Reaksi Jurnalis dan Media Inggris soal Kepergian Mohamed Salah: Akhir dari Era Keemasan Liverpool?

Berdasarkan kesepakatan dengan klub, penyerang asal Mesir itu akan pergi dengan status bebas transfer pada musim panas ini, meskipun kontraknya masih tersisa 12 bulan.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 26 Maret 2026, 09:15 WIB
Aksi Mohamed Salah dalam laga Premier League antara Brighton vs Liverpool, Selasa (20/5/2025). (AP Photo/Ian Walton)

Bola.com, Jakarta - Perpisahan panjang untuk Mohamed Salah akhirnya dimulai setelah ia mengumumkan akan meninggalkan Liverpool pada akhir musim nanti.

Berdasarkan kesepakatan dengan klub, penyerang asal Mesir itu akan pergi dengan status bebas transfer pada musim panas ini, meskipun kontraknya masih tersisa 12 bulan.

Advertisement

Pemain berusia 33 tahun ini tiba di Anfield dari AS Roma pada 2017 dan telah mencetak 255 gol, menjadikannya pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang masa bagi klub.

Selama berseragam The Reds, Mohamed Salah juga telah mengangkat dua trofi juara Premier League, serta memenangkan Liga Champions, Piala FA, dan dua Carabao Cup.

Banyak pihak yang dengan cepat memberikan penghormatan kepada pemain internasional Mesir itu. Berikut rangkuman dari apa yang disampaikan oleh media nasional Inggris.

 
 

Berakhirnya Sebuah Era bagi Liverpool

Penyerang Liverpool, Mohamed Salah, mengankat trofi Sepatu Emas Premier League usai laga melawan Brighton & Hove Albion di Stadion Anfield, Minggu (13/5/2018). Salah menjadi top scorer Premier League musim ini dengan raihan 32 gol. (AFP/Paul Ellis)

Menulis untuk The Times, Paul Joyce menyoroti bagaimana takdir membawa Mohamed Salah ke Anfield dan bagaimana kepergiannya menandai akhir dari masa kejayaan klub.

"Terkadang Anda tidak bisa tidak bertanya-tanya tentang apa yang mungkin terjadi. Sungguh luar biasa untuk direnungkan sekarang, ketika mencoba merangkum karier Liverpool dari seorang pemain yang telah mencapai begitu banyak puncak prestasi dan membantu mengubah seluruh institusi, bahwa Mohamed Salah sebenarnya rencana cadangan. Jika segalanya berjalan berbeda pada musim panas 2017, Julian Brandt, pemain sayap Bayer Leverkusen saat itu, yang akan tiba di Anfield."

Mantan jurnalis Daily Post itu kemudian melanjutkan: "Bahwa ia pergi dengan caranya sendiri, sebagai salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki klub, adalah hal paling pantas yang ia dapatkan. Pelepasan pada Minggu terakhir musim ini, ketika Brentford datang ke Anfield, akan menjadi sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan. Jangan bertaruh dia tidak akan memahkotainya dengan gol lain. Mungkin kejelasan statusnya ini akan memberikan efek pendorong dari sekarang hingga saat itu tiba."

"Tentu saja, perpisahan Salah terasa seperti akhir dari sebuah era bagi Liverpool. Sebuah era emas yang terabaikan di tengah kesulitan yang dialami skuad asuhan Arne Slot musim ini. Ada kerinduan akan masa lalu di mana, kenyataannya, ini adalah skuad yang tidak bisa lagi menyajikan aksi-aksi luar biasa yang dulunya merupakan hal rutin."

Sementara itu, Jonathan Wilson dari The Guardian merasa bahwa momen ini sudah bisa ditebak, terutama setelah adanya ketegangan internal.

"Salah berusia 33 tahun dan waktu mulai menggerogoti kakinya. Liverpool sedang melangkah maju: jika belanja musim panas dilakukan dengan satu rencana pasti, itu mungkin untuk bermain dengan dua penyerang tengah dan Wirtz di belakangnya, yang mana bukan sistem di mana Salah secara alami bisa cocok. Ada kalanya terasa bahwa ini adalah tim pasca-Salah yang entah bagaimana masih menampilkan Salah," tulis Wilson.

Ia menambahkan: "Kepergiannya terasa tak terelakkan sejak momen ketika ia berhenti di mixed zone setelah hasil imbang 3-3 di Leeds pada Desember dan, dengan jelas merasa kesal karena berulang kali dicadangkan, bicara tentang bagaimana ia 'tidak memiliki hubungan' dengan Arne Slot. Hal ini, setidaknya, menjadi pengingat betapa pentingnya sebuah hubungan dalam sepak bola, tidak hanya dengan manajer tetapi dengan pemain lain."

"Salah beruntung selama masa puncak Liverpool ia menjadi bagian dari dua trio hebat sekaligus. Ada lini depan, bersama Sadio Mane dan Roberto Firmino, tetapi ada juga sisi kanan, bersama Jordan Henderson dan Trent Alexander-Arnold. Di antara sekian banyak bakatnya sebagai manajer, mungkin kekuatan terbesar Jurgen Klopp adalah kapasitasnya untuk menemukan keseimbangan dan harmoni internal."


Fenomena Budaya dan Kenangan Tak Terlupakan

Liverpool membuka Premier League musim 2024/2025 dengan raihan tiga angka usai mengalahkan tuan rumah berstatus tim promosi, Ipswich Town dengan skor 2-0 di Portman Road Stadium, Ipswich, Sabtu (17/8/2024). Dua gol tim asuhan Arne Slot dilesakkan Diogo Jota (60') dan Mohamed Salah (65'). Gol Mohamed Salah menjadi golnya yang ke-9 dalam laga pembuka The Reds di Premier League yang mematahkan rekor Alan Shearer dengan 8 gol. (AP Photo/Alastair Grant)

Dampak seorang Mohamed Salah tidak hanya terjadi di atas lapangan. Mantan reporter Liverpool Echo yang kini bekerja untuk ESPN, Beth Lindop, menjabarkan pengaruh besarnya di luar sepak bola.

"Selama sembilan tahun terakhir, Mohamed Salah telah menjadi fenomena budaya. Bagi suatu generasi, dialah Klub Sepak Bola Liverpool, dengan arti pentingnya membentang jauh melampaui ranah olahraga itu sendiri. Pada 2019, pemain Timnas Mesir ini tampil di sampul Majalah TIME, dan dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia," ungkap Lindop.

"Pada 2020, ia dihormati dengan patung lilin di Madame Tussauds London. Pada 2021, sebuah studi di American Political Science Review menyimpulkan transfer Salah ke Liverpool telah menyebabkan penurunan kejahatan kebencian sebesar 16 persen di kota tersebut, serta mengurangi retorika Islamofobia di dunia maya."

"Hampir tidak ada sudut di Merseyside yang tidak ditandai dengan suatu cara oleh penyerang Liverpool itu, entah itu dengan karya seni jalanan yang rumit atau dengan pemandangan seorang anak yang namanya terpampang di punggung seragam mereka. Ia menjadi bagian dari permadani wilayah tersebut, dan warisannya akan bertahan lama setelah ia mengucapkan selamat tinggal di Anfield."

"Dari sudut pandang sepak bola, kepergian Salah yang semakin dekat meninggalkan kekosongan besar bagi Liverpool untuk diisi. Pemain asal Mesir ini telah gagal memenuhi standar tingginya sendiri musim ini, jumlah 10 golnya saat ini dalam 34 laga menempatkannya di jalur untuk musim paling tidak produktifnya dalam seragam merah, tapi tetap saja hampir mustahil untuk membayangkan Liverpool tanpa dirinya."

Bicara soal memori, Dominic King dari Daily Mail tidak bisa melupakan gol debut Premier League Salah di Anfield yang begitu memukau.

"Gol pertama di Premier League yang ia cetak di Anfield terlihat seperti adegan dari gim komputer. Itu juga momen yang membuat Anda berpikir Liverpool telah merekrut seseorang yang sedikit spesial dengan harga 36,9 juta pound, mengingat kecepatan, ketenangan, dan kepastian yang ia tampilkan," kenang King.

"Dari tendangan sudut Arsenal, Liverpool mengubah pertahanan menjadi serangan dan Salah berlari dari area permainan sendiri, dikejar tiga pemain berbaju biru yang tampak malang seperti polisi berkaki timah. Semakin dekat ia ke The Kop, Anda tahu ia akan mencetak gol. Dia melakukannya. Dan dia terus akan melakukannya."


Hilangnya Ikon Utama Premier League

Kendati masih memiliki kontrak satu musim lagi, Salah dipastikan akan hengkang dengan status bebas transfer. Kesepakatan dengan pihak klub sudah tercapai lebih dulu. (AFP/Paul Ellis)

Kepergian Mohamed Salah bukan hanya kerugian bagi Liverpool, melainkan juga bagi sepak bola Inggris secara keseluruhan. John Cross dari Daily Mirror menyoroti kekosongan sosok bintang utama di liga.

"Dan kepergiannya juga akan memunculkan pertanyaan yang sangat jelas dan sulit: siapa wajah Premier League sekarang?" tulis Cross.

"Salah, 33 tahun, telah menjadi pemain itu sepanjang waktunya di Anfield. Dia adalah superstar global, nama terbesar, daya tarik terbesar, dan bisa dibilang bakat terbesar. Selama bertahun-tahun, kita telah memiliki Cristiano Ronaldo, Thierry Henry, Dennis Bergkamp, Eric Cantona, Harry Kane, Steven Gerrard, David Beckham, Eden Hazard, Kevin De Bruyne, dan Sergio Aguero."

"Sekarang kita memang memiliki Erling Haaland yang merupakan ikon Premier League dan bintang Manchester City itu akan memecahkan rekor gol selama ia bertahan di sepak bola Inggris. Namun, siapa lagi yang ada? Dua pemain terbaik Inggris, Kane dan Jude Bellingham, bermain di luar negeri. Lionel Messi tidak pernah datang ke Inggris dan Ronaldo ditakdirkan untuk pensiun di Arab Saudi."

"Sungguh sangat disayangkan, tetapi juga sebuah realitas pahit, setelah Salah pergi Premier League akan kehilangan pesona kebintangan sejati. Mereka berbondong-bondong ke La Liga bersama Real Madrid dan Barcelona daripada datang ke sepak bola Inggris. Telah terjadi pengurasan bakat."

"Adalah kekhawatiran yang nyata bahwa, dengan kepergian para pemain terhebat sepanjang masa, Premier League akan kehilangan bakat kelas dunia."


Sang 'Raja Mesir' yang Menaklukkan Merseyside

Mohamed Salah tak hanya membantu Liverpool menjuarai Premier League musim ini, tetapi juga mendapatkan penghargaan pribadi. (AFP/Paul Ellis)

Pada akhirnya, perpisahan ini akan terasa paling berat bagi para penggemar yang menganggapnya lebih dari sekadar pemain. Paul Gorst dari Liverpool Echo merangkum bagaimana Salah begitu diagungkan oleh publik Anfield.

"Sebagian besar pernak-pernik mengkilap, sepatu emas, dan medali pemenang yang berkilau di belakangnya, saat ia memberi tahu dunia tentang rencananya di akhir musim, diraih sebagai pemain Liverpool," tulis Gorst.

"Simbol-simbol kesuksesan itu sudah cukup menjadi konfirmasi betapa hebatnya Salah di sebagian besar dekade terakhir ini. Namun trofi-trofi yang dingin dan keras itu hanya menceritakan setengah dari kisah bagi para pendukung yang telah mencintainya seperti segelintir pemain lainnya."

"Selama sembilan musim terakhir, para penggemar bernyanyi dengan lantang dan bangga tentang Raja Mesir, yang berlari menyusuri sayap lapangan, dan dengan kembalinya aksi domestik pada awal April, kesempatan untuk terus melakukan hal tersebut kini akan berlalu begitu cepat bagi basis penggemar Liverpool."

Gorst kemudian menutup dengan metafora yang indah terkait kultur lokal masyarakat setempat: "Di wilayah yang secara informal dikenal oleh sebagian orang sebagai Republik Rakyat Merseyside, banyak Liverpudlian memiliki hubungan yang rumit dengan monarki. Namun, Sang Raja Mesir cukup hebat bagi mereka untuk membuat pengecualian."

Sumber: Liverpool Echo


Persaingan di Premier League

Berita Terkait