Dilibas Bayern Munchen di Liga Champions, Palladino: Atalanta Kalah dari Tim Terbaik di Eropa

Sudah mencoba berbagai cara, tetapi tetap kalah. Atalanta mengakui kualitas Bayern Munchen di atas segalanya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 19 Maret 2026, 09:40 WIB
Duel Atalanta vs Bayern Munchen di leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (11/3/2026). (AP Photo/Luca Bruno)

Bola.com, Jakarta - Pelatih Atalanta, Raffaele Palladino, mengakui timnya sudah mencoba berbagai cara, tetapi tetap tidak mampu membendung kekuatan Bayern Munchen di Liga Champions. Ia bahkan menyebut lawan mereka sebagai tim terbaik di Eropa saat ini.

Atalanta datang ke Allianz Arena dengan peluang lolos yang nyaris tertutup setelah kalah telak 1-6 pada leg pertama. Meski begitu, mereka tetap berupaya tampil lebih baik di leg kedua.

Advertisement

Upaya tersebut sempat terlihat ketika Atalanta hanya tertinggal 0-1 hingga jeda melalui penalti Harry Kane. Namun, selepas turun minum, Kane kembali mencetak gol, disusul tembakan sudut dari Lennart Karl.

Gol tambahan dari Luis Diaz lewat chip serta sundulan Lazar Samardzic di menit akhir memastikan kemenangan 4-1 bagi Bayern pada laga tersebut, sekaligus agregat telak 10-2.


Akui Keunggulan Bayern

Selebrasi skuad Bayern Munchen dalam laga versus Atalanta di leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (11/3/2026). (AP Photo/Luca Bruno)

Palladino menegaskan bahwa timnya sudah mengubah pendekatan permainan demi bisa bersaing.

"Kami ingin bermain dengan penuh kebanggaan, kami mengubah rencana permainan dan mencoba bertahan lebih dalam, memberikan segalanya melawan tim yang sangat kuat," kata Palladino kepada Sky Sport Italia.

Ia pun tak ragu memberikan pujian kepada Bayern Munchen dan pelatih mereka, Vincent Kompany.

"Saya harus memberi selamat kepada Bayern Munich, Kompany, dan seluruh klub, karena kami mungkin menghadapi tim terbaik di Eropa saat ini. Anda harus jujur dan menerima hasil di lapangan."

Sekitar 4.000 suporter Atalanta tetap datang langsung dari Italia, meski harus menghadapi kendala mogok transportasi lokal menuju stadion.

"Kami mencoba memberikan segalanya. Tujuan kami adalah memberikan hasil yang lebih baik untuk para suporter dibanding leg pertama, dan mereka kembali luar biasa malam ini," lanjutnya.


Pendekatan Taktik

Penyerang Senegal Bayern Munchen bernomor punggung 11, Nicolas Jackson, mencetak gol keempat timnya selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Atalanta dan Bayern Munchen di stadion Gewiss di Bergamo, pada 11 Maret 2026. (Marco BERTORELLO/AFP)

Palladino menyinggung soal pendekatan taktik yang sempat ia coba, termasuk eksperimen di leg pertama. Namun, ia mengakui bahwa perubahan strategi di leg kedua pun tidak banyak mengubah hasil.

"Kalau melihat ke belakang memang mudah, mungkin kami bisa melakukan beberapa hal berbeda. Tapi, hari ini kami punya rencana berbeda dan bermain lebih dalam, tetap saja tidak banyak berubah. Bayern Munich adalah tim yang komplet dalam segala hal, mereka selalu menemukan cara untuk menembus dan merusak pertahanan Anda," ulasnya.

Menurutnya, dua pertemuan ini menjadi pelajaran penting bagi Atalanta.

"Kami belajar banyak dari dua pertandingan ini, karena bermain di level ini memaksa Anda untuk berkembang dan menerima keterbatasan dengan kerendahan hati. Kami harus memberi selamat kepada lawan," ucapnya.


Perbedaan Kualitas

Para pemain Bayern Munchen merayakan gol Harry Kane setelah mencetak gol melawan Atalanta Bergamo, Kamis (19-3-2026) dini hari WIB, di Munich, Jerman. (Tom Weller/dpa via AP)

Ia juga menyoroti perbedaan kualitas dengan tim-tim elite Eropa, terutama dalam tempo permainan.

"Perbedaan terbesar adalah kecepatan pergerakan bola. Mungkin tidak terlalu terlihat di televisi, tetapi dari dekat, Anda bisa melihat betapa cepatnya bola dipindahkan, selalu ke kaki yang tepat, kontrol dalam kecepatan tinggi, melewati lawan, dan juga punya kecepatan sprint yang lebih tinggi."

Palladino menilai pembinaan pemain sejak usia muda perlu ditingkatkan.

"Saya pikir kami harus mulai dari akademi, karena saat menghadapi tim seperti Bayern Munich, rasanya seperti olahraga yang berbeda. Kita semua harus lebih fokus pada individu dan dasar-dasar sejak dini, karena perbedaannya sangat jelas," ujar pelatih berusia 41 tahun itu.

Atalanta sebelumnya menjadi satu-satunya wakil Italia yang tersisa di Liga Champions, setelah menyingkirkan Borussia Dortmund di babak play-off.

Maka, dengan gugurnya Atalanta, Italia sudah tak memiliki wakil lagi di Liga Champions musim ini.

 

Sumber: Football Italia

Berita Terkait