Ibrahima Konate Jadi Korban Rasisme, Liverpool Marah: Itu Tindakan Pengecut dan Penuh Kebencian

Liverpool kecam keras pelecehan rasial terhadap Ibrahima Konate, sebut itu tindakan tak manusiawi dan penuh kebencian.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 21 Maret 2026, 15:45 WIB
Ibrahima Konate. Bek tengah Prancis berusia 23 tahun ini didatangkan RB Leipzig dari klub Ligue-2 Prancis FC Sochaux pada awal musim 2017/2018 dengan status bebas transfer. Usai 4 musim dan total tampil dalam 94 laga di semua ajang dengan torehan 4 gol dan 1 assist, ia dilepas ke Liverpool pada awal musim 2021/2022 dengan mahar senilai 40 juta euro atau setara Rp626,2 miliar. (AFP/Gyn Kirk)

Bola.com, Jakarta - Liverpool mengecam keras aksi pelecehan rasial yang menimpa bek mereka, Ibrahima Konate. The Reds menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang menjijikkan dan sangat tidak dapat diterima.

Konate menjadi sasaran serangan rasial di media sosial setelah pertandingan Liga Champions menjamu Galatasaray pada Kamis dini hari WIB lalu.

Advertisement

Dalam laga itu, ia terlibat insiden dengan striker lawan, Victor Osimhen, yang berujung cedera patah lengan.

Liverpool menegaskan bahwa bentuk pelecehan tersebut tidak manusiawi, pengecut, dan berakar dari kebencian. Klub juga mendesak pihak media sosial untuk mengambil langkah lebih tegas dalam memberantas praktik serupa.

"Para pemain kami bukanlah target. Mereka adalah manusia. Pelecehan yang terus diarahkan kepada pemain, yang sering kali dilakukan melalui akun anonim, merupakan noda bagi sepak bola dan juga platform yang membiarkannya terus terjadi," demikian pernyataan resmi Liverpool.


Serangan ke Pemain Lain

Penyerang Manchester City, Omar Marmoush (kiri) menarik baju bek Liverpool, Ibrahima Konate (kanan) selama pertandingan sepak bola Liga Primer Inggris antara Manchester City dan Liverpool di Stadion Etihad di Manchester, barat laut Inggris, pada 9 November 2025. (Darren Staples / AFP)

Liverpool menilai perusahaan media sosial sebenarnya memiliki kemampuan dan teknologi untuk mencegah penyebaran konten berbau kebencian.

"Membiarkan kebencian rasial menyebar tanpa kendali adalah sebuah pilihan, dan pilihan itu terus merugikan pemain, keluarga, serta komunitas dalam sepak bola."

Klub juga memastikan akan memberikan dukungan penuh kepada Konate serta bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengidentifikasi pelaku.

Kasus ini bukan yang pertama. Bulan lalu, empat pemain Premier League juga menjadi sasaran pelecehan rasial dalam satu akhir pekan.

Bek Chelsea, Wesley Fofana, gelandang Burnley, Hannibal Mejbri, serta penyerang Wolverhampton Wanderers, Tolu Arokodare, mengunggah bukti pesan yang mereka terima di Instagram. Winger Sunderland, Romaine Mundle, juga mengalami hal serupa.


Seruan Kick It Out

Gelandang Chelsea asal Argentina Enzo Fernandez (kiri), striker Everton asal Inggris Demarai Gray, bek Chelsea asal Prancis Wesley Fofana berebut bola saat Liga Inggris antara Chelsea dan Everton di Stamford Bridge di London pada 18 Maret 2023. (Glyn KIRK / AFP)

Organisasi anti-diskriminasi asal Inggris, Kick It Out, kembali menyerukan agar platform digital mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah yang terus berulang di level tertinggi sepak bola.

Dalam kasus lain, bek Timnas Inggris, Jess Carter, juga mengungkap dirinya menjadi korban pelecehan rasial secara online dalam ajang Euro Wanita 2025.

Liverpool pun menutup pernyataannya dengan penegasan keras.

"Situasi seperti ini tidak bisa terus dibiarkan. Ini harus dihadapi, dilawan, dan dihapuskan, bukan besok, tetapi sekarang."

 

Sumber: AP News

Berita Terkait