Ini Penyebab Utama Klub-Klub Premier League Melempem di 16 Besar Liga Champions

Beberapa hasil pada leg pertama menunjukkan bagaimana klub Inggris tampak kelelahan.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 13 Maret 2026, 18:30 WIB
Erling Haaland (kiri) dan Marc Guehi dari Manchester City berjalan keluar lapangan setelah pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Real Madrid dan Manchester City di Madrid, Spanyol, Kamis (12-3-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Jose Breton)

Bola.com, Jakarta - Premier League sering disebut sebagai liga paling kuat dan paling kaya di dunia. Dari sisi finansial, klub-klub Inggris memang memiliki keunggulan besar dibandingkan rival mereka di Eropa. Namun, keunggulan uang dan kekuatan di pasar transfer ternyata belum sepenuhnya berbanding lurus dengan dominasi di kompetisi antarklub Eropa.

Pekan ini menjadi pengingat bahwa klub-klub Inggris masih jauh dari kata mendominasi sepak bola Eropa. Babak 16 besar Liga Champions memang baru memasuki leg pertama, tetapi hasil yang diraih wakil Premier League sejauh ini cukup memprihatinkan.

Advertisement

Tidak ada satu pun kemenangan yang diraih klub Inggris dalam enam pertandingan leg pertama. Bahkan secara agregat sementara, klub-klub dari liga lain di Eropa unggul telak dengan skor 16-6 atas wakil Premier League.

Memang, lima dari enam klub Inggris tersebut bermain di kandang lawan. Namun tetap saja, performa yang ditunjukkan menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan mereka bersaing hingga tahap akhir kompetisi.

 


Jadwal Padat dan Intensitas Liga Jadi Tantangan

Virgil van Dijk dari Liverpool, kanan atas, dan kiper Galatasaray Ugurcan Cakir berebut bola tinggi saat pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Galatasaray dan Liverpool, di Istanbul, Turki, Rabu (11-3-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Khalil Hamra)

Beberapa hasil pada leg pertama menunjukkan bagaimana klub Inggris tampak kelelahan. Manchester City misalnya, harus mengakui keunggulan Real Madrid yang tampil jauh lebih tajam.

Chelsea juga mengalami kesulitan saat menghadapi Paris Saint-Germain, bahkan kebobolan dua gol di akhir laga yang membuat posisi mereka semakin berat.

Arsenal pun hanya mampu bermain imbang 1-1 di markas Bayer Leverkusen, sementara Tottenham Hotspur bahkan sudah tertinggal 0-4 hanya dalam 23 menit pertandingan.

Banyak pengamat menilai bahwa intensitas Premier League yang sangat tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Liga Inggris dikenal sebagai kompetisi dengan tempo paling cepat dan tuntutan fisik yang sangat besar.

Memasuki fase akhir musim, kelelahan fisik dan mental kerap mulai terlihat. Kesalahan di lini belakang, kebobolan dalam waktu singkat, hingga performa yang menurun menjadi pemandangan yang berulang setiap musim.

 


Klub Eropa Punya Keuntungan Jadwal

Memasuki babak kedua, tensi pertandingan tidak menunjukkan tanda-tanda menurun. Newcastle United tetap mengandalkan serangan dari sisi sayap, sementara Barcelona berupaya mendikte laga melalui penguasaan bola. Tampak dalam foto, gelandang Newcastle United asal Brasil, Joelinton (kiri–depan), berebut bola dengan bek Barcelona asal Spanyol bernomor punggung 05, Pau Cubarsi, selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2025/2026 di St James' Park, Newcastle-upon-Tyne, timur laut Inggris pada Selasa 10 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu 11 Maret 2026 dini hari WIB. (Paul ELLIS/AFP)

Situasi semakin kontras jika dibandingkan dengan klub-klub dari liga lain di Eropa. Beberapa dari mereka bahkan mendapatkan keuntungan dari pengaturan jadwal domestik yang lebih fleksibel.

Paris Saint-Germain misalnya, mendapatkan waktu istirahat tambahan sebelum menghadapi Chelsea karena pertandingan liga mereka ditunda.

Bayern Munchen juga mendapat keuntungan setelah laga Bundesliga mereka dimajukan ke Jumat malam, sehingga memiliki waktu persiapan lebih panjang sebelum bertandang ke markas Atalanta di Liga Champions.

Sebaliknya, Manchester City dan Newcastle United justru harus saling berhadapan di ajang Piala FA pada Sabtu malam, hanya beberapa hari sebelum pertandingan penting di Eropa.

Perbedaan ini membuat klub-klub Inggris sering kali harus menghadapi jadwal yang jauh lebih padat dibandingkan rival mereka dari liga lain.

 


Dominasi Eropa Masih Milik Spanyol

Pada menit-menit akhir pertandingan, tekanan Barcelona membuahkan hasil pada menit 90+5 ketika Dani Olmo dijatuhkan Malick Thiaw di dalam kotak penalti. Lamine Yamal maju sebagai eksekutor dan dengan tenang menaklukkan Aaron Ramsdale pada menit 90+6. Tampa dalam foto, penyerang Barcelona asal Spanyol, Lamine Yamal, merayakan golnya selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2025/2026 melawan Newcastle United di St James' Park, Newcastle-upon-Tyne, timur laut Inggris pada Selasa 10 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu 11 Maret 2026 dini hari WIB. (Paul ELLIS/AFP)

Jika melihat data lima musim terakhir, klaim bahwa Premier League mendominasi Eropa sebenarnya belum sepenuhnya terbukti.

Dalam lima edisi terakhir Liga Champions, dari 10 finalis hanya empat yang berasal dari Inggris. Dari jumlah tersebut, hanya dua yang berhasil menjadi juara, yakni Chelsea pada 2021 dan Manchester City pada 2023.

Jumlah tersebut sama dengan Spanyol yang juga menghasilkan dua juara dalam periode yang sama melalui Real Madrid pada 2022 dan 2024.

Situasi serupa juga terjadi di Liga Europa. Dalam lima final terakhir, hanya ada tiga klub Inggris yang mencapai partai puncak dengan satu gelar juara.

Sementara itu, klub Spanyol juga meraih dua gelar dalam periode yang sama melalui Villarreal pada 2021 dan Sevilla pada 2023.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dominasi klub Inggris di Eropa masih jauh dari kenyataan.

Sebagai perbandingan, dominasi sejati pernah ditunjukkan klub-klub Spanyol pada pertengahan dekade 2010-an. Antara 2014 hingga 2018, sembilan dari 10 trofi Liga Champions dan Liga Europa berhasil dimenangkan klub La Liga.

Real Madrid meraih empat gelar Liga Champions, Barcelona satu, sementara Sevilla dan Atletico Madrid bergantian menguasai Liga Europa.

 


Premier League Tetap Punya Peluang Bangkit

Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta (kiri ke kanan), memberikan instruksi dari pinggir lapangan kepada gelandang Arsenal asal Inggris bernomor punggung 41, Declan Rice, gelandang Arsenal asal Brasil bernomor punggung 11, Gabriel Martinelli, dan bek Arsenal asal Spanyol bernomor punggung 36, Martin Zubimendi, selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Bayer 04 Leverkusen vs Arsenal di Leverkusen, Jerman barat, pada 12 Maret 2026. (INA FASSBENDER/AFP)

Meski demikian, peluang klub Inggris untuk membalikkan keadaan masih terbuka. Beberapa tim masih memiliki kesempatan memperbaiki situasi pada leg kedua babak 16 besar.

Arsenal misalnya, akan memainkan leg kedua di kandang sendiri di London. Liverpool juga masih memiliki peluang bangkit saat menghadapi Galatasaray.

Manchester City, Tottenham, hingga Chelsea juga masih berpeluang menciptakan kejutan, meski harus bekerja sangat keras untuk membalikkan keadaan.

Namun sebelum itu, mereka masih harus menghadapi jadwal domestik yang tidak kalah berat.

Chelsea dan Newcastle harus saling berhadapan di liga akhir pekan ini, Tottenham bertandang ke markas Liverpool, sementara Manchester City menghadapi West Ham United dalam laga penting perebutan gelar.

Situasi tersebut kembali menegaskan satu hal: Premier League mungkin memiliki uang dan kekuatan besar, tetapi perjalanan menuju dominasi Eropa masih panjang.

Sumber: The Athletic

Berita Terkait