Bola.com, Jakarta - Mantan pelatih Timnas Jerman, Joachim Low, mengungkapkan kekhawatirannya terkait keamanan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
"Kami pernah memperdebatkan soal Piala Dunia 2018 di Rusia, dan ada seruan boikot sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar. Tapi, bermain di negara yang sedang aktif berperang jauh lebih berbahaya," ujar Low kepada harian Cologne Express, Selasa waktu setempat.
"Situasi politik saat ini benar-benar membayangi turnamen," imbuhnya.
Low, yang membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil, berbicara pada Senin malam di sebuah acara mengenang Piala Dunia edisi sebelum-sebelumnya.
Bersama Rainer Bonhof, pahlawan kemenangan Jerman Barat di Piala Dunia 1974, dan para juara dunia lainnya, topik perlahan beralih ke Piala Dunia 2026 yang mulai digelar 11 Juni.
Dibatalkan Saja
Perhatian muncul terkait konflik terkini di kawasan tersebut. Amerika Serikat dan Israel sedang terlibat operasi militer terhadap Iran, sementara Meksiko diguncang gelombang kekerasan setelah tentara membunuh bos kartel Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias "El Mencho", bulan lalu.
"Jujur, saya bahkan tidak tahu apakah sebaiknya turnamen ini tetap digelar," kata Bonhof, disambut tepuk tangan audiens, sebagaimana dilaporkan Express.
"Dalam kondisi sekarang, hanya Kanada yang bisa disebut negara netral. Saya tidak ingin memboikot Piala Dunia, kita terlalu mencintai sepak bola. Tapi, kita benar-benar harus memikirkan langkah-langkah keamanan yang sejauh ini belum dibahas," lanjut Bonhof.
Urung Nonton Langsung
Sebagai presiden klub Bundesliga, Borussia Monchengladbach, yang juga diperkuat pemain Timnas Indonesia Kevin Diks itu, Bonhof juga menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keinginan pergi ke Meksiko karena situasi keamanan yang rawan.
Pada Januari lalu, Federasi Sepak Bola Jerman (DBF) menegaskan tidak akan memboikot Piala Dunia 2026, meski sempat ada seruan internal untuk mengirim pesan kepada Presiden AS, Donald Trump.
Namun, penegasan itu terjadi sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Sumber: AP News