Bola.com, Bandung - Setelah melalui berbagai pertimbangan, Satria Muda Pertamina Bandung akhirnya mengeluarkan salah satu pemainnya, Karl Gloria pada pertengahan musim IBL 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah pemain yang bersangkutan melakukan tindakan indisipliner yang melanggar kode etik klub.
Manajemen SM menegaskan keputusan tersebut diambil bukan semata sebagai respons atas pelanggaran, tetapi juga langkah yang didasari pertimbangan strategis demi kebutuhan tim dan perkembangan karier sang pemain ke depannya.
Satria Muda percaya setiap keputusan harus mengedepankan kepentingan kolektif, namun juga tetap memikirkan ruang pertumbuhan bagi setiap individu yang ada di dalamnya.
Mengedepankan Kedisiplinan
Kejadian ini sekaligus menegaskan Satria Muda Pertamina Bandung sangat mengedepankan nilai kedisiplinan dalam latihan dan pertandingan.
Sikap profesional yang harus dipegang di luar maupun dalam pertandingan, hubungan yang baik antarpemain, pelatih, dan manajemen, serta etika komunikasi dan representasi klub.
Direktur Teknik (Sport Director) Satria Muda Pertamina Bandung, Youbel Sondakh, menjelaskan keputusan mengeluarkan Karl Gloria merupakan pilihan terbaik setelah mempertimbangkan berbagai aspek strategis.
"Keputusan terkait Karl tentu membawa konsekuensi tersendiri. Jujur, dari manajemen sangat menyayangkan hal ini terjadi karena kami melihat bahwa Karl adalah pemain yang mempunyai potensi dan talenta yang mumpuni untuk menjadi pemain yang hebat ke depannya,” jelas Youbel Sondakh.
“Namun di sisi lain, kami mempertimbangkan semua aspek, termasuk prinsip klub dan juga pengambilan keputusan yang terbaik untuk semua pihak,” lanjut Sondakh.
Dikomunukasikan Secara Terbuka
Diakui Youbel Sondakh, proses internal berjalan dengan komunikasi yang terbuka antara pemain, pelatih, dan manajemen sebelum keputusan diambil. Bagi SM standar disiplin adalah fondasi utama.
Bahkan di sisi manajemen, pendekatan yang ditempuh juga telah dilakukan melalui proses evaluasi yang komprehensif dan komunikasi intensif antara pemain, pelatih, serta manajemen klub.
“Sejak awal kami membangun tim ini dengan semangat the family, di mana setiap anggota harus saling menjaga dan menghormati. Untuk bisa berprestasi, kedisiplinan adalah nilai yang tidak dapat ditawar,” katanya.
“Di sisi lain, kami berharap Karl dapat terus berkembang di klub lain dan tetap melanjutkan karier profesionalnya di Indonesia,” tambah Sondakh.
Standar dan Nilai yang Dijaga Tim
Sementara itu, pelatih Satria Muda Pertamina Bandung, Djordje Jovicic, menekankan pentingnya standar dan nilai yang dijaga tim.
“Bola basket dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan rasa saling menghormati. Ketika situasi seperti ini muncul, tentu ada distraksi, namun ini juga menjadi momen untuk menegaskan kembali standar dan nilai yang kami pegang,” tegas Jovicic.
Menurutnya, keputusan ini disampaikan secara langsung dan transparan kepada seluruh pemain, menjelaskan langkah ini diambil demi kepentingan terbaik tim dan untuk menjaga standar profesionalisme.
“Pesan saya jelas: kami saling menghormati, mematuhi aturan, dan tetap fokus pada tujuan bersama. Saya mengharapkan respons yang profesional dan kompetitif di sisa musim ini,” tutur Jovicic.