PSSI Kecam Kasus Kekerasan Seksual terhadap Atlet, Tegaskan Dunia Olahraga Harus Aman

Kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa atlet dari cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing mendapat perhatian luas dari berbagai federasi olahraga nasional, termasuk PSSI.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 14 Maret 2026, 23:00 WIB
Sekjen PSSI, Yunus Nusi memberikan keterangan saat konferensi pers mengenai kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, pada Minggu (02/10/2022) di Stadion Madya, Senayan, Jakarta. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa atlet dari cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing mendapat perhatian luas dari berbagai federasi olahraga nasional, termasuk PSSI.

Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, mengecam keras tindakan yang diduga dilakukan oleh pelaku karena dinilai mencederai nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi dalam dunia olahraga.

Advertisement

Menurut Yunus, olahraga seharusnya dibangun di atas prinsip sportivitas, saling menghormati, dan integritas. Karena itu, segala bentuk kekerasan, terlebih kekerasan seksual, tidak boleh mendapat tempat dalam ekosistem olahraga.

Ia juga menilai kasus tersebut bukan hanya menyedihkan bagi para korban dan keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat luas mengingat para atlet telah memberikan kontribusi prestasi bagi daerah maupun Indonesia.

 


Minta Penanganan Serius dan Transparan

Sekjen PSSI 2021-2023 Yunus Nusi, memberi keterangan pers usai Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis (16/2/2023). Yunus Nusi mundur sebagai Sekjen periode 2023-2027. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Yunus berharap dua kasus tersebut dapat ditangani secara serius, profesional, dan transparan oleh aparat penegak hukum agar para korban mendapatkan keadilan.

“PSSI sangat menyayangkan kekerasan seksual yang menimpa atlet kita. Olahraga dibangun di atas nilai sportivitas, rasa saling menghormati, dan integritas. Kekerasan seksual jelas merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai tersebut dan tidak boleh mendapat tempat dalam ekosistem olahraga,” tegas Yunus Nusi.

Ia juga mengapresiasi langkah Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, yang dinilai menunjukkan komitmen kuat dalam mengawal proses penanganan kasus serta memastikan perlindungan bagi para korban.

“Kita berterima kasih kepada Bapak Menpora karena terus mengawal kasus ini dan melakukan langkah cepat untuk membuka pengaduan atlet. Dengan perhatian yang ditunjukkan Menpora, maka kita harap setiap cabang olahraga juga fokus menjaga keamanan para atletnya sehingga kasus seperti ini tak terulang,” ujarnya.

 


Exco PSSI: Tidak Ada Toleransi bagi Pelaku

Yunus Nusi (kiri) dan Ferry Paulus (kanan), berbicara pada Press Conference terkait National Dispute Resolution Chamber Indonesia (NDRC) yang akan dilaksanakan pada Rabu, (06/07/2025) Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta. (Bola.com/Abdul Aziz)

Kecaman serupa juga disampaikan anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Cahyani Sungkono. Ia menegaskan bahwa dunia olahraga harus menjadi ruang yang aman bagi para atlet untuk berkembang, berlatih, dan berprestasi tanpa rasa takut.

“Atlet adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan lindungi. Mereka berhak berlatih, bertanding, dan berkembang dalam lingkungan yang aman, bukan malah menjadi ruang yang menimbulkan trauma,” tegas Vivin.

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi pelaku kekerasan seksual di lingkungan olahraga dan menuntut agar hukuman setimpal diberikan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

“Hukuman ini harus menjadi pesan tegas bahwa dunia olahraga Indonesia adalah wilayah terlarang bagi pelaku kekerasan,” lanjutnya.

 


Dorong Sistem Perlindungan Atlet

Untuk mencegah kasus serupa terjadi di dunia sepak bola, Vivin menilai diperlukan langkah konkret dari seluruh pihak.

Beberapa langkah tersebut antara lain menyediakan advokasi bagi atlet korban, memperkuat regulasi serta kode etik yang melarang segala bentuk kekerasan, serta meningkatkan edukasi kepada atlet, pelatih, dan ofisial mengenai batasan perilaku profesional.

Menurutnya, edukasi berkelanjutan sangat penting agar seluruh elemen olahraga memahami pentingnya menghormati integritas pribadi dan menjaga lingkungan yang aman bagi para atlet.

“Kita ingin para atlet fokus pada prestasi tanpa dibayangi rasa takut atau tekanan. Karena itu semua pihak harus bekerja bersama memastikan sistem perlindungan yang kuat benar-benar berjalan,” kata Vivin.

Ia menegaskan bahwa melindungi atlet bukan hanya tanggung jawab federasi olahraga, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen olahraga Indonesia.

Berita Terkait