bagus. Selangkah demi selangkah, kami menjadi tim yang lebih baik," ucapnya.
"Kami sempat melalui momen sulit musim ini, tetapi semoga beberapa pertandingan terakhir ini menjadi awal dari sesuatu yang indah," lanjut Gakpo.
Dengan dua laga beruntun melawan Wolverhampton Wanderers di liga dan Piala FA pekan depan, sebelum bertandang ke markas Galatasaray di Liga Champions, 10 hari ke depan akan sangat menentukan arah musim mereka.
Jika mampu melewati periode itu tanpa cedera berarti, bukan tidak mungkin para pendukung Liverpool mulai benar-benar percaya bahwa tim ini masih bisa mewujudkan sesuatu yang indah.
Sumber: BBC