Reaksi Keras Sadio Mane Setelah Gelar Piala Afrika 2025 Milik Senegal Dicabut

Kapten Senegal, Sadio Mane, mengecam keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang mencabut gelar Piala Afrika 2025 dari timnya.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 18 Maret 2026, 19:00 WIB
Penyerang Senegal, Sadio Mane, mengangkat trofi sambil merayakan kemenangan bersama rekan-rekannya setelah menjuarai Piala Afrika dengan mengalahkan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. (AFP/Sebastian Bozon)

Bola.com, Jakarta - Kapten Senegal, Sadio Mane, mengecam keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang mencabut gelar Piala Afrika 2025 dari timnya. Titel tersebut kemudian diserahkan kepada Maroko.

Menurut Sadio Mane, keputusan tersebut bisa mematikan gairah jutaan penggemar sepak bola di Afrika.   

Advertisement

Timnas Maroko secara resmi dinobatkan sebagai juara Piala Afrika 2026 pada 17 Maret setelah CAF mengabulkan banding yang membatalkan kemenangan Senegal di final.

Pertandingan final yang digelar pada Januari 2026 di Rabat sempat berlangsung kacau ketika para pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap penalti di menit akhir yang diberikan kepada Maroko.

Meski Senegal kembali bermain setelah penundaan 14 menit dan menang 1-0 lewat gol Papa Gueye di babak tambahan waktu, hasil tersebut kini diubah menjadi kemenangan 3-0 untuk Maroko.

 


Kekecewaan Sadio Mane

Pemain Senegal Sadio Mane (tengah) berebut bola dengan pemain Maroko Neil Yoni El Aynaoui pada laga final AFCON/Piala Afrika antara Senegal vs Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Themba Hadebe)

Mane kemudian merilis pernyataan yang menyebut keputusan CAF sudah keterlaluan dan menyoroti tingginya tingkat korupsi dalam sepak bola saat ini.

“Apa yang terjadi sudah kelewatan. Ini bukan sepak bola yang kami perjuangkan, juga bukan Afrika yang kami yakini," ujar Mane, seperti dikutip dari The Sun

"Terlalu banyak korupsi dalam sepak bola, dan itu membunuh gairah jutaan penggemar di seluruh benua. Para pemain memberikan segalanya di lapangan, tetapi keputusan di luar lapangan justru yang menentukan pertandingan dan trofi,” ujar Mane.

Mane, yang berperan besar dalam membujuk pemain Senegal kembali ke lapangan, mengaku sangat kecewa terhadap kondisi sepak bola Afrika secara keseluruhan. Ia menegaskan para penggemar pantas mendapatkan keadilan, transparansi, dan rasa hormat.

“Saya sangat kecewa, bukan hanya untuk Senegal, tetapi untuk sepak bola Afrika secara keseluruhan. Kami pantas mendapatkan yang lebih baik. Para penggemar berhak atas keadilan, transparansi, dan rasa hormat,” tambahnya.

 


Senegal Akan Ajukan Banding ke CAS

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Federasi Sepak Bola Senegal mengecam keputusan tersebut sebagai tidak adil dan tidak dapat diterima, serta berencana mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport untuk membatalkan keputusan CAF.

“Federasi Sepak Bola Senegal mengecam keputusan yang tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak dapat diterima ini, yang mencoreng sepak bola Afrika,” demikian pernyataan resmi mereka.

“Untuk membela hak-hak mereka dan kepentingan sepak bola Senegal, federasi akan segera mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport di Lausanne.”

Masih harus dilihat apakah CAS akan membatalkan keputusan yang diambil oleh CAF tersebut.   

Sumber: The Sun

Berita Terkait